BENGKALIS, POTRETNEWS.com — "Bawak Idang" sebuah tradisi yang telah turun temurun tetap lestari di Pulau Bengkalis dan sekitarnya. Tradisi membawa makanan siap santap ke masjid atau musala yang ada di kampung yang menyajikan makanan ini dilakukan ketika akan memasuki bulan Ramadan.
Jemaah Masjid Al-Muhsinin Dusun Kampung Parit Desa Pangkalanbatang Barat, Bengkalis Riau adalah salah satu kampung yang tetap melakukan "Bawak Idang" ini termasuk juga rumah ibadah di desa tetangga yang waktunya menyesuaikan agar tidak ada rumah ibadah yang berdekatan "Bawak Idang" pada malam yang sama terkecuali keadaan yang memaksa.
Senin, 27 Syakban 1444 Hijriah bersamaan 20 Maret 2023, kaum perempuan jemaah Masjid Al-Muhsinin tidak melakukan pekerjaan lain. Mereka bersama anak-anaknya memulai menyiapkan menu makanan dan minuman terbaik yang akan dibawa pada petang harinya. Bahan-bahan menu pula telah mereka belikan sehari sebelumnya.Setelah menu siap saji, 1 mangkok gulai berisi 4-6 potong lauk, 1 mangkok nasi lengkap dengan 4 piring kaca, cuci tangan, acar atau terong masak hitam, kue cuci mulut yang semuanya ditutupi plastik maupun koran diletakkan di atas dulang.Sekitar pukul 17.00 WIB, para jemaah ini terlihat ada yang berjalan kaki ada pula berboncengan menggunakan sepeda motor telah mulai mengantarkan dulang yang ada makanan tadi ke masjid.
Di masjid, Syair telah menunggu untuk menerima dulang tersebut, lalu diserahkan kepada Ati, Siah, It, Mi dan beberapa kaum ibu lainnya. Fendi yang dibonceng Lia sang istri bolak balik membawa 4 hidangan di atas dulang, sedangkan Ijan dibonceng sang abang, Dayat pula bolak-balik mengantar 2 hidangan. Begitu pula, Kerol bersama seorang anaknya pelajar SMP, juga bolak balik jalan kaki, termasuk juga beberapa ibuk-ibuk yang tinggal di perumahan PT Meskom Agro Sarimas (PT MAS) juga melakukan hal yang sama.Azan Magrib menggema, hidangan terus berdatangan. Menurut Ati, tak kurang 90-an hidangan terkumpul dan 30-an hidangan telah diletakkan di meja bawah tenda, di dalam masjid lama dan terasnya, juga di sekeliling teras masjid baru yang masih belum selesai pembangunannya.Sehabis salat yang diimami Muhammad Al Hafiz selesai, terlihat pula beberapa jama'ah mushola desa tetangga menyusul datang sesama jemaahnya yang mendirikan salat fardhu Magrib di Masjid Al-Muhsinin ini. Mereka yang juga ada membawa anaknya disambut tuan rumah lalu diantar ke meja yang masih kosong. Dari corong masjid terdengar suara Rusli seorang pengurus masjid membuka acara, lalu Sugito memimpin Tahlil singkat dan dilengkapi doa yang dipandu Baharuddin imam musala lain desa tetangga. Lalu, makan bersama pun bermula.Pantauan di lapangan, wartawan media ini merinding melihat di ruang masjid lama duduk bersila di hadapan setiap hidangan 4 anak-anak yang masih berusia SD, SMP bahkan balita. Mereka makan penuh selera, sangat sopan lagi beretika menikmati hidangan dengan warna dan cita rasa menggoda."Pertama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada jemaah Masjid Al-Muhsinin dan pengurus masjid yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa hadir dalam acara malam hari ini. Saya memberikan apresiasi, tradisi (Bawak Idang) masih dipertahankan oleh seluruh jemaah yang ada di Kampung Parit dan sekitarnya. Tadi, begitu saya keluar dari masjid, saya heran melihat masih ada yang makan-makan artinya sangat ramai orang yang datang sehingga tempat tidak mencukupi, mereka harus makan di luar daripada masjid. Inilah salah satu timbulnya kesadaran masyarakat di bidang keagamaan yang luar biasa dan tradisi ini kita harapkan dipertahankan sampai ke anak cucu nanti. Tadi disampaikan anak-anak kita yang kecil-kecil ini makan di ruang masjid lama, inilah yang akan mewarisi tradisi-tradisi yang baik yang kita lakukan pada malam hari ini," kata Anggota DPRD Kabupaten Bengkalis, H Arianto kepada
potretnewa.com, Senin (20/03/2023) setelah beliau siap berwudhu untuk mendirikan sholat Isya berjemaah.
Diungkapkan Arianto, jika dilihat dari jumlah orang yang datang kala itu, takkan mungkin ditanggung oleh pengurus masjid tetapi kesadaran masyarakat setiap kepala keluarga atau masyarakat menyediakan satu hidang, ada yang dua hidang dan malahan ada yang tiga atau empat hidangan.”Saya lihat melebihi yang awalnya tadi begitu membludaknya pengunjung sehingga saya berpikir dari mana datangnya makanan ini, tapi rupanya masyarakat begitu memberikan apresiasi bahwa tradisi ini perlu ditingkatkan lagi dan dipertahankan. Kita berdoa semoga tradisi yang baik ini teruslah dijalankan," harapnya."Pada kesempatan yang baik ini, malam hari ini saya dan keluarga menyampaikan selamat menyambut bulan suci Ramadhan 1444 Hijriah 2023 Masehi, mudah-mudahan di bulan Ramadhan ini kita selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah Swt dan kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik dan kita berharap sampai nantinya ketemu Ramadhan tahun berikutnya, Amin. Amin. Amin Ya Robbal 'Alamin,” ucap Arianto dalam doa tulusnya.Ramli (75 tahun) pengurus Masjid Al-Muhsinin pula mengungkapkan ketika ia berusia 5 atau 10 tahun tradisi Bawak Idang ini telah dilaksanakan. ”Waktu itu kebanyakan bawak laok ayam kampung, ikan. Bawak Idang ini juge dilaksanakan sebelum puase. Bawa hidang tahun ini lebih meriah dari mase kecik kami dulu," ungkap Ramli.Selain Arianto, jemaah dari 2 musala tetangga Desa Sebauk, juga hadir Herman Nor anak Dusun Kampung Parit yang sekarang dipercaya sebagai Kabag Kesra Setda Setdakab Bengkalis. Meskipun PLN sempat padam ketika Tahlil singkat, dan genset pula mengalami macet, acara Makan Bersama berjalan dalam rida Allah Swt. ***