Kisah Pasar Higienis Milik Pemkot Pekanbaru yang Sama Sekali Tak Higienis; Bak Bangunan yang Dihuni Hantu, Kotoran Manusia Menumpuk di Sejumlah Sisi
![]() |
Pasar higienis yang sudah memakan anggaran setidaknya Rp 1,2 miliar dibiarkan kosong melompong. Kotoran manusia bahkan dibiarkan tercecer. (foto: liputan6.com) |
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian di Pemerintah Kota, Ingot Hutasuhut dikonfirmasi menjawab santai terkait hal ini. Dia menyebut akan segera memperbaiki sejumlah kerusakan dan mengganti hilangnya barang di pasar tersebut."Sudah diajukan pergantian dan perbaikannya. Sebelum ditempati pedagang, semuanya akan diganti, sebentar saja itu gantinya," kata Ingot.
Pasar higienis yang sudah memakan anggaran setidaknya Rp1,2 miliar dibiarkan kosong melompong. Kotoran manusia bahkan dibiarkan tercecer. (foto: liputan6.com)Menanggapi ini, pengamat kebijakan publik dari Universitas Riau, Saiman Pakpahan, menyebut persoalan pasar di Kota Pekanbaru bukan hal baru. Dia mencontohkan persoalan Pasar Cik Puan dan Sukaramai yang tak pernah tuntas. "Belum lagi banyaknya bermunculan pasar kaget di Kota Pekanbaru," jelas Saiman.Dia menyebut, pembangunan pasar higienis bukan solusi dan tidak mendefinisikan penyelesaian persoalan pasar secara utuh di Kota Pekanbaru."Ini sebagai tanda adanya persoalan di pemko, dana digelontorkan tapi tidak ada evaluasi dan tidak diawasi pembangunannya," tegas Saiman.Dia menyebut dibangunnya pasar higienis sebagai bentuk tak seriusnya Pemkot Pekanbaru dalam mengeluarkan kebijakan. Hal ini dikatakannya sebagai gambaran mental yang membangun untuk lokus arena tapi tak mau berdamai dengan rakyat."Pemkot melalui instansi terkait bertobatlah dan tidak main- main dengan program kerakyatan. Jangan jadikan program kerakyatan pada tataran idelis tapi menjadi proyek di tataran praktis," tandas Saiman.Saiman menyatakan pembangunan pasar tersebut sudah gagal dari awal karena bangunannya tak mampu menampung seluruh pedagang. "Entah apa tujuannya dibangun, sementara persoalan pasar yang ada saja tak pernah selesai," ujarnya. ***Editor:Akham Sophian

























