Resor Mewah dan Terbesar di Bintan Kepri Gulung Tikar
![]() |
BINTAN, POTRETNEWS.com — Bintan Lagoon Resort, resor mewah dan terbesar di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau harus gulung tikar. Resor ini sempat menjadi andalan dan nyaman untuk dikunjungi, banyak ekspatriat dari beberapa negara sekitar yang berkunjung, seperti Singapura dan Malaysia.
Namun di balik hal fenomenal itu, ternyata tempat ini dikabarkan sudah mengalami kerugian dalam beberapa waktu terakhir.”Resor itu sebenarnya sebelum pandemi, dia udah alami kerugian, ditambah pandemi covid-19 makin parah. Sekarang sedang proses PHK (pemutusan hubungan kerja), Yang jelas diproses Disnaker (Dinas Tenaga Kerja) pesangon karyawannya," Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid, Jumat (7/8/2020), dilansir dari CNBC Indonesia.Mengenai kelanjutan nasib dari destinasi wisata tersebut, belum diketahui secara pasti. Ada kemungkinan pindah tangan, meskipun dalam kondisi saat ini, banyak pelaku usaha lebih memilih untuk menahan dananya untuk membeli aset baru."Kemungkinan tutup atau dijual ke pihak lain bisa saja, di Bintan biasanya pakai kontrak jangka panjang, misal per 30 tahun," katanya.Ia menilai konstraksi ekonomi yang sangat dalam di daerah Kepulauan Riau disebabkan menurunnya geliat pariwisata. Meski tidak menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), namun kunjungan wisata sudah jauh berbeda di Kepulauan Riau. ”Pertumbuhan ekonomi kita perkirakan di triwulan kedua -4%. Tapi faktanya, kontraksi sampai -6,6%. Ini kita liat bahwa kenapa dalam? Ternyata sektor pariwisata yang terkena dampak, 96% penurunannya, sementara sektor ini terkait banyak turunan, semisal transportasi, spa, mall, ritel. Sementara, nggak ada lagi wisatawan mancanegara mulai Maret," katanya.Ambruknya pariwisata yang menjadi andalan membuat kontraksi sangat dalam. Bintan Lagoon Resort menggambarkan bagaimana pariwisata kian terpukul. Padahal, destinasi wisata ini sebetulnya menjadi andalan dan nyaman untuk dikunjungi. Saat kondisi pariwisata mengkhawatirkan, maka hal berbeda justru terjadi pada sektor lain, di antaranya manufaktur yang bisa menjadi andalan.”Manufaktur masih tumbuh sekitar 1,6%, bahkan sebenarnya perusahaan manufaktur ada yang membuka lapangan kerja, tenaga kerja baru ada yang buka sejak Juli lalu. Selain itu termasuk bansos, telekomunikasi,” jelasnya. ***Editor:
Akham Sophian

























