PotretNews.com Kamis 23 Februari 2017
Home >  Berita >  Rohil

Cara Unik Diskanlut Rohil Beri Bantuan; Langsung ke Laut, Hampiri Nelayan yang Sedang Mencari Ikan

Senin, 26 September 2016 22:45 WIB
Advertorial
cara-unik-diskanlut-rohil-beri-bantuan-langsung-ke-laut-hampiri-nelayan-yang-sedang-mencari-ikan Bupati Rokan Hilir Suyatno berusaha menangkan ikan menggunakan tangguk tatkala panen raya ikan di salah satu kepenghuluan, beberapa waktu lalu.
BAGANSIAPIAPI, POTRETNEWS.com – Sebagai bentuk dukungan pengembangan dan kemandirian usaha terhadap nelayan, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) Provinsi Riau menggulirkan sejumlah program bantuan untuk nelayan.Upaya Pemkab Rohil melalui Dinas Perikanan dan Kelautan setempat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup nelayan, terutama nelayan tangkap di laut terus mendapat pembenahan. Di antaranya, memberikan bantuan kapal dan alat tangkap serta alat bantu lainnya. Lalu, nelayan seperti apa yang prioritas mendapatkan bantuan itu.

Selama ini, banyak dikeluhkan, bantuan yang diberikan kepada nelayan tidak tepat sasaran, secara terbuka dalam diskusi, sejumlah organisasi nelayan berani menyebut, bantuan yang diberikan selama ini tidak tetap sasaran, yang diberikan orang yang tinggal dibukit, atau tidak melaut sama sekali.

Tidak tepatnya sasaran berimbas kepada tidak maksimalnya bantuan yang diberikan sehingga yang menerima bantuan menjual kembali kapal dan alat tangkap yang diberikan, akibatnya tujuan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, belum maksimal.

Ads
	https://www.potretnews.com/assets/imgbank/22092016/potretnewscom_f62r3_588.jpg
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Rokan Hilir M Amin (tengah) berbincang dengan nelayan setempat, beberapa waktu lalu.

Meyikapi itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Rokan Hilir mengubah cara mencari nelayan yang akan diberi bantuan. Mereka turun langsung ke laut, menghampiri nelayan yang sedang mencari ikan, terutama nelayan yang masih mendayung sampan atau kapalnya.

Ibarat mendapat durian runtuh, sang nelayan merasa gembira. Namun, SKPD terkait tidak langsung berpuas sampai di situ. Mereka juga harus mendatangi rumah nelayan tersebut untuk melihat kehidupan real nelayan itu, apakah nelayan miskin atau nelayan berada.

Jika memang nelayan miskin, maka langsung diminta datanya, baik berupa fotokopi KTP atau KK serta kelengkapan lainnya untuk diprioritaskan mendapat bantuan kapal motor, 1 GT atau 3 GT.

Lantas, efektifkan cara ini untuk meningkatkan taraf hidup nelayan, dan dijaminkah pola seperti ini nelayan yang mendapatkan bantuan tidak lagi menjual kapal motor atau alat tangkapnya?

Menjawab itu, perlu dilihat dari dekat kehidupan nelayan. Nelayan di Rokan Hilir masih jauh dari yang diharapkan. Mayoritas, mereka hidup pas-pasan, bahkan banyak yang masih melarat, meski setiap hari, mereka bergelimang ikan dan hasil laut lainnya.

Padahal mereka sudah bekerja keras, pergi melaut hingga berhari-hari, kadang kala pulang tanpa membawa hasil yang maksimal dan juga sering mengalami kerugian, ikan dan hasil laut yang didapat, tidak mampu mencukupi pembiyaan pergi melaut.

Mirisnya kehidupan nelayan terlihat jelas dari rumahnya, bangunannya hampir rubuh, tak bisa diperbaiki, karena tidak memiliki uang, mereka hanya berupaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, belum memikirkan perbaikan rumah.

Dari cerminan itu, mereka masih miskin, kemiskinan disamping berimbas kepada sulitnya pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, juga berpengaruh terhadap pendidikan anak. Banyak anak nelayan yang putus sekolah, alasan klasik selalu dikemukakan, orang tua tak sanggup lagi menyekolahkan anak dan ada juga anak yang tak mampu berjalan kaki kesekolah yang jauh setiap hari, karena tidak adanya sepeda motor.

Nelayan kadang kala memang tak mampu membeli sepeda motor, harapan leasing juga pupus, karena leasing kurang memberi kepercayaan, alasan, penghasilan nelayan tidak tetap dan melihat rumah yang reot saat survei, mereka tidak yakin, akan mampu mengangsur kredit sepeda motor jika diberikan.

Satu-satunya cara agar mereka bisa bangkit, perlu campur tangan pemerintah, diawali memberikan bantuan.

Bantuan yang disediakan pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Rokan Hilir cukup banyak, mulai dari alat tangkap sampai kapal. Bantuan diberikan kepada nelayan, terutama yang berada di Kecamatan Pasir Limau Kapas, Sinaboi, Bangko, Pekaitan, Kubu, Kubu Babussalam, Tanah Putih, Tanah Putih Sedinginan.

Belakangan, Dinas Perikanan dan Kelautan tidak hanya fokus terhadap nelayan tangkap, tapi juga memberikan bantuan kepada nelayan budi daya, di antaranya dengan menyediakan bibit ikan lele serta ikan lain secara gratis, dengan pemijahan sendiri, syaratnya mudah, harus memiliki kolam minimal 5 x 10 meter, bibit dijemput sendiri.

Nelayan juga dibantu fiber, agar pengiriman ikan ke mana-mana mudah serta bantuan bibit ikan yang didatangkan dari luar daerah, untuk jenis-jenis ikan air tawar.

https://www.potretnews.com/assets/imgbank/22092016/potretnewscom_tqadx_589.jpg
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Rokan Hilir Abdul Kosim (kiri) menyerahkan bantuan kepada nelayan setempat, beberapa waktu lalu.

Bantuan tersebut diberikan kepada nelayan dengan sistem seleksi. Tak bisa dipungkiri, sejak beberapa tahun belakangan, sistem seleksi menjadi pertanyaan berbagai pihak. Bahkan dalam berbagai forum, organisasi nelayan berani menyatakan, yang diberi bantuan sarat KKN, sehingga ada yang dapat bantuan diistilahkan “orang bukit” atau bukan nelayan sama sekali.

Ya, efek ini sangat besar, setelah mendapatkan bantuan dari Pemkab Rohil, nelayan palsu ini menjual bantuan yang didapat, lagi-lagi semua pihak dikibuli dan nelayan asli tak bisa berkutik.

Berbagai proposal sudah dilayangkan nelayan, namun bantuan tak kunjung dapat, sehingga mereka mulai putus asa, dengan sistem seleksi mendapatkan bantuan tersebut.

Namun, terjadi perubahan drastis untuk perbaikan seleksi penerima bantuan. Dinas Perikanan dan Kelautan, turun langsung kelaut, mencari nelayan yang layak mendapatkan bantuan. Nelayan yang sedang melaut, terutama yang menggunakan sampan dayung, tiba-tiba didekati.

Nelayan yang disambangi di tengah laut, menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, M Amin, pada awalnya terkejut. Namun setelah diberi penjelasan, senyum kegembiraan pun keluar dari mulut dengan raut wajah ceria dengan kulit yang sangat hitam berjemur di laut. (adv/pemkab)

Kategori : Rohil, Umum, Pemerintahan
loading...
www www