Home > Berita > Riau

RSUD Arifin Achmad Diduga Tak Serius Menangani Pasien ISPA yang Kritis, Bukannya Sigap Ambil Tindakan, Dokternya Malah Tanya ke Istri Si Sakit, ”Ada Masalah Keluarga Apa...?”

RSUD Arifin Achmad Diduga Tak Serius Menangani Pasien ISPA yang Kritis, Bukannya Sigap Ambil Tindakan, Dokternya Malah Tanya ke Istri Si Sakit, ”Ada Masalah Keluarga Apa...?”

Alfius saat dirawat di RS Santa Maria.

Sabtu, 03 Oktober 2015 11:07 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru, Riau, lagi-lagi jadi sorotan publik. Kali ini buruknya pelayanan disesalkan seorang penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bernama Alfius Sacha Werus (36).


Dalam kondisi tak sadarkan diri dan kejang-kejang, Alfius dirujuk dari posko penanganan Ramayana ke RSUD, Kamis (1/10/2015) sore. Namun setelah sampai di IGD, penderita ISPA ini merasa tidak ditangani dengan semestinya, dan terkesan dibiarkan, sampai Alfius memutuskan untuk pulang ke rumah. "Saya di sana sudah kayak kambing sakit. Untung saya pingsan. Istri baru cerita pas sudah di rumah. Ketika sampai di IGD cuma dikasih oksigen, itu pun nggak full, takut habis katanya. Jadi cuma 5 kilogram saja yang dibuka. Istri saya minta full karena kondisi saya sudah tak sadarkan diri," tukas Afius seperti dikutip potretnews dari GoRiau.com.

"Malahan dokternya tanya ke istri begini, ada masalah keluarga apa. Kok malah ke sana (pertanyaannya). Harusnya dia tanya tentang penyakit. Ini habis dipasang oksigen dan diperiksa pakai stetoskop, dokter dan perawatnya pergi. Sampai akhirnya saya siuman dari pingsan. Rasanya badan saya kebas semua, saya lihat ada istri dan anak di samping," ceritanya.

Dua jam usai dibawa ke IGD, Alfius pun memutuskan pulang, lantaran pihak RS dinilainya tidak maksimal dan mereka terkesan mengabaikan. Saat itu Alfius hanya berinisiatif sendiri agar bisa bernafas normal (karena dokter tak datang-datang).

"Pas sudah mendingan, saya merentangkan tangan, agar paru-paru meregang, lalu mengganjal punggung dengan tas, supaya oksigen dapat mengalir. Saya pernah dapat teori itu," ulasnya.

"Daripada saya mati di RS karena tidak ditangani dan dibiarkan, mending di rumah, kalau pelayanan begini, istri saya juga pandai di rumah. Saya suruh urus administrasi dan saya bayar Rp84 ribu. Paling menyebalkannya saat orang tua saya suruh perawat buka infus, perawatnya bilang cabut sendiri aja. Padahal saya bayar lho, kenapa bisa begini," sindirnya.

Ternyata apa yang ditakutkan Alfius dan keluarganya benar. Selang beberapa jam sampai di rumah, tepatnya pukul 23.00 WIB, Kamis malam, Alfius pun dilarikan ke puskesmas terdekat karena kesulitan bernafas. Puskesmas merujuknya agar pergi ke RS. "Saya nggak mau lagi di RSUD, makanya saya pilih ke Santa Maria saja," katanya.

"Penanganannya luar biasa, saya dipasangi oksigen full, pertolongan pertama bagus, mereka periksa tensi, jantung, pasang alat di jari (saya nggak tahu namanya,red), dan dikasih obat. Mereka juga selalu mantau perkembangan dan juga kasih saya obat agar bisa istirahat, sampai saya dinyatakan pulih dan bisa pulang jam 01.00 WIB, Jumat dinihari," paparnya.

Tak Punya Riwayat Sakit Pernafasan, Alfius Nilai Pemerintah Kejam

Dalam kondisi sakit, Alfius melanjutkan, bahwa selama ini ia tak punya riwayat asma atau sakit terkait pernafasan. "Saya tidak pernah sakit paru- paru, TBC, radang paru dan lain sebagainya. Memang beberapa hari ini saya sudah merasa tak enak badan karena asap," sebutnya saat ditemui di rumahnya, di Kecamatan Rumbai Pesisir.

Puncaknya ketika ia pulang dari rumah mertuanya di Tj Rhu, Kamis sore. Waktu itu ia tiba-tiba sesak nafas parah dan pandangan sudah gelap. "Saya sedang bawa motor, istri saya di belakang pakai motor sendiri. Saya paksakan untuk jalan terus sampai ke posko Ramayana, agar dapat pertolongan pertama, sekalian minta oksigen," ingatnya.

Setibanya di sana, Alfius diberi penanganan awal dengan selang oksigen. Darisana ia pun dirujuk ke RSUD Arifin Achmad, namun dia merasa tidak ditangani maksimal di sana. "Saya beruntung, karena sakit saat sore, coba kalau sakit tengah malam, apa poskonya buka? Pemerintah memang kejam," mirisnya.

Beralasan, mengingat kebijakan yang ada, adalah posko harus merujuk pasien ke RS terdekat. Lalu bagaimana jika pasien sakit di saat posko masih tutup?. "Nggak mungkin orang sesak nafas harus nunggu posko buka dulu. Ini sama halnya menyuruh warga mati," tandasnya.***

(Akham Sophian)
Kategori : Riau, Pekanbaru, Peristiwa
Sumber:GoRiau.com
wwwwww