PotretNews.com Senin 24 September 2018
Home > Berita > Riau

Siapa Sangka, Pahlawan Nasional Agus Salim Pernah Bersekolah di Riau Ketika Ayahnya Jadi Kepala Jaksa Pengadilan Tinggi

Siapa Sangka, Pahlawan Nasional Agus Salim Pernah Bersekolah di Riau Ketika Ayahnya Jadi Kepala Jaksa Pengadilan Tinggi

H agus Salim.

Sabtu, 22 April 2017 10:38 WIB
Mario Abdillah Khair
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Bicara soal Pahlawan Nasional H Agus Salim, yang terlintas di benak Anda mungkin otaknya yang encer dan jago berdebat, menguasai ilmu agama, dan pemimpin politik yang piawai. Padahal, mungkin, tak banyak yang tahu kalau sebelum di kemudian hari menjadi tokoh besar, dia pernah mengenyam pendidikan di Riau.Dalam banyak literatur, antara lain wikipedia.org ditulis, Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq [berarti "pembela kebenaran"]); lahir di Kotogadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884.

Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS) di Riau, sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Ads
Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi ketua redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta.

Kemudian dia mendirikan Surat Kabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka Kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.

Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:
• anggota Volksraad (1921-1924)
• anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
• Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
• pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
• Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
• Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949

Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang. ***

Tour de Siak 2018
wwwwww