Home > Berita > Umum

Dikukuhkan Senat Universitas, Rektor Unilak Sah Jadi Guru Bedsar Bidang Kajian Budaya

Dikukuhkan Senat Universitas, Rektor Unilak Sah Jadi Guru Bedsar Bidang Kajian Budaya
Rabu, 10 Mei 2023 08:02 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau, Prof Dr Junaidi SS MHum resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unilak oleh Sekretaris Senat Unilak, Dr Dedi Zargustin, Selasa (9/5) di Aula Pustaka Unilak. Junaidi meraih prestasi gelar akademik menjadi guru besar ke-35 perguruan tinggi swasta di LLDikti Wilayah X meliputi; Sumbar, Riau, Kepulauan Riau (Kepri), dan Jambi. Nilai angka kredit 1138 Prof Junaidi menjadi yang tertinggi di LLDikti Wilayah X, dan menjadi guru besar satu-satunya di Riau Kajian Budaya.

Pengukuhan guru besar Prof Junaidi ini dikemas dengan serangkaian acara seni pertunjukan adat budaya Melayu Riau. Dimulai dengan arak-arakkan senat universitas dengan kompang sembari berselawat kepada Nabi, kemudian pencak silat, prosesi tepuk tepung tawar yang akan dilakukan oleh Datuk-datuk dari LAMR dan beberapa tokoh Riau lainnya serta pemasangan tanjak kepada Prof Dr Junaidi oleh Ketua MKA LAMR, Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf.

Adanya unsur seni pertunjukan adat budaya Melayu dan merupakan komitmen Unilak untuk mewujudkan visi Unilak Unggul berlandaskan Budaya Melayu. Tentu saja, simbol-simbol dari prosesi adat dan budaya Melayu kami kedepankan dalam serangkaian prosesi pengukuhan nantinya.

Prosesi tepuk tepung tawar dimulai oleh Wakil Gubernur Riau (Wagubri), Brigjen TNI (purn) Edy Natar Nasution dan diikuti dengan Ketua MKA LAMR, Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, dan tokoh lainnya. Sebelum dikukuhkan, terlebih dahulu dilakukan pemutaran riwayat hidup.

Dalam sambutannya, Prof Junaidi menyampaikan, capaian dan keberhasilan ini banyak jasa orang-orang kepada dirinya, terutama guru-gurunya dari SD, SMP, dan SMA. Dan tentu saja para pembimbingnya, dosen ketika kuliah di S-1, S-2, dan S-3. Guru dan dosen-dosen telah membimbingnya menjadi seorang pembelajar yang tekun yang memiliki kemampuan yang kuat untuk meraih cita-cita.

”Terima kasih bapak ibu guru dan dosen yang telah mengantarkan saya menjadi seorang guru besar. Tentu peran keluarga sangat besar dalam capaian yang saya raih dalam capaian ini. Terima kasih pada orang tua, abang, kakak saya, terima kasih pada istri dan anak-anak saya. Semoga raihan prestasi ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua," Junaidi.

Adapun topik dalam pidatonya menyampaikan ”Industri Budaya: Jelajah Kajian Budaya ke Managemen”. Tajuk itu dipilih sesuai dengan penjelajahannya dalam dunia akademik. Minat pada kajian budaya semakin menguatkan dirinya untuk mendalaminya secara serius sehingga pada akhirnya ia meraih profesor dalam kajian budaya.

”Saya mengenali kajian budaya pada saat kuliah di Program S-1 Sastra Inggris Universitas Padjajaran Bandung. Saat itu, saya merasakan sangat sulitnya untuk memahami pemikiran-pemikiran kajian budaya. Namun dengan bimbingan dosen-dosen saya mulai memahami kajian budaya,” katanya.

Junaidi mengungkapkan, ketika kuliah S-2 di Program Studi American Studies, ia sangat tertarik dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner yang digunakan dalam penelitian American Studies.

”Saat itu saya merasakan kesesuaian dengan pikirannya dalam memandang ilmu secara fleksibel dan terbebas dari prinsip-prinsip disiplin yang kaku. Kelenturan kajian budaya untuk bisa bergabung dengan disiplin lain telah memuaskan minat akademik dirinya,” ungkapnya.

Kemudian dia menyampaikan, pada masa kuliah Media Studies of Malaysia Kuala Lumpur. Dirinya, semakin menikmati menggunakan lensa kajian budaya untuk membantu memandang berbagai persoalan dan terus berupaya untuk membawa kajian budaya ranah disiplin lain.

”Ketika saya ngambil S-3 saya coba mix melakukan dua metode kualitatif kuantitatif yang belum lazim di Indonesia. Pada waktu itu teman-teman di Indonesia pun menganggap itu sesuatu yang tidak mungkin menggabungkan kualitatif dan kuantitatif tapi pada saat itu saya bisa menggabungkan itu sehingga saya pun lulus ya dengan menggunakan mix method yang tahun 2005,” ucapnya.

Oleh karena itulah, mengapa dirinya memilih tajuk industri budaya. Sebab, Prof Junaidi berpandangan bahwa kehadiran industri dan budaya menimbulkan perubahan yang besar dan rencana hidup manusia industri budaya menghasilkan produk-produk budaya yang dinikmati banyak orang dan telah menghasilkan nilai ekonomi yang juga sangat besar.

Wagubri Brigjen TNI (Purn) Edy Natar Nasution yang hadir dalam acara pengukuhan itu menyampaikan ucapan selamat kepada Prof Dr Junaidi SS MHum yang telah dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unilak.

”Unilak menunjukkan untuk selalu meningkatkan kualitas dosen pengajarnya guna semakin lebih baik. Sehingga di masa yang akan datang Unilak mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki daya saing dimasa yang akan datang," ujar Wagubri.

Ditambahkannya, pengukuhan guru besar ini untuk menciptakan SDM-SDM yang unggul, berdaya saing pada sebuah perguruan tinggi. Menjadi seorang guru besar bukanlah akhir dari pencapaian karier seorang dosen, akan tetapi justru menjadi spirit yang senantiasa membangkitkan inspirasi baru guna melahirkan karya-karya yang lebih berlian dan bermanfaat bagi khalayak umum khususnya bagi Unilak.

Saat ini Guru Besar Unilak sudah ada dari Fakultas Pertanian yaitu Prof Dr Syafrani, kemudian Fakulas Hukum oleh Prof Dr Sudi Fahmi, dan Fakultas Ilmu Budaya Prof Dr Junaidi.

Turut hadir dalam pengukuhan ini istri, anak-anak, keluarga besar dari Prof Junaidi, Wakil Rektor I Dr Zamzami, Wakil Rektor II Hardi SE MM, Wakil Rektor III Dr Bagio Kadaryanto, Wakil Ketua DPRD Riau Hadianto MM, Anggota DPR RI Dapil Riau, Arsyadjuliandi Rahcman, dan sejumlah pejabat dan tokoh Riau serta guru SD, SMP, dan SMA tempat Prof Junaidi mengenyam pendidikan di Bangkinang.***

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id