BENGKALIS, POTRETNEWS.com — Lapangan Pasir, di Jalan Sudirman Bengkalis merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi masyarakat, bukan saja masyarakat tempatan, juga pengunjung yang berasal dari luar Provinsi Riau. Tanpa bayaran, pengunjung bisa leluasa datang kapan saja, setiap waktu ke hamparan timbunan pasir masa Bupati Syamsurizal memimpin kabupaten yang dahulu dikenal dengan sebutan Kota ”Terubuk” Tertib, Rukun, Budaya, Kenyamanan ini untuk menatap lepas ke Selat Bengkalis atau menikmati Sunset Tika Mentari Terbenam dengan cakrawala merah jingganya.
Hadirnya pengunjung ke lokasi refreshing bersama keluarga, teman, maupun sendirian otomatis menjadi keberuntungan bagi para pedagang di sekitar lokasi yang telah pula dibangun tulisan I Love Bengkalis masa Amril Mukminin memimpin Negeri Junjungan ini. Begitulah yang dirasakan Iswandi (51 tahun) yang telah menjadi pedagang di Lapangan Pasir, Bengkalis sejak 4 tahun terakhir karena posisi tempat dirinya bersama istri dan anak-anaknya menjual berbagai minuman segar, minuman hangat serta makanan tepat berada di sisi kanan tulisan tadi.Rasa senang karena pengunjung datang dan memesan apa yang dia jual sering kali terselip rasa bersalah saat tamunya menanyakan keberadaan musala atau masjid bagi sang tamu mendirikan salat, menunaikan kewajiban, mengungkapkan syukur atas nikmat pemandangan di Lapangan Pasir tadi.”Setiap orang yang datang berkunjung ke sini kadang-kadang mau makan, mau apa, pas waktu salat selalu bertanya di mana mushola ataupun masjid. Saya tunjukkan di (Masjid Agung) Istiqomah atau dekat Taman Air Panas Andam Dewi. Cuman karena di sebelah (mushola)nya (di Taman Air Panas) ada jualan minuman, sehingga mereka tidak mau. Oleh karena itu, aku sebagai pedagang di sini meminta satu buah mushola di sekitar tempat jualan ini. Menurut saya sebagusnya di Simpang Capcin dan Lapangan Pasir itu yang ada lokasi kosong, di sebelahnya itu kan bisa entah ke depannya sedikit," kata Iswandi kepada potretnews.com, Selasa (30/05/2023) malam.
"Selain sebuah musala dengan ukuran biasa saja, juga dilengkapi dengan tempat berwudhu dan MCK (mandi, cuci, kakus). Untuk penjaganya carilah orang-orang yang betul-betul," harap Iswandi dengan wajah penuh harap. Kalau masalah dana untuk bayar gaji penjaganya menurut Iswandi bisa dikutip dari pedagang-pedagang di sekitar ini secara sukarela."Entahkan 10.000 rupiah, itu kan bisa dipinta setiap hari dari para pedagang di sini, tak mungkin mereka merasa keberatan. Saya sendiri tidak keberatan jika dikutip dana karena saya yang berusaha, saya yang meminta, istilahnya saya yang memperjuangkan (musala) itu demi untuk kebaikan bersama," pungkasnya."Tamu-tamu yang datang di warung kami itu berasal dari Jakarta, Duri, Dumai, pokoknya orang dari luar daerah Pulau Bengkalis. Ada rasa bersalah saya karena Lapangan Pasir ini salah satu tempat wisata di Kota Bengkalis ini, sehingga diperlukan tempat beramal tapi tidak ada maka dari itu sudah beberapa tahun saya minta belum dibangun. Walaupun saya tidak menjadi pengurus mushola tersebut tapi untuk masyarakat lainnya," terang Iswandi.Jika saja pemerintah Kabupaten Bengkalis maupun orang pribadi mau membangun musala tadi Iswandi mengucapkan terima kasih karena sudah dibangun mushola untuk bersama-sama.***