Hari Lahan Basah Sedunia, PHR Turut Serta Jaga Ekosistem Gambut di Pulau Terluar Indonesia
![]() |
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan saat melaksanakan aksi penanaman pohon berkolaborasi dengan KLHK dan BRGM di Pulau Pedang, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti. |
”Mudah-mudahan kita semua dapat terus berkolaborasi dalam mendukung kelestarian lingkungan khususnya di Provinsi Riau. Peran serta kita semua sangat berarti untuk alam,” kata Plt Kadis LHK Riau, Job Kurniawan.Corporate Secretary PHR WK Rokan, Rudi Ariffianto mengungkapkan bahwa selain berfokus pada operasi dalam mendukung ketahanan energi, PHR juga terus berikhtiar dalam menjaga lingkungan.”PHR memiliki program TJSL yang berfokus pada 4 pilar, yakni pendidikan, pemberdayaan ekonomi, lingkungan hidup dan kesehatan. Penanaman pohon bersama KLHK ini merupakan salah satu upaya PHR untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Semoga alam tetap lestari, saat ini dan hingga nanti,” katanya melalui keterangan tertulis kepada potretnews.com.Pada kegiatan tersebut, Kepala BRGM Hartono menyatakan bahwa lahan basah, termasuk gambut dan mangrove, memiliki manfaat yang sangat besar, sehingga perlu dikelola secara bijak. BRGM dan Kementerian LHK bekerja sama dengan masyarakat dalam pelaksanaan penanaman di lahan gambut dan mangrove untuk mendorong keberlanjutan pengelolaan pada masa depan.”Sagu yang kami tanam hari ini, selain bisa membantu dalam menahan air agar gambut tidak terbakar juga dapat mendukung ketahanan pangan melalui diversifikasi," ujarnya.Dijelaskannya bahwa penanaman sagu di Pulau Pedang memiliki empat tujuan utama. Pertama; untuk mencegah kebakaran dan mengurangi emisi dari lahan gambut, baik yang disebabkan oleh kebakaran maupun dekomposisi gambut.Kedua; sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar, karena sagu merupakan tanaman dengan nilai ekonomi yang tinggi. Dan ketiga; sebagai upaya untuk mencegah terjadinya bencana yang disebabkan oleh penurunan permukaan tanah (land subsidence).Sebagai informasi, ekosistem lahan basah gambut dan mangrove di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dengan ekosistem gambut seluas 13,9 juta hektar (ha) dan mangrove seluas 3,36 juta ha. Kedua ekosistem tersebut memiliki peran penting dalam menyediakan berbagai manfaat nilai intrinsik dan fungsi kehidupan, seperti menyimpan cadangan karbon, memberikan perlindungan dari bencana alam, menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati, serta memenuhi berbagai kebutuhan manusia yang memiliki nilai ekonomi, termasuk dalam sektor eco-tourism.Pada tanggal 2 Februari 2024, dunia merayakan Hari Lahan Basah dengan tema "Wetlands and Human Wellbeing," yang menekankan pentingnya pelestarian dan pengelolaan lahan basah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sehari-hari.Peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan ekosistem gambut dan mangrove.***

























