Inilah Asal-usul Kelok 9, Ruas Jalan Populer di Sumatra Barat yang Ada Sejak Zaman Belanda
![]() |
Sesuai dengan namanya, Kelok 9 merupakan jembatan layang yang memiliki daya tarik berupa sembilan tikungan. Tikungan-tikungan tersebut hanya berjarak sekitar 30 meter. Apabila ditinjau dari asal-usulnya, dahulu Kelok 9 terlalu rawan dengan adanya bencana longsor pada 2003. Sampai akhirnya, Kelok 9 dibangun san selesai pada 2013 sebagai sebuah jalan layang sepanjang 1,5 kilometer untuk mengatasi masalah jalan sebelumnya.Semenjak itu, Kelok 9 menjadi satu ikon megah di Provinsi Sumatera Barat. Untuk para wisatawan yang melintasi jalan ini, biasanya akan langsung terpukau dengan keindahannya. Bahkan, sering kali mereka menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sambil menikmati keindahan alam dan berfoto. Kelok 9 bahkan mempunyai beberapa spot foto menarik dengan berbagai latar, di antaranya; pemandangan bukit, lembah, hutan hijau, dan jembatan.Di samping itu, di sepanjang jalan juga ada banyak warung yang bisa digunakan untuk tempat bersantai. Warung-warung ini menjajakan aneka makanan, seperti makanan khas Minang sampai jajanan jagung bakar. Dibangun Belanda untuk Transportasi ke Teluk Bayur
Mengutip dari laman Kementerian Keuangan, Selasa (2/5/2023), pada awalnya berdasarkan beberapa referensi, diketahui bahwa ukuran jalan di Kelok 9 jika direntang lurus hanya sepanjang 300 meter. Lebar jalan pun hanya 5 meter yang dulunya dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1908--1914 untuk memperlancar transportasi dari Pelabuhan Teluk Bayur di barat Sumatera menuju ke wilayah timur.Lama kelamaan, jalur ini ramai dan padat seiring pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertumbuhan tersebut tidak seimbang dengan fasilitas jalan yang ada. Hal ini melihat kondisi jalan dengan tanjakan curam dan tikungan tajam, serta berbahaya bagi penggunanya oleh karena banyaknya truk besar dengan muatan berat gagal menanjak. Selain itu, waktu tempuh makin panjang dan padat karena lajur masih sempit, sulit untuk menyalip atau mendahului kendaraan di depannya.Menyikapi kondisi ini, maka pemerintah Indonesia mulai mengembangkan jalan tersebut pada 2003 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dengan konsep green construction, yakni mengarah pada struktur dan pemakaian proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut.Menurut Kepala Seksi Pengelolaan Kekayaan KPKNL Bukittinggi Sutarmin, saat itu Kelok Sembilan terbagi dalam enam buah jembatan dengan lebar 13,5 meter serta ditopang pilar setinggi sekitar 60 meter di atas permukaan jalan yang ada di bawahnya. Panjang keenam jembatan tersebut berbeda-beda sebab menyesuaikan topografi tanah dan panjang lekuk atau kelok jembatan itu sendiri.Untuk gambaran, masing-masing ukuran jembatan yaitu jembatan pertama sepanjang 20 meter, jembatan kedua 230 meter, jembatan ketiga 65 meter, dan jembatan keempat 462 meter, jembatan kelima 31 meter serta jembatan keenam sepanjang 156 meter.Di samping itu, masih terdapat jalan penghubung sepanjang lebih dari 1,9 kilometer. Setelah pengerjaan selesai dan difungsikan, jembatan Kelok Sembilan begitu dirasakan efeknya oleh para pengguna, baik dari sudut tanjakan, ketajaman lekuk/kelok jalan, risiko kecelakaan maupun waktu tempuh yang terpangkas. Hal lain yang membanggakan dari konstruksi jembatan ini yaitu dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri dan seluruhnya dikerjakan kontraktor dan tenaga ahli dari dalam negeri.***Editor:
Abdul Roni

























