PotretNews.com Selasa 16 Oktober 2018
Home > Berita > Siak

Jika Tak Bisa Dibayar oleh Pemda, Syamsuar Siap Talangi Biaya Pengobatan Warga Siak yang Sakit dari Kocek Sendiri

Jika Tak Bisa Dibayar oleh Pemda, Syamsuar Siap Talangi Biaya Pengobatan Warga Siak yang Sakit dari Kocek Sendiri

Salah seorang pasien di RSUD Siak. (foto: internet)

Rabu, 07 Juni 2017 01:26 WIB
Sahril Ramadana
SIAK, POTRETNEWS.com - Dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan, Bupati Siak Provinsi Riau H Syamsuar meminta info rumah sakit di Kota Pekanbaru yang sigap menerima serta merawat warganya yang sakit.”Tolong carikan rumah sakit yang ada di Pekanbaru untuk warga kita yang membutuhkan. Jika tidak bisa dibayar oleh pemda, nanti biar saya yang bayar. Karena ini sudah menjadi tanggung jawab seorang pemimpin untuk melayani masyarakat," tandas Bupati Siak H Syamsuar saat melakukan Safari Ramadan ke-10 di Mesjid Baitul Muttaqin, Kampung Kumbara Utama, Kecamatan Kerincikanan, Siak, Riau, Senin (5/6/2017) malam.

Lebih lanjut disampaikannya, dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, pihaknya juga akan membangun Rumah Sakit (RS) tipe D Pratama di Bukitagung Kecamatan Kerincikanan, yang saat ini masih dalam proses pelelangan.

Terkait dengan pelayanan pasien dengan jaminan kesehatan, Syamsuar menyebut nantinya RS Pratama memberikan pelayanan yang prima, sehingga hal itu menjadi nilai plus bagi RS tersebut.

Ads
Rumah sakit pratama adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan kesehatan dasar yang tidak membedakan kelas perawatan dalam upaya menjamin peningkatan akses bagi masyarakat. Terutama dalam rangka penyelenggaraan kegiatan upaya kesehatan perorangan yang memberikan pelayanan gawat darurat selama 24 jam, pelayanan rawat jalan, dan rawat inap.

Menurut rencana, kata dia, di rumah sakit pratama tersebut akan ada dokter spesialis dan perawat yang profesional untuk menangani pasien yang butuh pertolongan. Bahkan, dokter yang akan bertugas disana nantinya adalah dokter yang berasal dari anak-anak daerah yang telah menyekesaikan pendidikannya. Adapun daerah yang diprioritaskan adalah Kecamatan Kerincikanan, Sungaiapit, Tualang, Minas dan Kecamatan Kandis.

"Nantinya kami juga berencana untuk membuat dokter keluarga, dokter keluarga ini akan datang kerumah masyarakat hingga kepelosok kampung. Jadi bukan pasien yang datang, tapi dokter yang datang kerumah warga,” terangnya.

Masih kata bupati, beberapa waktu yang lalu pihaknya juga diundang dalam rapat bersama BPJS dan Ketua IDI wilayah Riau di Pekanbaru. Itu dilakukan dalam rangka meningkatkan pelayanan BPJS kepada masyarakat. Bahkan dalam rapat itu, terkait keluhan dari masyarakat tentang BPJS juga akan ditindaklanjuti.

Tujuan rapat itu sejatinya hanya untuk mengoptimalkan hubungan kemitraan dan kepercayaan antara BPJS Kesehatan dan stakeholder dalam mendorong pencapaian untuk meningkatkan kerjasama fasilitas kesehatan. Dan menjadi sarana diskusi, berbagi pengalaman dan mencari solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada.

Terkait pelayanan kesehatan ini, seperti diberitakan potretnews.com Senin 25 Mei 2017 lalu, masyarakat Siak dihebohkan dengan ”kicauan” seorang netizen bernama Mia Miaty di Facebook Bupati Siak dengan nama akun Drs. H. Syamsuar, MSi, mengenai buruknya layanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tengku Rafi'an Kabupaten Siak terhadap pasien.

Bahkan dalam postingan itu, pemilik akun bernama Mia Miaty tersebut menceritakan anaknya belum lama meninggal karena kecelakaan di jalan raya dan mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya di RSUD Siak. Hingga akhirnya, anak tersebut meninggal dunia, setelah mengalami penderitaan hebat, seperti batuk yang mengeluarkan darah.

Mengenai hal itu, Direktur RSUD Tengku Rafi'an dr Benny Chairuddin juga sempat menampik "kicauan" tersebut. Bahak dia menjelaskan, informasi yang ia terima dari pegawai RSUD saat pasien hadir (ibu itu dengan anaknya), pihak rumah sakit langsung menganalisa keadaan si pasien dan dugaan sementara pasien tidak terluka parah.

"Saat diperiksa sementara memang kondisi pasien tidak parah, namun setelah setengah jam baru ada tanda-tanda bahwa ada luka serius. Dalam medis ada istilah lusic interval bahwa dalam kejadian korban kecelakaan akan bisa kita ketahui luka dalam itu parah atau tidak, setelah beberapa jam bahkan bisa hingga 3 hari," jelas Benny.

Kendati demikian, dia tidak menampik soal rusaknya alat CT scan yang ada di RSUD, hal ini terjadi dikarenakan minimnya anggaran untuk memperbaikinya, bahkan untuk itu pihaknya harus merogoh APBD Siak hingga Rp1,5 milliar.

"Alat itu memang rusak. Kita juga sudah mengetahui sejak lama alat tersebut harus diperbaiki. Namun untuk memperbaiki alat itu membutuhkan dana besar hingga Rp1,5 milliar," terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua IDI Kabupaten Siak itu.

Mengenai hal itu, sejatinya menjadi ”cambuk” bagi Bupati Siak H Syamsuar. Pasalnya tanggal 20 Mei 2017 lalu bertempat di Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Bupati Siak menerima penghargaan dari Menpan & RB Asman Abnur, terkait masuknya daerah Siak dalam Top 99 iIovasi Pelayanan Publik tahun 2017. Bahkan, ini kali ketiga Siak meraih penghargaan tersebut. ***

wwwwww