PotretNews.com Sabtu 18 Agustus 2018
Home > Berita > Riau

Kisah Pak Polisi Baik Hati, tanpa Alas Kaki Menolong Pengendara yang Terjebak Banjir di Depan RS Awal Bros Jalan Sudirman Pekanbaru

Kisah Pak Polisi Baik Hati, tanpa Alas Kaki Menolong Pengendara yang Terjebak Banjir di Depan RS Awal Bros Jalan Sudirman Pekanbaru

Dua orang Polantas ini menolong dua orang anak-anak melintasi derasnya banjir di depan RS Awal Bros, Rabu (26/4/2017) malam. (foto: goriau.com)

Kamis, 27 April 2017 12:18 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Hujan deras mengguyur Kota Pekanbaru, Provinsi Riau hingga Rabu (26/4/2017) malam. Sejumlah ruas jalan pun tergenang air, termasuk di depan RS Awal Bros Jalan Jenderal Sudirman. Di sini ketinggian air paling dalam sekitar selutut orang dewasa, menyebabkan kendaraan tak bisa lewat.Tak ayal, penumpukan kendaraan terjadi, mulai dari roda dua, mobil hingga Bus Trans Metro. Macet bahkan mengular panjang membelah derasnya hujan malam itu. Mengantisipasinya, polisi lalu lintas (polantas) pun diterjunkan ke lokasi. Tentu ini jadi pekerjaan tak tidak mudah, ditambah macet terjadi akibat luapan air.

Ratusan kendaraan itu bergantung harapan dari beberapa orang polantas ini. Bermodalkan mantel hujan berwarna cerah dan tongkat lampu, demikian ditulis laman GoRiau.com yang dilansir potretnews.com, sekira tiga orang polisi tersebut langsung berjibaku mengurai kemacetan. Awalnya mereka mengecek titik mana yang airnya dangkal dan bisa dilewati mobil.

Segera polantas itu mengarahkan pengendara untuk lewat. Namun hal serupa tidak berlaku bagi roda dua, sehingga banyak di antara mereka yang tak berani melintasi banjir, ditambah arusnya cukup deras. Bagi yang tetap nekat, motor mereka mengalami mogok, sehingga menambah masalah baru.

Ads
Sebagian lainnya memilih lewat di trotoar yang jaraknya hanya beberapa sentimeter dari bibir selokan, tempat meluapnya air akibat guyuran hujan. Bahkan beberapa pemotor ada yang terpeleset masuk ke selokan. Untung saja dapat segera ditolong sehingga tidak berujung naas. Ini juga sama-sama berisiko.

Di tengah-tengah suasana tersebut, ada seorang ibu bersama sepasang anaknya berteduh di bawah pohon. Pakaian mereka bertiga sudah basah kuyup. Bahkan salah seorang anak laki-lakinya sudah menggigil kedinginan. Ibunya memilih bertahan di bawah pohon lantaran tak berani menerjang banjir. Mustahil pula bila mutar balik, karena jalur satu arah.

Entah apa yang menggerakkan salah seorang polantas. Tiba-tiba ia menghampiri si ibu. "Bu kenapa? Tak berani lewat? Anak ibu sudah menggigil kayaknya," kata polantas itu. "Mau pulang pak, tapi takut jatuh atau mogok," jawab si ibu. Kemudian polantas ini memanggil satu rekannya yang tampak sibuk mengatur arus lalu lintas.

Ada perbincangan antara mereka. Setelahnya dua polisi tersebut langsung membuka alas kaki. Mungkin supaya tidak sulit menerobos banjir. Rekannya lalu menggiring motor tersebut, sedangkan polantas yang tadi, menggendong anak lelaki ini ditangan kirinya, dan kakak dari bocah itu ia pegang tangannya di sebelah kanan.

"Jangan takut ya, pelan-pelan aja kita jalan, nggak dalam airnya..nggak dalam," ucap polantas tersebut sambil sedikit demi sedikit melewati arus. Anak laki-laki yang digendongnya tampak santai, sementara kakaknya terlihat agak was-was. Beberapa kali polantas tersebut oleng akibat derasnya air yang bercampur bias ombak dari kendaraan yang lewat.

Ada sekira 10 meter polisi ini melewati genangan air demi menolong dua anak tersebut. Dilihat dari pakaian si kakak, sepertinya masih menggunakan seragam sekolah, lengkap dengan tas. Dia bahkan sempat beberapa kali hampir terjatuh, mungkin lantaran menginjak lubang atau gundukan di dalam air.

Namun dengan sigapa polantas ini menarik tangannya. Tugas yang sama beratnya juga dilakoni rekannya. Dia mesti mendorong motor si ibu melawan derasnya air serta percikan ombak dari mobil yang melintas. Sedangkan orang tua kedua bocah tersebut jalan lewat trotoar yang airnya sedikit lebih dangkal, hingga duluan sampai.

Menyusul di belakangnya dua orang polantas ini. Setelah sampai ditempat yang kering, pak polisi baik hati itu kemudian menurunkan bocah laki-laki yang digendongnya sedari tadi. Terlihat wajah sang ibu senang. "Makasih banyak pak sudah nolong, kalau ndak mungkin lama kami sampai rumah," ungkap si ibu.

"Iya bu, hati-hati berkendara, jalan licin. Pelan-pelan aja. Suruh anaknya pegang kuat-kuat," jawab polantas ini sambil tersenyum. Memang sekilas, raut lelah dan kedinginan tak bisa disembunyikan. Bayangkan saja, yang satu mesti menggendong anak laki-laki sambil memegang kakaknya, dan yang satu lagi mendorong motor untuk melewati banjir.

Sambil ”nyeker”, mereka berdua lalu kembali melewati derasnya air, bergabung dengan satu rekannya yang sibuk mengatur lalu lintas sejak tadi. Entah siapa nama polisi-polisi tersebut, karena seragamnya tertutup mantel. Meski demikian, yang jelas tugasnya malam itu mampu menolong si ibu dan ratusan pengendara lainnya yang terjebak macet.

Bahkan, ketiga polisi ini juga tak ragu ikut mendorong motor yang alami mogok di tengah genangan air. Belum selesai yang satu, ada lagi kendaraan roda dua lainnya yang mengalami mati mesin. Bolak-balik mereka menerobos derasnya banjir, sampai akhirnya situasi terkendali dan kemacetan dapat terurai.

"Kita bertiga mas di sini, dari Polresta Pekanbaru. Sisanya (anggota, red) nyebar ke lokasi lain. Katanya juga ada genangan air," ujar polantas. Memang saat dilihat ke bawah, mereka tidak memakai alas kaki sama sekali, mungkin lantaran berat dan menyulitkan saat melewati banjir. ***

Editor:
Hanafi Adrian

Tour de Siak 2018
wwwwww