Home > Berita > Umum

Saat Saleh Djasit Nostalgia Kala Jadi Gubernur Riau Periode 1998-2003

Saat Saleh Djasit Nostalgia Kala Jadi Gubernur Riau Periode 1998-2003

Gubernur Riau periode 1998-2003 Saleh Djasit saat menerima pengurus PWI Riau, Senin (22/1/2024). (F-PWI RIAU)

Senin, 22 Januari 2024 16:20 WIB
Abdul Roni
PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Gubernur Riau periode 1998-2003 Saleh Djasit menerima anjangsana Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di kediamannya di Komplek Perumahan Pemda Riau, Jalan Cemara Gading Pekanbaru, Senin (22/1/2024) pagi. Dalam pertemuan itu, Saleh lebih banyak bercerita kenangan saat menjadi orang nomor satu di provinsi berjuluk Bumi Lancang Kuning ini.

Purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir brigadir jenderal (brigjen) itu terlihat gembira dan langsung mengingat ”pertemanannya” dengan wartawan di Riau saat menjabat sebagai gubernur maupun bupati (pernah memimpin Kampar dua periode yakni; 1986-1991 dan 1991-1996).

”Terima kasih atas kunjungannya, ini sangat spesial, bertemu dengan orang-orang pers yang dulu sama-sama berjuang untuk Riau. Saya kenal wajah-wajah pengurus PWI ini, cuma mungkin namanya saya tidak ingat betul,” ujarnya berterus terang.

Tokoh kelahiran Pujud, Kabupaten Rokan Hilir, 13 November 1943 itu mengungkapkan perjalanannya sebagai Gubernur Riau di awal reformasi. Perubahan besar dalam pemerintahan ketika itu, juga menjalar ke Riau. Sebagai wakil pemerintah pusat di daerah, membuat dirinya sebagai gubernur juga harus menyesuaikan dengan kondisi saat itu.

”Posisi saya waktu itu lumayan sulit, karena pada saat itu, juga bergema tuntutan Riau Merdeka. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, tentu saya harus pandai-pandai menempatkan diri. Apalagi tokoh Riau merdeka saat itu adalah Prof Tabrani Rab, yang juga kawan saya,” tutur Saleh Djasit mengenang sambil mengingat potongan-potongan peristiwa unik dan patriotisme orang Riau dalam memperjuangkan kepentingan daerah.

Meski begitu, imbuh Saleh, hasil reformasi itu kini sudah dinikmati oleh masyarakat, kemajuan pembangunan sudah terlihat termasuk dimulainya pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatra di era Jokowi dan kini Riau menjadi simpul penting dalam arus transportasi tersebut.

”Dulu, ide membangun jalan tol di Riau itu sudah ada, sering dibahas, bahkan sempat ditawarkan ke investor Malaysia. Namun meski beberapa kali dibahas, jalan tol itu tidak terwujud, apalagi investasi Malaysia menetapkan standar minimal kendaraan yang lewat 50 ribu. Dan itu mustahil, karena saat itu, jangankan 50 ribu, untuk mencapai 10 ribu kendaraan saja sulit,” ujar suami dari Ny Mardalena itu.

Bahkan saat ini, jelasnya, jalan tol Pekanbaru - Dumai sudah menjadi yang terpadat di Sumatera, dengan rata-rata kendaraan 16 ribu. Begitu juga tol Pekanbaru - Bangkinang yang sangat bermanfaat untuk kemajuan Riau.

”Sekarang saja masih 16 ribuan kendaraan, kalau syaratnya harus 50 ribu lebih kendaraan, mungkin jalan tol di Riau tidak akan pernah ada. Tapi keberanian Presiden Joko Widodo sudah mengubah mimpi itu, kini jadi kenyataan,” kata ayah dari 3 anak ini.

Pada kesempatan itu, Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar mengatakan, jelang Hari Pers Nasional, Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau melakukan berbagai kegiatan termasuk anjangsana kepada tokoh - tokoh Riau yang berjasa terhadap kemajuan pers di Riau.

”Di mata kami, Bapak (Saleh Djasit) merupakan salah satu tokoh Riau yang berjasa dalam kehidupan pers Riau dengan berbagai kebijakan yang mendukung pertumbuhan pers dan media massa,” ujar Raja Isyam.

Turut hadir menemani Raja Isyam dalam pertemuan tersebut, antara lain; Ketua Dewan Penasihat PWI Riau Kazzaini Ks, Anggota Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Riau Mario Abdillah Khair, serta beberapa pengurus harian PWI Riau. ***

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id