Ada Pungutan Sawit hingga Rp2,9 Miliar per Pekan di Riau, padahal di Provinsi Lain Kebijakan Itu tak Lagi Berlaku
![]() |
Gambar hanya ilustrasi/REPUBLIKA |
PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Penerapan kebijakan biaya operasional tidak langsung (BOTL) terhadap hasil produksi perkebunan sawit di Provinsi Riau yang mencapai Rp 2,9 miliar setiap pekannya, dipertanyakan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Pola Inti Rakyat (Aspekpir).
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung pada wartawan, Selasa (8/9/2020), menyampaikan kebijakan BOTL itu tak lagi berlaku di provinsi penghasil sawit, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jambi."Kalau kita lihat di provinsi tetangga itu sudah nol. Di Sumut, Jambi, Sumbar tidak ada lagi BOTL, karena pihak PKS (perkebunan kelapa sawit) susah mempertanggungjawabkannya karena memang aturan peralihannya mengamanahkan adanya pertanggungjawaban rutin setiap bulan dan dilaporkan ke gubernur setempat melalui Kepala Dinas Perkebunan (Disbun)," ucap Gulat dalam pertemuan dengan Disbun Riau, Selasa.Namun, kata dia, di Riau potongan harga tandan buah sawit (TBS) BOTL sebesar 2,63 persen masih berlaku. Triantana dari Aspekpir mempertanyakan untuk apa sebenarnya pemotongan BOTL.”Sederhana kok. Kita hanya perlu tahu peruntukannya sebenarnya untuk apa. Sebab, di Permentan 01 Tahun 2018, disebut ada Potongan BOTL sebesar 2,63 persen peruntukannya 1 perse untuk pembinaan petani dan kelembagaannya. Selama ini tidak pernah tahu ke mana penggunaan ke mana dana ini dan tidak ada pertanggungjawabannya," kata Tri, melansir Kompas.com.Akham Sophian

























