PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Rahma tampak meringis menahan sakit. Kakinya sebelah kiri mengalami luka dan berdarah. Wanita berjilbab ini merupakan satu dari lima orang yang tertimpa pagar tembok pembatas SDN 141 Pekanbaru yang roboh. Warga Perumahan GTU, Bukitraya ini terlihat masih trauma akan kejadian yang baru dialaminya itu.
Rahma tampak duduk di teras rumah seorang warga, yang persis berada di depan pagar tembok yang roboh. Rahma mengisahkan detik-detik ambruknya pagar sekolah yang sampai memakan korban jiwa itu.Dikatakannya, saat itu dia baru saja mengantarkan anaknya yang bersekolah di SD itu. Disebutkannya, kejadian robohnya pagar tembok itu begitu cepat. Secara tiba-tiba. "Tadi ngantar anak sekolah. Pas mau belok, langsung roboh pagar temboknya, mendadak dia. Anak saya udah masuk ke dalam," ujarnya mengingat peristiwa nahas itu.Sepengetahuannya, yang tertimpa pagar tembok itu 4 sampai 5 orang. ”Yang meninggal dua, anak kelas satu sama SMA 14. Yang SMA 14 itu ngantar adeknya. Adeknya sempat turun, cuma kena juga tadi," ucapnya, dilansir
potretnews.com dari
detikcom.
Rahma menjelaskan, dia mengalami luka dibagian kaki. Kepalanya juga benjol. "Sepeda motor hancur, itu yang warna oranye," ungkapnya sambil menunjukkan sepeda motornya. Peristiwa robohnya pagar tembok pembatas itu terjadi sekitar pukul 7 kurang 10 menit. Pagar Tembok Sudah Dipasang Tanda Peringatan "Awas Pagar Ini Mau Roboh"Pihak SDN 141 Pekanbaru melalui Ketua Komite H. M Rostami Agafar menyampaikan awal mula berdirinya pagar tembok yang akhirnya roboh dan memakan korban itu. Dikisahkan Rostami, pagar tembok itu dibangun sekitar awal tahun 2016 lalu."Pagar ini dibangun tidak dengan dana APBD, namun dengan dana komite, iuran dari wali murid. Ada yang nyumbang uang dan bahan seperti kerikil, semen, pasir, batu bata," katanya. Lanjut Rostami, tadinya pagar itu adalah pagar besi biasa.Namun lantaran didapati seringnya anak sekolah memanjat pagar, dan sering patah, maka untuk antisipasi dibangun pagar tembok permanen seperti itu. Rostami memastikan, pihaknya tidak akan menghindar dari tanggung jawab, terkait peristiwa tersebut."Persoalan ini lebih kepada musibah sebenarnya. Karena secara konstruksi kami rasa tidak ada masalah. Pagar itu dibangun sesuai standar," ungkapnya.
"Dasar pembangunan itu kan digali dulu tanah 30 sampai 40 cm, naik batu bata, naik besi baru cor, itu sudah kami laksanakan," sambung Rostami lagi.Rostami menuturkan, hujan yang turun beberapa hari ini, diperkirakan membuat struktur batu bata yang terkena air menjadi lunak. Itulah yang diduga menjadi salah satu penyebab robohnya tembok tersebut. "Tidak ada kesengajaan. Ini kan anak murid ini anak kita juga," ucapnya.Saat dikonfirmasi soal kondisi pagar tembok itu dalam beberapa hari terakhir, Rostami mengakui sudah ada informasi dari masyarakat sekitar, terutama Ketua RW. Tembok tersebut memang sudah miring, sekitar satu bulan belakangan. "Sudah kita tanggapi dengan pasang label peringatan itu kan," tuturnya. Label peringatan itu berbunyi "Awas!!!!! Pagar Ini Mau Roboh".Kemudian dia mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan surat untuk dikirim ke dinas terkait, guna melaporkan kondisi pagar tembok itu. "Baru siap 3 hari lalu, belum sempat dikirim," tandasnya. Lebih jauh kata Rostami, kegiatan proses belajar mengajar hari ini diliburkan, terkait peristiwa tersebut. Semua anak sekolah dipulangkan."Fokus kita juga sekarang mau ke rumah duka. Untuk korban akan kita beri tanggungan duka dan santunan," ulasnya. ***
Editor:Akham Sophian