PotretNews.com Selasa 22 September 2020

Hirup Asap, Ibu Hamil di Riau Khawatir Janinnya Tak Terlahir Sempurna

Hirup Asap, Ibu Hamil di Riau Khawatir Janinnya Tak Terlahir Sempurna

Farisa, bocah berusia 5 tahun, menjalani pengobatan nebulizer akibat sesak nafas terkena kabut asap hasil kebakaran hutan di Pekanbaru, Riau. (foto: antara/fb anggoro)

Senin, 14 September 2015 06:06 WIB
JAKARTA, POTRETNEWS.com - Kebahagiaan Mulyani, warga Riau, menguap bersama asap yang menyelimuti tempat tinggalnya. Sudah dua pekan dia dan seluruh warga Riau dipaksa menghirup udara bercampur kabut asap.
“Seharusnya saya bahagia karena tiga bulan lalu dinyatakan positif mengandung buah cinta dengan pasangan hidup saya," kata Mulyani. Namun kini Mulyani khawatir janin yang ia kandung nantinya terlahir tak sempurna lantaran dia terus-menerus menghirup kabut asap.

“Kekhawatiran terbesar saya jika kondisi ini terus berlanjut adalah melahirkan anak dengan tubuh yang tidak sempurna dan kemampuan otak yang rendah, karena menurut dokter, anak yang terkena kabut asap akan tumbuh menjadi idiot," kata Mulyani.

Calon ibu itu mengatakan, kabut asap hilang dan timbul hampir setiap tahun di Riau. “Sudah terlalu banyak dampak asap ini terhadap kehidupan kami," kata Mulyani.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang menimpa Mulyani dan warga Riau. Mereka bahkan sulit untuk pergi dari kepungan asap lantaran penerbangan di bandara setempat tak beroperasi. Sialnya lagi, penerbangan di wilayah tetangga mereka, Jambi dan Palembang, juga bernasib sama: kerap tak beroperasi. Anak-anak di Riau terpaksa diliburkan dari sekolah akibat bencana kabut asap. Suasana sehari-hari jauh dari normal. Rona kegembiraan lenyap dari wajah bocah-bocah.

"Mereka tidak saja libur dari kegiatan belajar, tapi juga dari kegiatan bermain,” ujar Mulyani.

Keluh kesah Mulyani itu ia sampaikan dalam sebuah petisi yang disebar lewat situs Change.org. Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam, petisi itu telah ditandatangani oleh lebih dari 80 orang.

Petisi itu ditujukan kepada tiga pihak, yakni Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, Presiden Joko Widodo, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Mulyani menuntut penetapan darurat asap di Riau, penetapan bencana kabut asap sebagai bencana nasional, dan penindakan tegas terhadap perusahaan pembakar lahan.

Sementara itu, Menteri Siti Nurbaya sudah berjanji akan menindak perusahaan-perusahaan yang diduga melakukan pembakaran lahan. “Pekan depan, Senin dan Selasa, kami akan formulasikan regulasinya bersama beberapa akademisi,” kata dia.

Di sisi lain, Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali mengatakan, dampak negatif polusi terhadap kandungan tergantung pada tingkat pencemaran yang terjadi sehingga para korban tidak perlu buru-buru berpindah ke tempat lain.

"Kepindahan dari lokasi berpolusi dilakukan bila Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melebihi 'Sangat Berbahaya'," kata Imran.

Dia mengimbau ibu hamil agar membatasi diri keluar rumah, banyak mengonsumsi serat dan vitamin, serta minum cukup air. Menurut Imran, belum ada penelitian yang menunjukkan pengaruh polusi asap terhadap kandungan manusia.***

       
        Loading...    
           
(Akham Sophian)
Kategori : Pekanbaru, Lingkungan
Sumber:cnnindonesia.com
wwwwww