Home > Berita > Umum

Jemaah Tarekat Syattariyah di Sumbar Merayakan Hari Raya Iduladha pada 19 Juni 2024, Lebih Lambat Dua Hari dari Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah. Begini Dasar Penghitungannya

Jemaah Tarekat Syattariyah di Sumbar Merayakan Hari Raya Iduladha pada 19 Juni 2024, Lebih Lambat Dua Hari dari Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah. Begini Dasar Penghitungannya

Masjid Tarekat Syattariyah

Selasa, 18 Juni 2024 05:22 WIB

PADANG PARIAMAN, POTRETNEWS.com - Jika Naqsabandiyah di Kota Padang melaksanakan shalat Iduladha pada Sabtu (15/6/24) disusul pemerintah, NU, dan Muhammadiyah pada Senin (17/6/24), lain pula jamaah Tarekat Syattariyah. Jamaah tarekat yang berbasis di Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) ini justru akan merayakan Hari Raya Iduladha pada Rabu (19/6/24).

"Kita akan merayakan Hari Raya Iduladha pada Rabu (19/6) besok. Itu serentak untuk seluruh Tarekat Syattariyah di Sumbar," kata Pimpinan Tarekat Syattariyah Ulakan, Tuanku Ali Amran, Jumat (14/6/24) lalu, dilansir detik.com.

Tuanku Ali menyebut keputusan pelaksanaan Hari Raya Iduladha Tarekat Syattariyah berdasarkan perhitungan dengan metode hitung hisab Taqwim Khamsiah. Sementara saat dihitung, Hari Raya Iduladha jatuh pada hari Rabu.

"Hari Raya kita memang agak lambat dari yang lain. Karena kita menentukan Iduladha dengan cara hisab Taqwim Khamsiah. Di sana saat kita kaji, Iduladha kita jatuh hari Rabu. Maka kita putuskan di hari itu," ungkapnya.

Sementara sebelum pelaksanaan Hari Raya Iduladha, Tarekat Syattariyah menurut Tuanku Ali juga tidak akan melaksanakan maniliak (melihat) hilal atau bulan saat matahari tenggelam. Sehingga ada perbedaan cara penentuan Hari Raya Idulfitri dan Idul Adha.

"Kita untuk Iduladha ini tidak mengadakan maniliak bulan. Itu diadakan cuma saat menentukan kapan puasa dan Hari Raya Idulfitri. Jadi untuk ini, kita cuma menghitung dengan metode kepercayaan kami. Jadi kalau ketemu hitungannya, hari itu kami melaksanakannya," jelasnya.

"Sementara untuk masyarakat kami Tarekat Syattariyah juga sudah mengetahuinya juga, kapan kami melaksanakan Hari Raya Iduladha. Sedangkan untuk pusat pelaksanaannya salat kami, itu di pusatkan dekat Makam Syekh Burhanuddin dan seluruh Surau yang mengikuti kepercayaan kami. Sementara usai salat, setiap Surau akan memotong hewan kurban," sambungnya.

Walau berbeda pelaksanaan Hari Raya Iduladha dengan umat Islam yang lain, Tuanku Ali mengajak masyarakat untuk saling menghormati kepercayaan masing-masing umat. Menurutnya perbedaan tidak harus dijadikan perpecahan di tengah masyarakat.

"Kita menghormati keputusan umat Islam yang lain kapan menentukan Hari Raya Iduladha nya. Ada yang dulu dan ada yang lambat seperti kita. Namun itu tidak perlu kita jadikan masalah, kita harus menghargai kepercayaan masing-masing masyarakat," tutupnya.***

Editor:
Muhammad Amin Nasution

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id