BENGKALIS, POTRETNEWS.com — Festival Budaya Lampu Colok Tahun 1444 Hijriah/2023 Masehi telah usai, telah diumumkan pemenangnya, dan telah pula diserahkan hadiahnya kepada 6 Menara Lampu Colok sang juara. Secara khusus, wartawan media ini melakukan wawancara dengan seorang juri SPN Musrial Mustafa, diantara dua juri yaitu Drs Baharuddin dan Ahmad Sumadi dari Polres Bengkalis.
”Dapat saya sampaikan bahwa Festival Budaya Lampu Colok tahun 2023 ini, saya secara pribadi sangat takjub dengan antusias peserta dan juga dengan hasil kreativitas para peserta yang begitu baik dan dengan jumlah peserta yang sangat jauh meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Semua menara mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam mempersiapkan susunan lampu coloknya. Kemudian mungkin dari 6 peserta, ini adalah yang terbaik dari 29 peserta yang terdaftar di Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbutpora) Kabupaten Bengkalis di tahun 2023 ini," kata Musrial Mustafa dengan embel-embel seni di belakang namanya SPN, Seniman Pemangku Negeri kepada
potretnews.com, Rabu (3/5/2023) malam tadi.”Dapat saya sampaikan khususnya bagi peserta Festival Budaya Lampu Colok ini, ada 12 item penilaian yang dinilai oleh dewan juri yang digolongkan ke dalam empat bagian. Bagian pertama yaitu lebar menara, tinggi menara, kerapian menara. Ini ada rentang nilainya. Kemudian, ada kekuatan menara, keamanan dan kebersihan lingkungan menara. Kemudian dari segi kekompakan para pengurus dengan perangkat desa dan masyarakat desa, ini juga menjadi penilaian,” katanya.Kemudian, tutur dia lagi, jumlah colok yang ditampilkan atau partisipasi dari satu menara itu. Jumlah colok yang banyak itu menjadi penilaian yang lebih juga dari minimal lampu colok tahun ini adalah 2.500 kaleng atau colok atau pelita. Ada rentang nilai yaitu 60-75 untuk partisipasi ini, kekompakkan masyarakat, kemudian jumlah lampu colok. Dan yang paling penting, ada satu bagian yaitu desain gambar, tema yang diangkat yaitu Aidil Fitri dan bulan Ramadan adalah bertemakan Islami. Ada lagi satu kolom penilaian yaitu benda alam. Setiap menara itu harus menampilkan benda alam seperti ada awan, ada bintang, ada bulan dan bukan sekedar menampilkan bulan, bulan sabit kah atau awan yang tersusun indah, bintang pun harus punya makna atau filosofi seperti Juara III Menara Lampu Colok Penawar Laut Selatbaru yang memiliki kelebihan di benda alam ini walaupun dari jumlah nilai yang lain ada yang membuat mereka jatuh pada juara III. Sebanyak 12 item penilaian ini untuk para peserta lomba harus komplit, bukan hanya keindahan lampu colok saja, bukan kebersihan di lokasi saja, tetapi ke-12 item ini haruslah komplit ditampilkan oleh para peserta lomba.
”Kemudian dapat saya sampaikan juga bahwa masing-masing menara ini ada yang membuat spot foto, ada UMKM, ada menampilkan musik dan segala macamnya, ini bukan menjadi nilai yang berbentuk angka tetapi adalah nilai tambah apabila ada terjadi nilai yang hampir berimbang, bukan sama, hampir berimbang diantara menara peserta lomba tadi, juri akan melihat apa kreativitas lain yang ditampilkan oleh setiap peserta. Mungkin ada yang meragukan pada kolom kekompakan,” ucapnya.Kekompakan ini, kata Musrial, sudah banyak peserta yang melakukan. Mereka menyambut dewan juri, bukan dewan juri mau disambut tetapi mereka menampakkan kekompakan dan partisipasi masyarakat bersama perangkat desa dengan panitia dan pengurus lampu colok ini. Dewan juri disambut dengan kompang atau hadrah atau rebana. Kemudian disiapkan meja bagi dewan juri untuk menilai, disiapkan sinopsis tentang tema yang diangkat di menara tadi. Mungkin peserta di menara-menara lain melupakan hal ini. Kemudian para pengurus, pemuda pemudi di lokasi ini mereka berbaju seragam, berbaju batik seragam atau berbaju kaos seragam, berpeci menampakkan kekompakan. Mereka siap menyampaikan apa tema yang diusungkan dalam setiap desain gambar di menara mereka.
Saat ditanyakan di antara puluhan menara peserta Festival Budaya Lampu Colok Tahun 2023, adalah menara yang sangat membuat beliau terkesan yang dijawabnya ada satu menara yang membuatnya sangat terkesan.”Ada satu lokasi di daerah Kecamatan Bukitbatu tepatnya di jalan lingkar kalau tidak salah saya di daerah Kampung Jawa. Pengurus yang melakukan pengerjaan menara lampu colok ini adalah anak-anak yang saya rasa masih remaja, masih anak-anak SMP atau anak-anak SMA tetapi mereka membuat menara, mengikuti lomba, dan memeriahkan Aidil Fitri ini dengan penuh semangat sekali. Ada semangat mereka untuk berbuat walaupun di dalam semak yang baru ditebas alakadarnya, tetapi semangat mereka untuk berbuat ini yang mendapat aplus dari dewan juri. Mereka belum pernah ikut pada tahun-tahun sebelumnya, lokasinya juga agak jauh dari kota Sungaipakning, di ujung jalan lingkar. Saya rasa masyarakatnya tidak begitu ramai jumlah KK-nya," puji Musrial dengan wajah penuh semangat.Selanjutnya, SPN Musrial Mustafa melalui media ini menumpahkan harap, terkesan sedikit meratap. ”Saya berharap kepada Dinas Parbudpora Kabupaten Bengkalis, khususnya di Bidang Budaya, bahwa untuk menjadikan sebuah menara dengan desain gambar yang indah memerlukan jumlah kaleng atau pelita yang tidak sedikit, baru kelihatan desainnya akan terwakilkan. Dan proses pembuatan menara ini bukan satu pekan dua pekan, tapi begitu lama, mungkin 1, 2, atau 3 bulan sebelum itu mereka sudah mempersiapkan sesuatunya. Dari mulai mencari kayu, membersihkan lokasi, merakit kaleng menjadi pelita, memasang sumbu, dan segala macamnya. Kalau kita tarik-tarikan dengan jumlah dana yang mereka keluarkan mungkin tidak berimbang dengan besarnya jumlah hadiah untuk para pemenang. Jadi saya menghimbau, bagaimana tahun yang akan datang, hadiah ini ditingkatkan sebagai bentuk perwujudan kepedulian kita dalam bersama menjaga dan melestarikan tradisi Lampu Colok ini. Satu menara itu, baru kelihatan indah dan berbentuk dan jadi indah dipandang, saya rasa, 40 sampai 50 juta rupiah baru bisa menjangkau apa yang ingin disampaikan oleh desain grafis dari sebuah menara. Jadi mungkin dari situ, Dinas Parbudpora bisa mengagak-agak, kira-kira berapa hadiah yang disiapkan bagi para pemenang," katanya beramanah.Kemudian dirinya berharap, jumlah pemenang ini ditambahkan lagi, mungkin tahun hadapan sampai sepuluh pemenang karena tahun ini saja juri sangat sulit untuk menentukan pemenang dengan jumlah perolehan angka sangat tipis. Ada kelebihannya di desain gambar, keindahan di lampu coloknya, ada kelebihannya pada kekompakan masyarakatnya, ada kelebihannya pada keamanan menaranya dan kebersihannya dengan taman-taman yang indah.
”Jika perlu tahun yang akan datang ini, Disparbudpora Kabupaten Bengkalis mengadakan lomba keindahan untuk taman tetapi peserta lomba ini harus mempunyai menara Lampu Colok, baru mereka bisa mengikuti lomba taman ini," harap Musrial Mustafa di akhir wawancara kala azan Isya mula menggema di corong masjid di lingkungan sekolah YPPI Bengkalis.***