PotretNews.com Rabu 23 Januari 2019

Riau Bebas Kabut Asap setelah 18 Tahun Terpapar, Tim Satgas Dibubarkan

Riau Bebas Kabut Asap setelah 18 Tahun Terpapar, Tim Satgas Dibubarkan

Ilustrasi.

Kamis, 24 November 2016 18:28 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Tim Satgas Pencegahan dan Pemadaman Karhutla Provinsi Riau dibubarkan karena provinsi sentra perkebunan sawit itu bebas kabut asap pada tahun ini."Upaya sudah berjalan maksimal. Hasilnya, tidak ada kabut asap pada tahun ini," kata Sekretaris Daerah Provinsi Riau Ahmad Hijazi, Kamis (24/11/2016) saat membubarkan Tim Satgas.

Tim Satgas Pencegahan dan Pemadaman Karhutla Provinsi Riau dibubarkan karena provinsi sentra perkebunan sawit itu bebas kabut asap pada tahun ini.

Bencana kabut asap selalu terjadi selama 18 tahun, saat musim kemarau di Riau. Hal itu diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah Provinsi Riau mengklaim keberhasilan Riau menekan angka kebakaran hutan dan lahan tersebut tidak lepas dari koordinasi yang baik antara TNI, Polri, BPBD serta peran serta masyarakat yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Karhutla.

Sejak dibentuk pada awal tahun 2016 lalu dengan posko utama yang terletak di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Satgas Karhutla yang dipimpin Komandan Resor Militer 031/WB Brigjen Nurendi terus menggempur titik-titik api baik melalui jalur darat maupun udara.

Selain itu, Polda Riau yang merupakan bagian dari Tim Gakkum memainkan peran dengan baik terhadap para pelaku pembakar lahan. Tercatat, 96 orang tersangka pembakar lahan dan 2 korporasi yang ditangani Polda Riau.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut mencapai 3.902 hektare dari Januari-Oktober 2016 atau berkurang dari tahun lalu mencapai 6.900 hektar. Jika dibandingkan pada 2014 silam, total luas kebakaran hutan dan lahan di Riau mencapai 23.000 hektare.

Namun, aktivis lingkungan hidup Jaringan Penyelamat Kawasan dan Lahan Riau tidak sependapat dengan pemerintah. Made Ali, Wakil Koordinator Jikalahari mengatakan tahun ini tidak terjadi kabut asap karena badai La Nina.

"Bukan karena upaya pemerintah. Tapi karena badai La Nina yang menyebabkan musim hujan berkepanjangan," katanya.

Berbeda dengan tahun lalu, bencana kabut asap diperparah dengan badai El Nino atau badai musim kemarau berkepanjangan. Kabut asap membuat jarak pandang di bawah 1.000 meter selama 4 bulan. Hal itu membuat aktivitas menjadi terganggu. ***

Editor:
Fanny R Sanusi

Kategori : Pekanbaru, Umum
wwwwww