Mosthamir Berhasil Jadikan Sastra sebagai Suara Masyarakat
![]() |
Dr Husnu Abadi MHum menjadi narasumber Diskusi literary Banteng Bersayap Kupu-kupu karya Mosthamir Thalib di Perpustakaan Wilayah Riau, H Soeman Hs, Pekanbaru (24/06/2023). (F-IST) |
Hasan punya tanah
A San datang menumpang
Hasan pinjamkan serambi rumah
A San buka kedai kelontongan
Hasan gadaikan sawah
A San pinjamkan utang
Hasan tambah susah
A San sudah melenggang
Hasan semakin payah
A San sudah ongkang-ongkang
PEKANBARU, POTRETNEWS.com – Ahli hukum sastra Dr Husnu Abadi MHum memulai dengan membacakan puisi pendek berjudul Igal-igalan Hasan dan A San ini yang dimuat buku Banteng Bersayap Kupu-kupu karya Mosthamir Thalib saat memulai bentangkan mindanya pada diskusi literary buku tersebut di Perpustakaan Wilayah Riau, H Soeman Hs, Pekanbaru (24/06/2023).
“Banteng Bersayap Kupu-Kupu karya Mosthamir Thalib merupakan karya yang tidak hanya mengandung keberanian. Namun begitu kritiknya masih terasa santun, karena dibungkus dengan kejenakaan dan simbol-simbol. Di sini pula kelebihan Mosthamir, mengkritik dengan menggelitik. Pengarangnya berhasil menjadikan karya sastra sebagai suara masyarakat,” kata Husnu Abadi.Sesaat usai Husnu Abadi bacakan puisi Igal-igalan Hasan dan A San ini, Hj Azlaini Agus yang merupakan Srikandi tokoh perjuangan masyarakat Riau langsung ‘nyeletuk’, “Itu, nama kedua orang itu, keduanya tetangga saya,” ujarnya, disambut terkikik narasumber dan peserta diskusi lainnya.Selain Azlaini Agus, pada acara yang ditaja Komunitas Riau Sastra ini dihadiri juga tokoh Riau lainnya, diantaranya tampak tokoh perempuan Riau dr Diana Tabrani, putri tokoh Riau Merdeka Prof dr Tabrani Rab.Menurut Husnu, Mosthamir masih membungkus dengan jenaka dan simbol-simbolnya dibanding penyair pendulu Riau Eddiruslan Pe Amanriza sebelumnya, yang mengkritik pusat dengan suara lebih lantang dalam puisinya Akan Berpisah juga Akhirnya Kita Jakarta. Husnu lalu membaca petikannya,kau terlihat semakin angkuh
tak tersentuhsetelah 55 tahun bersama
nyatanya
tak sehari pun kami merasa bahagia
hidup kami sepanjang tahun
asyik dirundung duka nestapaakan berpisah jua kita akhirnya, Jakarta
karena sejak hari ini
kami tak lagi percaya
pada janji-janji yang penuh dustaakan berpisah jua kita akhirnya, Jakarta
bila kau tak bertimbang rasa
atas ribuan jenis kayu
yang ranap kau tebangdari hutan belantara kami yang rindang
dan meninggalkan lingkungan yang lintang pukang“Mungkin bagus juga puisi Eddiruslan ini dibacakan orang Riau setiap kali Milad Provinsi Riau,” ujar Husnu Abadi.Menurut Husnu, awal-awal perjalanan puisi Mosthamir banyak bicara soal pribadi, kemudian dengan cerita jenakanya Telatah Wak Atan. Baru terakhir-akhir ini tampak agak meledak-ledak dengan puisi kritik sosial.WS Rendra, ulas Husnu, awal-awalnya begitu juga, dia menulis puisi-puisi cinta penuh romantika, yang lebih banyak tertuju pada dirinya sendiri dan lingkungan cinta sekitar dirinya. “Baru masa pertengahan Orde Baru dia mulai puisi yang kritis terhadap pemerintah. Diantaranya dengan Sebatang Lisong. Hebatnya, buku puisinya laku dan banyak mendapat sambutan,” tuturnya. Selain Husnu Abadi dari Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR), tampil juga sebagai narasumber Prof Dr Drs Abdul Malik MPd dari Univeritas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang, Dr Muchid Albintani MPhil dari FISIP Unri, pada diskusi Banteng Bersayap Kupu-kupu yang covernya dirancang Abid Hidayatullah ini. Lalu Assistant Professor Dr Bambang Suhartono bin Mohd Said yang hadir secara virtual dari Southern University College, Johor, Malaysia. ***

























