PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Setiap tanggal 8 Maret, diperingati hari gagal ginjal sedunia. Mengapa mesti diperingati, agar setiap orang lebih waspada dari ancaman penyakit mematikan ini. Hal itu dikatakan oleh Kepala Sub Divisi Ginjal Hipertensi dan penyakit dalam RSUD Arifin Ahmad FK Unri, dr Rayendra SpPd dalam acara memperingati hari ginjal se dunia di Aula RSUD Arifin Ahmad, Ahad (11/3/2018), yang ditaja oleh Ikatan Perawatan Dealisis Indonesia (IPDI) Riau. Dimana Rayendra sendiri merupakan pematerinya.
Dijelaskannya, jumlah penderita penyakit gagal ginjal terus meningkat setiap tahunnya. Pasiennya lebih banyak wanita dibandingkan pria.Serta bisa jadi permasalahan, sebab termasuk paling banyak mengeluarkan biaya, selain jantung dan kanker. "Maka dari itu, masyarakat harus bisa memahami dan melakukan pemeriksaan lebih dini, agar tidak sampai pada kronis.Terutama bagi orang yang berisiko, seperti penderita diabetes, hipertensi, kegemukan, kista ginjal, batu ginjal dan Infeksi ginjal," ucapnya. dilansir
potretnews.com dari
tribunnews.com.
Seorang pasien gagal ginjal bernama Supri widati menceritakan, bahwa ia sudah 10 tahun menderita penyakit tersebut. Tiga kali dalam seminggu, ia harus rutin melakukan cuci darah ke Rumah Sakit Eka Hospital."Pertama kali yang saya rasakan saat terkena gagal ginjal adalah sakit kepala dan tensi tinggi, lalu saya pergi ke dokter. Ia meminta saya cek dan ambil darah. Setelah hasilnya keluar Dokter mengatakan ada gangguan di ginjal saya dan disarankan untuk rontgen. Hasilnya, diketahui ginjal saya mengecil,” tuturnya.Namun menurut Supri widati, waktu itu dirinya belum dianjurkan cuci darah. Dokter hanya bilang suatu saat dia bisa cuci darah dan diberi obat dulu, untuk menurunkan tensi, hemoglobin dan lainnya.”Menjelang cuci darah, saya merasa mual dan susah makan. Setelah itu saya mengikuti anjuran dokter dan melakukan cuci darah. Namun, saat melihat proses cuci darah dari pasien lain, saya takut dan kabur. Saya pun berdiam diri di rumah selama satu bulan, bukannya malah sehat, seluruh badan saya jadi bengkak. Akhirnya saya pasrah dibawa ke ruang ICU untuk tindakan pembuangan cairan. Setelah itu baru cuci darah,” katanya.Sekarang setelah rutin 10 tahun cuci darah, dia merasa biasa dan badan jadi lebih segar dibandingkan pertama kali kena penyakit ini. Kuncinya adalah disiplin, baik itu cuci darah maupun minum obat.
”Satu lagi, tidak usah memikirkan hal yang berat, karena bisa menambah penyakit. Buktinya saya sudah 10 tahun, masih tetap bertahan," paparnya.Ketua Panitia, Ns Filcha Novirman, SKep didampingi Ketua IPDI, Ripandra mengatakan, tema acara tersebut adalah ginjal dan wanita. Rangkaian acaranya adalah penyampaian materi tentang ginjal dan pendalaman materi tentang ginjal.Testimoni dari pasien Hemodialisa dan pasien CAP-D. Di penghujung acara diberikan hiburan dan doorprize untuk para pasien. Jumlah peserta kurang lebih 200 orang."Tujuan acara adalah memberikan semangat pada pasien dan ingin membentuk grup pasien gagal ginjal. Biar bisa sharing dan berbagi pengalaman serta memotivasi," pungkasnya. ***
Editor:Akham Sophian