PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Sebagaimana di sejumlah daerah di Indonesia, di Provinsi Riau juga banyak pejuang dalam merebut Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang mungkin terlupakan kiprahnya. Satu dari sederet para pejuang tersebut adalah Mahmud Marzuki.
Mahmud Marzuki merupakan putra asal Kampar, Riau. Bila yang lain berjuang di medan pertempuran, Mahmud Marzuki justru berjuang melalui gerakan dakwah.
Mahmud Marzuki lahir di Bangkinang, 1911 silam. Masa kecilnya, dia memiliki keinginan yang kuat untuk menempuh pendidikan setinggi langit.
Di masa penjajahan Belanda, dia bersekolah di Velkschool di Bangkinang 1918 hingga 1921. Selanjutnya, dia melanjutkan pendidikan di Tarbiyah Islamiyah di kota yang sama hingga tamat 1934.Setelah tamat Tarbiyah, Mahmud Marzuki memiliki keinginan yang kuat untuk menempah ilmu bidang agama Islam. Masa kecil, dirinya sudah menjadi anak yatim, karena sang ayah Paki Rajo asal Bukittingi, Sumatera Barat meninggal dunia.Kondisi ekonomi keluarganya juga pas-pasan. Walau demikian semangatnya untuk menempuh pendidikan terus dia gelorakan. Berbekal tamatan Tarbiyah Islamiyah, dia bertekad untuk melanjutkan perkuliahan di luar negeri.
Dengan adanya bantuan dari beberapa warga, akhirnya pada tahun 1935 diapun meninggalkan kampung halamannya. Dia langkahkan cita-citanya menuntut ilmu agama yang lebih tinggi lagi di perguruan Islam Nazmia Arabic College Lucknow di India.Tiga tahun lamanya di India menekuni dan memperdalam ilmu filsafat dan perbandingan agama. Pada tahun 1938, usai menempuh pendidikan, dia kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Kampar. Kepulangannya disambut hangat masyarakat setempat.Berbekal ilmu agama yang dia pelajari,
Mahmud Marzuki pun lantas bertemu dengan sejumlah tokoh adat, tokoh agama, dan para gurunya di pondok pesantrennya dulu. Dia pun mengajar kembali di mana dia dulunya bersekolah.Bertahun-tahun lamanya mengajar,
Mahmud Marzuki dipercayakan oleh gurunya untuk menjadi Rois (pemilik sekolah) di pesantren Tarbiyatul Islamiyah dan sejumlah sederatan sekolah lainnya yang ada di Kabupaten Kampar."Marzuki dengan berbekal ilmunya dia berdakwah ke mana-mana. Lewat dakwah juga dia semangatkan gelora nasionalisme Indonesia," kata ahli sejarah Profesor Suwardi Muhamad Sani, beberapa waktu lalu seperti dilansir detik.com.
Pada tahun 1939, Mahmud Marzuki
masuk dalam organisasi Muhammadiyah di pengurusan ranting. Masuknya Mahmud Marzuki ke organisasi Muhamadiyah, ternyata menjadi ihwal perpecahan dengan gurunya sendiri Buya Haji Abdul Malik. Paham Muhamadiyah dianggap tidak satu aliran dengan pesantren Tarbiyatul Islamiyah. Sejak itu, sang guru melarangnya untuk mengajar di pondok pesantrennya.Sekitar tahun 1940 dia pun lewat istri dari gurunya, Salamah, disarankan untuk mengajar ke Payakumbuh, Sumatera Barat. Salamah mengerti betul perbedaan pandangan antara suaminya dengan muridnya itu. Atas sarannya, Mahmud Marzuki akhirnya 'hijrah' ke tanah Minang.Di Bumi Bundo Kanduang itu, Mahmud Marzuki terus berdakwah dan mengajar. Tak lama, dia pun dipercayakan sebagai Pimpinan Cabang Muhamadiyah di Bangkinang, setelah dia kembali dari Bukittinggi."Marzuki juga sempat bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Minangkabau, seperti Buya Hamka, Buya Alimin, Buya Rasyid dan banyak lagi," kata Suwardi.Pada tahun 1942, ketika Jepang berkuasa, masyarakat Bangkinang menunjuknya sebagai salah satu pemimpin perjuangan. Saat itu banyak masyarakat yang disiksa Jepang dan kondisi masyarakat di Kampar sangat kacau.Sebenarnya, kala itu banyak tokoh-tokoh lainnya. Namun, Mahmud Marzuki
dianggap masyarakat sebagai tokoh yang dapat mempersatukan."Untuk menghadapi kondisi seperti itu, masyarakat membutuhkan orang pemimpin yang dapat menyatukan masyarakat dalam menghadapi Jepang. Dan pemimpin itu adalah Mahmud Marzuki," tulis Suwardi dkk dalam bukunya berjudul "Biografi Calon Pahlawan Nasional Mahmud Marzuki Sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia".Selama peralihan penjahan Belanda ke Jepang dalam perang dunia ke II, kondisi masyarakat di Kampar di bawah tekanan. Awalnya kehadiran Jepang disambut hangat karena dianggap sebagai penyelamat dari jajahan Belanda."Pada saat itu Marzuki dipanggil dari Payakumbuh untuk menjadi anggota Su Sangi Kai (sejenis Parlemen) tingkat provinsi dari masyarakat Kampar. Bahkan Jepang tidak meragukan terhadap Marzuki," tulis buku biografi Mahmud Marzuki.Namun pada akhirnya, keberadaan Jepang justru membuat kekacauan di Kampar. Dan Mahmud Marzuki pun bersama rakyat melawan atas penjajahan itu.Sejarah mencatat, Mahmud Marzuki adalah tokoh pengibar bendera Merah Putih pertama kali di Provinsi Riau. Dia juga merupakan tokoh yang mengabarkan kemerdekaan kepada masyarakat Kampar ketika berkhotbah selepas shalat Ied di Lapangan Tengah Sawah Simpang Kubu, Air Tiris pada 6 September 1945.***
Editor:Muhammad Amin Nasution