Bocah Meninggal Diduga akibat Asap di Pekanbaru, Kadiskes Riau Sampaikan Dukacita

Bocah Meninggal Diduga akibat Asap di Pekanbaru, Kadiskes Riau Sampaikan Dukacita

Jenazah Muhanum saat diusung ke pemakaman.

Sabtu, 12 September 2015 09:17 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Andra Sjafril SKM menyatakan ikut prihatin dan berduka atas meninggalnya seorang bocah warga Pekanbaru yang diduga karena gangguan pernapasan akibat kabut asap.
Andra kepada wartawan saat konfrensi pers di Jalan Kapau Sari, Kecamatan Tenayan Raya, Jumat (11/9/2015), mengaku sudah keluarga korban bernama Hunarum Angriawati tersebut. Menurut Andra, gangguan pernapasan yang dialami Hunarum merupakan imbas dari kabut asap, namun bukan penyebab utama.

"Jadi begini, memang betul anak kita itu jatuh sakit ketika kabut asap menyelimuti Pekanbaru. Apa yang dihirupnya kemudian memicu gangguan pernapasan, tapi bukan penyebab utama," terang Andra. Terkait biaya pengobatan Hunarum yang kabarnya mencapai puluhan juta, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Ahmad Pekanbaru akan berkoordinasi. "Akan dikordinasikan. Tadi sudah disampaikan juga kepada keluarganya.

Dinas Kesehatan akan membantu, begitu juga rumah sakit. Akan diringankan," pungkas Andra. Seperti diberitakan sebelumnya, Hanarum Anggriawati meninggal dunia saat dirawat di RSUD Arifin Achmad, Kamis (10/9/2015) siang sekitar pukul 13.00 WIB. Ayah Hanarum, Mukhlis, mengatakan, putri sulungnya tersebut mengalami gagal pernafasan akibat paru-parunya disesaki lendir atau dahak. "Sebelumnya anak saya tidak pernah mengeluh," kata Mukhlis .

Namun pada Jumat pekan lalu, anak tersebut pingsan dan kemudian dirawat selama sepekan di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Ahmad, di Jalan Diponegoro, Pekanbaru. Anak kelahiran 5 Agustus 2003 ini tercatat sebagai murid kelas 6 Sekolah Dasar (SD) Negeri 171 Kulim, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

"Saat masuk ke ruangan, kami sudah mencemaskan anak kami akan dijemput oleh Yang Maha Kuasa. Tapi setelah keluar ruangan, kami lebih ditakutkan lagi dengan biaya tagihan rumah sakit yang besar," kata Mukhlis. Untuk pembelian obat anti biotik dan obat lainnya sesuai resep dokter, katanya, butuh Rp5 juta untuk sehari semalam. Selama sepekan terakhir, menurut Mukhlis, total biaya perawatan anaknya sudah lebih dari Rp28 juta.***
(M Yamin Indra)
Sumber:liputan6.com
wwwwww