Ketua MUI Bengkalis Buya H Amrizal MAg: Kepemimpinan Itu soal Khidmat dan Prestasi

Ketua MUI Bengkalis Buya H Amrizal MAg: Kepemimpinan Itu soal Khidmat dan Prestasi

Ketua MUI Kabupaten Bengkalis, Buya H Amrizal, MAg bersama seorang pemenang lomba Baca Puisi Virtual sesaat selesai menjadi penilai lomba, Rabu (28/10/2020) malam.

Rabu, 25 November 2020 11:09 WIB
Junaidi
BENGKALIS,POTRETNEWS.com — Harapan, niat dan keinginan masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk masyarakat Kabupaten Bengkalis akan Bupati/ Wakil Bupati periode 2021-2026 melalui tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember 2020 mendatang adalah pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin.
Salah satu harapan itu, dituangkan oleh seorang Buya H Amrizal, MAg yang saat ini Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis yang kami rangkum melalui dua tulisan beliau.

Pertama, Buya H Amrizal yang juga dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Bengkalis menuliskan kala menghadiri Debat Publik pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis pada Ahad, 23 November 2020 malam di Gedung Kesenian Cik Puan Jalan Hang Tuah.

"Yang diperdebatkan seputar isu-isu infrastruktur, UMKM, kesejahteraan, tenaga kerja, penanggulangan bencana, budaya, pendidikan dan layanan kesehatan. Isu agama bisa dikatakan tidak muncul, apakah tim perumus debat lupa atau menganggapnya sesuatu yang kurang relevan atau kurang penting untuk diperbincangkan," tulis Buya Amrizal di akun Facebook-nya pada Ahad (22/11/2020) malam debat itu juga.

Status di atas hingga Selasa (24/11) pukul 21.16 WIB mendapatkan 155 like, 72 komentar dan 2 kali dibagikan ini dibuat beliau sebab tanya yang belum berjawab.

Kedua, Buya H Amrizal memberikan jawaban atas pertanyaan seorang temannya tentang "Pemimpin dan Kepemimpinan".

Sebuah kalimat tanya kawannya, "Apa yang awak pahami tentang kepemimpinan?”. Setelah beberapa saat terdiam sembari berpikir ke mana arah pertanyaan kawan yang satu ini, saya menjawab bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan dan kuasa, bukan pula soal pengaruh dan wibawa, dan tidak pula soal kekayaan dan harta benda. Kepemimpinan juga dan lebih utama soal khidmat [pengabdian] dan prestasi yang dengannya akan terukir nama dalam catatan-catatan sejarah yang akan selalu dingat-ingat di kemudian hari," jawabnya.

Selanjutnya, Buya Amrizal melengkapi, "Apakah nama baik atau nama buruk yang akan terukir sangat tergantung pada apa yang telah dilakukan oleh seorang pemimpin itu pada saat ia menjabat atau berkuasa. Kalau yang dilakukannya sesuatu yang baik dan bermanfaat, maka nama baiknya yang akan disebut-sebut. Sebaliknya kalau yang dilakukannya sesuatu yang buruk dan sia-sia, maka nama buruknya yang akan dingat-ingat," terangnya pula.

"Sehubungan dengan itu, jabatan atau kuasa bisa menjadi asbab yang akan mendatangkan kebaikan dan kemuliaan bagi seseorang dan bisa juga akan mendatangkan keburukan dan kehinaan bagi seorang pemimpin. Semuanya sangat ditentukan oleh tabi’at dan prilaku seorang pemimpin itu ketika menerajui kekuasaan yang dimilikinya. Berada di puncak kekuasaan itu memang sangat nikmat, seseorang akan disanjung-sanjung dan diangkat-angkat, status sosial menjadi terangkat, wibawa dan pengaruh semakin meningkat, para pengikut akan padat dan berlipat-lipat, harta benda banyak mudah didapat, fasilitas mewah menjadi hajat. Akan tetapi, kesemua nikmat kekuasaan itu, kalau tidak berhati-hati akan membuat seseorang bisa lupa diri sehingga terperangkap dalam perbuatan-perbuatan yang menyalah dan kurang terpuji," terang Buya H Amrizal terkhusus bagi Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis terpilih, 9 Desember mendatang.

Diungkapkan Buya, "Yang disebutkan terakhir inilah yang membuat Umar bin Abdul Aziz merasa risau dan khawatir serta bercucuran air mata di hadapan Allah tatkala dibaiat oleh kaum muslimin menjadi Khalifah Bani Umayyah karena ia tahu kuatkan godaan kekuasaan berdasarkan kenyataan yang dilihatnya pada praktek kekhalifahan sebelumnya. Tapi ia tetap menerima amanah itu dengan catatan agar orang-orang mengikutinya selagi ia berbuat baik dan benar dan menegurnya tatkala berbuat buruk dan salah," beber Buya Amrizal menyebutkan sebuah riwayat.

"Di sinilah letak pentingnya untuk mengubah paradigma tentang kepemimpinan. Kepemimpinan jangan lagi dimaknai sebagai wasilah untuk menaikkan status sosial dan pengaruh atau wibawa. Tidak pula sebagai kendaraan yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan duniawiyah, baik untuk pribadi, keluarga dan kroni. Dan bukan pula menjadi sarana untuk gagah-gagahan, show force dan bermewah-mewah. Tapi untuk melakukan khidmat [pengabdian] dan menoreh prestasi yang membanggakan," ucapnya.

"Untuk mewujudkan maksud itu, gaya dan trend kepemimpinan harus diubah. Kesederhanaan harus ditonjolkan tidak lagi suka bermewah-mewah dalam memanfaatkan fasilitas negara. Kepedulian dan perhatian terhadap seluruh rakyat harus senantiasa dikedepankan setiap saat, kesejahteraan dan pelayanan rakyat harus menjadi skala prioritas, berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Cerdas dan kreatif dalam menggali potensi daerah dan mengembangkannya, berintegritas tinggi dalam menjalankan birokrasi dan roda pemerintahan, membangun secara adil dan merata mulai kawasan perkotaan sampai ke pelosok-pelosok desa, menjadikan agama sebagai landasan moral dan fondasi spiritual dalam setiap langkah dan gerak pembangunan," tutur Buya Amrizal yang dirasa merupakan tips pemimpin berasaskan kepemimpinan masa Rasulullah SAW.

"Bila hal yang disebutkan terkahir bisa diterapkan oleh seorang pemimpin, maka seluruh masyarakat akan bangga memilikinya. Nama baiknya akan selalu dingat-ingat dan dikenang-kenang dalam memori kolektif masyarakat baik setelah ia tidak berkuasa lagi atau setelah ia tidak ada lagi di atas dunia ini. Wallah A’lam," tulis beliau dengan berserah diri kepada Penguasa Langit, Bumi dan di antara keduanya. ***

Kategori : Bengkalis, Umum
wwwwww