PotretNews.com Jum'at 19 Oktober 2018
Home > Berita > Riau

Ini Dia Sosok di Balik Program PSC dan Rumah tanpa Asap Rokok di Pelalawan

Selasa, 16 Mei 2017 22:47 WIB
Advertorial
ini-dia-sosok-di-balik-program-psc-dan-rumah-tanpa-asap-rokok-di-pelalawanBupati Pelalawan HM Harris menjenguk anak dari warganya yang menderita penyakit penyumbatan saluran empedu, beberapa waktu lalu.

PELALAWAN, POTRETNEWS.com - Meski baru diresmikan oleh pemerintah pusat sebagai kabupaten pada 12 Oktober 1999, Pelalawan terus menggenjot percepatan pembangunan di berbagai sektor.

Salah satu bidang yang mendapat perhatian penuh dari orang nomor satu di daerah itu, HM Harris, adalah layanan sosial kemasyarakatan.

Secara spesifik dan terukur, Harris bersama wakilnya, H Zardewan melakukan berbagai inovasi pelayanan kesehatan yang terus dikembangkan sesuai dengan kondisi dan tuntutan masyarakat, dengan harapan agar seluruh warga Kabupaten Pelalawan hidup sehat.

Sejak menjadi menjadi kabupaten sendiri, daerah yang populer dengan motto ”Tuah Negeri Seiya Sekata” ini mencoba untuk bangkit dan membangun kemandirian daerah melalui pengembangan potensi yang ada, termasuk di bidang kesehatan.

Ads
Sekiranya ada mengingat bahwa kawasan ini pada era Orde Baru adalah ”dusun tua”, mungkin hanya sedikit yang menyangka bahwa Kabupaten Pelalawan bisa sesukses seperti sekarang ini. Jika dulu banyak yang tidak memperhitungkannya, namun sekarang tidak ada lagi alasan untuk meragukan kabupaten pemekaran di Riau ini dengan berbagai potensinya.

Untuk mewujudkan masyarakat Pelalawan yang sehat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, perlu keseriusan dan keuletan.

Setelah sukses dengan beberapa program inovasi kesehatan sebelumnya, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan dibawah pimpinan seorang bupati yang dikenal inovatif dan visioner serta sangat gesit dalam menjalankan program, kembali berinovasi.

Melalui Dinas Kesehatan (Diskes), Pemkab Pelalawan kembali meluncurkan program inovasi layanan kesehatan yang disebut dengan public service center (PSC) atau layanan mobil ambulans gratis.

https://www.potretnews.com/assets/imgbank/17052017/potretnewscom_s3tdp_898.jpg
Puskesmas Kecamatan Ukui yang berstatus bintang 4 di Riau.

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Oleh karenanya Pemkab Pelalawan terus melakukan berbagai inovasi pelayanan di bidang kesehatan untuk masyarakatnya.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat, seluruh puskesmas menyediakan layanan mobil ambulans gratis bagi warga yang sakit dan memerlukan bantuan ambulans.

Tujuan layanan ini adalah untuk memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat Pelalawan yang sedang sakit dan memerlukan mobilitas dari tempat tinggal ke puskesmas dan diberikan rujukan ke rumah sakit dalam kota ataupun luar kota dengan waktu pelayanan adalah 7 hari per 24 jam.

Maksud dari program ini adalah guna meningkatkan pelayanan kesehatan agar orang sakit dapat segera ditangani penyakitnya secara cepat, dengan diantar ke pusat kesehatan masyarakat atau rumah sakit.

Seluruh biaya operasional layanan ambulans gratis ini disediakan oleh Pemerintah Kabupaten. Inovasi pelayanan kesehatan masyarakat ini merupakan pengembangan dari program Pelalawan Sehat.

Mekanisme untuk mendapatkan pelayanan ambulance gratis ini, diperuntukkan bagi semua masyarakat yang berdomisili dan memiliki kartu tanda penduduk (KTP) serta kartu keluarga (KK) Pelalawan.

Semua masyarakat Pelalawan yang sedang sakit keras dan memerlukan bantuan ambulans sehingga perlu dijemput oleh ambulans, masyarakat harus menghubungi nomor telelepon seluler Kepala TU Puskesmas atau sopir ambulans sesuai dengan lokasi kecamatan domisili masyarakat yang bersangkutan.

https://www.potretnews.com/assets/imgbank/17052017/potretnewscom_ubhwd_897.jpg
Suasana di dalam Puskesmas Kecamatan Ukui yang berstatus bintang 4 di Riau.

Saat ini, PSC diberlakukan bagi seluruh puskesmas yang ada di wilayah Kabupaten Pelalawan. Program layanan ambulans gratis ini pelaksanaannya masih per puskesmas, belum berpusat di Dinas Kesehatan.

"Program layanan ambulans gratis atau PSC diperuntukkan bagi warga membutuhkan, bukan hanya yang sakit saja," kata Kepala Diskes Pelalawan dr Endid Romo Prtatiknyo, baru-baru ini.

Dia mencontohkan, layanan ambulans gratis berlaku bagi, seperti warga yang akan melahirkan dan harus dijemput karena kondisinya sudah tidak lagi memungkinkan. "Untuk kasus-kasus emergensi yang pasienya sangat membutuhkan ambulans," terangnya.

Setelah masyarakat menelepon ke puskesmas terdekat, maka pihak puskesmas dengan mobil ambulanya akan segera menjemput ke tempat tinggal warga yang bersangkutan. "Namun program ini masih per puskesmas, untuk ke depannya akan di pusatkan di Diskes," katanya.

Ke depan, imbuh Endid, nantinya ada call center yang berpusat di Diskes, selanjutnya Diskes yang akan mengkoordinir daerah mana terdekat dengan puskesmas untuk pelayanan menjemput pasien yang membutuhkan ambulans.

"Jadi nantinya ada nomor pusat layanan. Program ini masih dalam penyempurnaan, mempersiapkan mobil-mobil ambulans yang sudah ada. Sekarang ini program layanan mobil ambulans gratis masih per puskesmas dan mudahan dalam tahun ini bisa per pusat," tandasnya.

Endid menyebutkan, untuk saat ini program layananan mobil ambulance gratis ini didukung sebanyak sebanyak 20 unit ambulans yang tersebar di seluruh puskesmas yang ada dan rumah sakit.

"Dengan jumlah mobil ambulans yang ada sekarang ini, kita sudah bisa menerapkan program ini, meski masih dibutuhkan beberapa mobil ambulans lagi. Karena rata-rata setiap puskesmas setidaknya harus memiliki dua ambulans," sebutnya.

Diungkapkan Endid, program layanan ambulans gratis ini pada pelaksanaanya sedikit mengalami keterlambatan, mengingat kondisi wilayah yang ada sangat luas. Bahkan ada dua wilayah kecamatan yang kondisinya wilayahnya perlu mendapatkan penanganan khusus.

"Kita agak lambat dalam pelaksanaannya, sebab wilayah kita sangat luas. Untuk dua kecamatan Kuala Kampar dan Teluk Meranti perlu perlakukan khusus dalam program ini. Karena tidak semua wilayah disana daratan," ungkapnya.

Bupati Pelalawan: Tinggal Telepon, Petugas Datang
Program Pelalawan Sehat yang digagas Bupati Pelalawan HM Harris ternyata tidak hanya jadi slogan semata. Program tersebut terus diaplikasikan dengan berbagai kegiatan pembangunan khususnya bidang kesehatan.

"Pencapaian program Pelalawan Sehat, sejak tahun 2011 lalu kita nilai telah berhasil," kata bupati yang berlatar belakang pengusaha itu.

Menurut mantan Ketua DPRD Pelalawan ini, pelayanan kesehatan dilakukan secara merata baik di wilayah kecamatan maupun desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Pelalawan.

"Seluruh masyarakat akan mendapatkan pelayanan kesehatan. Tidak ada lagi masyarakat yang tidak bisa berobat, seluruh pusat kesehatan masyarakat akan melayani," ucap pria kelahiran Langgam, 2 Februari 1950 itu.

Bupati yang pernah menjabat Ketua Asosiasi Dewan Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi) tersebut mengatakan jika masyarakat yang sedang dalam kondisi sakit dan kondisinya tidak lagi memungkinkan maka bisa menggunakan layanan ambulans gratis. Tinggal menelpon makan petugas akan mendatanginya.

"Kalau masyarakat tidak sanggup lagi datang ke puskesmas atau rumah sakit karena kondisinya, bisa memanfaatkan layanan ambulance gratis. Tinggal telpon saja, petugas akan datang. Tapi tidak sembarangan orang yang nelpon Ketua RT atau RW-nya," jelasnya.

Khusus desa yang berada di kawasan hutan, kata Bupati Harris, karena Pemerintah Daerah tidak bisa membangun berupa bangunan fisik maka pelayanan kesehatan dilakukan dengan cara keliling.

"Desa Bukitkesuma dan Desa Toro kita tetap memberikan layanan kesehatan di dalam kawasan hutan. Karena kita tidak bisa membangun fisik maka diadakan layanan kesehatan keliling," tutur suami dari Hj Ratna Mainar tersebut.

Pelalawan Memiliki Puskesmas Bintang Empat
Dua puskesmas di Kabupaten Pelalawan, telah memperoleh akreditasi dari Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (KFKTP). Salah satunya meraih predikat bintang empat.

"Setelah melalui tahapan, dua puskesmas kita berhasil memperoleh akreditasi,” tutur Kepala Diskes Endid.

Dia mengungkapkan, keluarnya status akreditasi tersebut merupakan hasil dari proses survei yang dilakukan oleh tim (survei). "Hasilnya, dua puskesmas di Kabupaten Pelalawan berhasil memperoleh akreditasi," jelasnya.

Selain mengeluarkan akreditasi, puskesmas yang dinyatakan lulus akreditasi mendapatkan status akreditasi, seperti utama, madya dan dasar.

"Puskesmas Ukui berhasil meraih status utama atau bintang empat, sedangkan Puskesmas Pangkalan Kerinci mendapatkan status madya atau bintang tiga," urainya.

Menurut Endid, Puskesmas Ukui menjadi satu satunya puskesmas di Riau yang lulus dengan bintang empat (Utama). "Puskesmas Ukui yang pertama di Riau yang mendapatkan bintang empat atau utama," pungkasnya.

Cerita Desa tanpa Asap Rokok
Selain cerita kesuksesan program kesehatan di atas, ada lagi program percontohan di bidang kesehatan yang sangat jarang bisa diterapkan di daerah lain mana pun di Indonesia, tapi Kabupaten Pelalawan lagi-lagi berhasil dilaksanakan.

Adalah warga Desa Bukitgajah di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, yang lewat peraturan desanya berhasil taat dan kompak untuk tidak merokok di dalam rumah.

"Mestinya mereka menjadi contoh buat kita semua terlebih yang tinggal di perkotaan. Mereka bisa tidak merokok dalam rumah, perkantoran, sarana pendidikan, tempat ibadah. Malu kita (warga perkotaan) kalau tak bisa mencontoh mereka," kata Bupati Pelalawan M Harris dalam kesempatan terpisah, belum lama ini.

Menurut Harris, kebijakan yang dibuat warga desanya itu berpijak pada peraturan bupati (perbup) yang dia teken, yang melarang merokok di kantor dan sarana pendidikan.

"Tidak semua desa bisa melaksanakan hal demikian. Kita mengapresiasi Desa Bukitgajah yang bisa menjadi contoh untuk hidup bersih dan sehat," kata Harris.

https://www.potretnews.com/assets/imgbank/17052017/potretnewscom_qtw7y_895.jpg
Desa tanpa asap rokok di Kabupaten Pelalawan.

Untuk hidup sehat dan bersih, kata Harris, Desa Bukitgajah memang menjadi acuan. Di desa tersebut, tidak ada lagi yang namanya gizi buruk atau kasus DBD. Ini karena semu warganya dan kader posyandu bersama-sama meningkatkan hidup sehat.

Namun di sejumlah perkantoran Pemkab Pelalawan, masih banyak yang merokok di dalam ruangan atau pelataran kantor. Padahal aturan sudah diterapkan untuk tidak merokok.

"Nanti perwakilan desa akan saya undang ke sini (Pangkalankerinci, red). Mereka akan kita berikan reward, biar yang lain sadar. Bahwa masyarakat desa saja mau hidup bersih dan sehat tanpa rokok dalam rumah," tutur Harris.

Menurut Harris, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi ke desa-desa lain, khususnya di Pelalawan. Desa Bukitgajah akan menjadi percontohan terbaik, di mana perangkat desa serta Bhabinkamtibmas dan babinsa-nya bersatu padu dalam menggalakkan hidup bersih dan sehat.

"Walau butuh waktu dan perjalanan yang panjang, namun semua itu harus kita lakukan. Ya memang tidak semudah yang dibayangkan," ujar Harris.

Perjuangan Kades Bukitgajah Larang Warga Merokok di Rumah
Munjirin (46) menjabat sebagai Kepala Desa Bukitgajah di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Dengan adanya aturan desa rumah tanpa asap rokok, kini Munjirin yang sangat candu terhadap rokok langsung ”taubat” dari rokok.

Untuk membuat aturan rumah bebas asap rokok, bukan hal yang mudah. Perlu semangat dan dorongan dari dalam diri sendiri. Sejak tahun 2016, warga Desa Bukitgajah diimbau untuk tidak merokok dalam rumah, di mesjid, di sekolah dan kantor kepala desa. Kebijakan ini dilakukan guna menindaklanjuti Peraturan Bupati Pelalawan, M Harris.

"Kita melakukan sosialisasi sudah dua tahun lebih. Namun sebuah kesepakatan bersama baru sejak September 2016. Semua warga harus mematuhi untuk tidak merokok sembarang tempat," kata Munjirin.

Dia merasa peraturan itu tidak akan berjalan tanpa dirinya bisa menjadi contoh yang baik. Itu sebabnya, sejak ada lembaga Komisi Perlindungan Keluarga Sehat (KPKS), Munjirin pun kini sudah ”mengharamkan” untuk merokok.

"Saya dulu pecandu berat rokok, sehari bisa dua bungkus. Sekarang saya tak merokok lagi. Alhamdulilah saya merasa lebih sehat dan bugar," kata Munjirin saat ditemui di desanya yang terpaut 150 km dari Pekanbaru.

Untuk menegakkan aturan rumah bebas asap rokok, Munjirin menggandeng Bhabinkamtibmas Aiptu Djoko Susilo dan Babinsa Efrizal. "Kita melibatkan unsur Bhabinkamtibmas dan babinsa dalam menegakkan kesepakatan untuk tidak merokok di dalam rumah," kata Munjirin.

Munjirin berhenti merokok selain untuk kesehatan, tentunya juga agar dirinya bisa lebih leluasa mengajak warga untuk hidup sehat. Dia merasa jika dirinya tidak memberikan contoh yang baik, tentunya dia akan ditentang warga desanya sendiri.

"Saya tidak melarang warga untuk merokok. Tapi saya mengajak, agar mereka yang candu rokok jangan merokok ditempat-tempat yang sudah dilarang," kata Munjirin.

Tentunya dia juga berharap warga desanya yang candu rokok, bisa mencontoh dirinya yang telah berhenti merokok. "Kalaupun belum bisa berhenti merokok, paling tidak mereka jangan sembarangan merokok," tutur Munjirin.

Jika melihat pesatnya pembangunan Kabupaten Pelalawan dalam kurun beberapa tahun terakhir, seolah-olah kawasan ini seperti telah berdiri puluhan tahun lampau.

Padahal, Pelalawan yang kita lihat hari ini bukanlah dibangun dalam satu malam seperti seperti cerita dongeng atau negeri pewayangan. Tentu ada sosok bertangan dingin dan visioner yang telah bekerja tulus hingga melahirkan program pro-rakyat nan inovatif. Dialah HM Harris! (adv)

wwwwww