PotretNews.com Selasa 17 Januari 2017
Home >  Berita >  Hukrim

Inilah Kisah Ramadae Lengriana, Dokter di Klinik Riau Madani Pekanbaru yang Membantu Perawatan Pria yang akan Mencelakakannya

Inilah Kisah Ramadae Lengriana, Dokter di Klinik Riau Madani Pekanbaru yang Membantu Perawatan Pria yang akan Mencelakakannya

Dokter Dea menunjukkan bekas darah yang menempel di dinding klinik, Selasa (20/12/2016).

Kamis, 22 Desember 2016 06:39 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Dokter ini sadar bahwa pasien yang dirawatnya mempunyai niat akan mencelakakannya. Namun rasa kemanusiaan menjadikannya tetap memberikan perawatan pada pasien yang belakangan diketahui membawa senjata jenis air softgun, pisau dan alat setrum listrik.
Inilah kisah Ramadae Lengriana seorang dokter umum di klinik berobat Riau Madani di Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru.

Dikutip potretnews.com dari tribunpekanbaru.com, Selasa (20/12/2016) perempuan yang akrab disapa Dea ini kembali menceritakan peristiwa yang dialaminya pada Senin (19/12/2016) kemarin.

Berawal dari kedatangan seorang lelaki yang menjinjing plastik dan menyandang tas ke klinik pada Senin pukul 09.00 WIB. Lelaki bertubuh besar dan tegap itu mengeluhkan sesak nafas dan berharap mendapat pertolongan. Bidan Yesi Ariana yang pertama kali membuka klinik dan mempersilakan lelaki tersebut masuk ke dalam klinik.

Bidan Yesi kemudian menghubungi dr Dea mengabari ada pasien yang datang. Selang beberapa menit dr Dea sampai di klinik. Kemudian datang lagi pasien seorang ibu dengan anaknya. Karena lelaki tersebut duluan datang, maka dr Dea meminta bidan Yesi memanggilnya untuk konsultasi dan pengobatan.

Namun lelaki tersebut meminta pasien yang belakangan datang didahulukan. Baik bidan Yesi maupun dr Dea sama sekali tidak menaruh curiga. Kemudian si lelaki berniat untuk buang air kecil.

Bidang Yesi pun menunjuk ruang di belakang lokasi toilet. Lelaki tersebut kemudian beranjak. Ia meninggalkan bungkusan plastik sedangkan tas masih disandangnya.

Setelah selesai memeriksa pasien, dr Dea meminta bidan Yesi memanggil lelaki tersebut untuk dilakukan pemeriksaan. Namun tidak ada jawaban dari lelaki tersebut.

Bidan Yesi kemudian mendekati toilet dan kembali memanggil. Namun tetap tidak ada jawaban. Di sinilah kecurigaan muncul. Sebab hingga tiga jam lelaki yang tadi ke toilet tidak juga terlihat.

Bidan Yesi dan dr Dea pun mengambil keputusan menutup pintu dokter dan memilih duduk di ruang tunggu depan. Diliputi kekhawatiran dr Dea kemudian menghubungi RW setempat.

Todongkan Air Softgun
Setelah pihak RW datang dan dibantu dengan beberapa orang warga, lelaki berbadan besar dan tegap itu kembali dipanggil. Tetap saja tidak ada jawaban.

Memastikan keberadaan lelaki itu, dr Dea dan RW dan beberapa warga berinisiatif naik ke lantai dua klinik. Kembali dicari-cari lelaki tersebut. Barulah ditemukan di lelaki tengah duduk selonjor di sebuah tangga dekat kamar mandi.

Saat didekati lelaki tersebut mengaku sesak nafas. Mendengar keluhan tersebut dr Dea meminta lelaki tersebut turun dan kembali diperiksa. Padahal saat itu dr Dea sudah sadar bahwa orang yang ditolongnya itu membahayakan karena membawa alat setrum dan ada bagian gagang air softgun yang tampak dari pinggang.

Namun karena mengkhawatirkan kondisi lelaki tersebut dr Dea memberanikan diri dan meminta lelaki tersebut berbaring di ruangan pemeriksaan.

Syukurnya saat pemeriksaan dr Dea didampingi RW dan beberapa warga di dalam ruangan. Saat dr Dea tengah memeriksa pihak RW mendapati alat setrum milik lelaki tersebut.

Saat dipertanyakan lelaki itu memberikan jawaban yang tidak jelas. Kemudian ditanyakan identitas, lelaki itu marah dan langsung mengeluarkan air softgun kemudian menodongkannya ke semua yang ada di dalam ruangan termasuk dr Dea.

Reflek dr Dea menghindar dan bersembunyi di bawah meja. Semua tegang dan diliputi ketakutan. Karena tidak ada yang mengetahui senjata yang ditodongkan asli atau tidaknya.

"Saat itu saya takut. Saya takut akan ditembak. Karena lelaki tersebut tampak marah dan menodongkan senjata. Jadi saya langsung lari ke arah bagian depan klinik dan selanjutnya keluar klinik," terang Dea.

Kejadian selanjutnya dr Dea tidak mengetahui persis. Namun menurutnya terdengar suara ribut dan sampai akhirnya RW dan beberapa warga keluar dan ruangan periksa dengan membawa lelaki tersebut yang sudah dalam kondisi berdarah-darah.

Warga pun berinisiatif memeriksa tas yang dibawa. Ternyata isinya dua bilah pisau, lakban, tali tambang. Melihat paralayang yang dibawa dugaan kuat lelaki tersebut akan merencanakan perampokan.

Sudah Diintai
Setelah lelaki tersebut dilumpuhkan warga kemudian menghubungi polisi. Dari pemeriksaan diketahui lelaki tersebut bernama Muhammad Miliki Riza warga Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau.

Keberadaannya ternyata sudah diketahui sejak tidak hari sebelum peristiwa tersebut. Bidan Yesi sempat melihat pelaku duduk di depan klinik dan selalu mondar-mandir.

"Dia selalu memakai masker. Saya sangat sekali tidak curiga. Tapi saya pernah melihatnya," ujar Yesi. Terpisah Kanit Reskrim Polsek Bukit Raya AKP Sihol Sitinjak yang dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut.

Menurutnya saat ini pelaku masih dalam pemeriksaan di mapolsek. "Iya memang ada peristiwanya. Pelaku membawa senjata jenis air softgun. Namun kita belum memastikan tindak pidananya. Jadi saya belum bisa memberikan komentar lebih jauh," terang Sihol.

Pasca-kejadian Klinik Riau Madani Tetap Buka.
Demikian juga dengan dr Dea yang tetap melanjutkan aktivitasnya meski ia diliputi kekhawatiran dan ketakutan atas peristiwa yang dialaminya. ***

Editor:
Fanny R Sanusi

RAPP Tahun Baru 2017
Ayla
www www