Mengenal Sang Naualuh, Raja Siantar Penyebar Islam yang Tersohor sampai Bengkalis
![]() |
Makam Raja Sang Naualuh di Des Senggoro Pulau Bengkalis, Riau/ISTIMEWA |
SIANTAR, POTRETNEWS.com — Sangnaualuh Damanik adalah raja ke-14 Kerajaan Siantar. Beliau lahir pada tahun 1871 di Rumah Bolon (Istana) Raja Siantar di Pamatang, yang kini merupakan daerah Kelurahan Simalungun, Siantar Selatan Kota Pematangsiantar. Nama Sangnaualuh tak hanya dikenal di kalangan masyarakat Siantar dan Simalungun, namun kiprah bangsawan satu ini juga dikenal sampai Bengkalis, Riau, di mana ia mengakhiri hayatnya pada 9 Februari 1913.
Tribunmedan.id pun sempat menyambangi kediaman dari keluarga Sangnaualuh Damanik, yang dianggap mengetahui perjalanan sejarah masa lalu. Ia adalah Tuan Rudi Damanik, keturunan kelima paman Sangnaualuh Damanik bernama Tuan Itam Damanik.Rudi Damanik menceritakan, kejayaan Sangnaualuh dapat dilihat di Pematang. Di sana ada Pesanggrahan, tempat bermusyawarah raja-raja, kompleks Jorat yang merupakan pemakaman dan pusat tradisi kerajaan sebelum mengenal Islam dan rumah batu, istana kerajaan Siantar."Pada saat Sangnaualuh berusia 9 tahun, sang ayah meninggal dunia. Ia belum cukup usia untuk menjadi seorang raja, sampai posisi Raja Siantar dipangku Raja Itam Damanik," kata Rudi.Singkat cerita, setelah berusia 17 tahun atau pada tahun 1888, Sangnaualuh Damanik resmi dinobatkan sebagai Raja Siantar ke-14 oleh dewan Harajaon (Kerajaan) Siantar. Pemerintahan Sangnaualuh pun dimulai dengan berbagai tantangan. Pada masa kepemimpinannya, Sangnaualuh, mulai mendapat tekanan dari Bangsa Belanda yang masuk ke Hindia Belanda (Indonesia). Ia gigih menentang dan menolak kebijakan Belanda yang merugikan rakyat. Ia menolak menyepakati perjanjian Korte Verklaring.Akham Sophian

























