Home > Berita > Riau

Pemerintah Tempuh Empat Strategi Atasi Darurat Asap

Pemerintah Tempuh Empat Strategi Atasi Darurat Asap

Kegiatan water bombing menggunakan helikopter Kamov KA 32A11BC untuk memadamkan sejumlah titik api di wilayah Kalimantan Barat, Kamis (3/9/2015). Kegiatan water boombing untuk memadamkan kebakaran hutan dilakukan di Kabupaten Kubu Raya.

Minggu, 06 September 2015 22:51 WIB
JAKARTA, POTRETNEWS.com - Kepala Pusat Data dan Informasi sekaligus Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa paling tidak ada empat strategi dalam operasi darurat asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Dalam keterangan pers hari ini, Sutopo mengatakan bahwa strategi pertama dilakukan melalui operasi hujan buatan dan water bombing dengan menggunakan tiga unit pesawat Casa C-212 Aviocar. Pesawat itu digunakan untuk menyebar 115 ton garam untuk memancing hujan buatan di awan Riau, 40 ton garam di Sumatera Selatan, dan 22 ton garam di Kalimantan Barat.

Substrat garam disebar di lokasi awan-awan benih hujan berkumpul. Jadi informasi awal keberadaan awan penyimpan potensi hujan ini harus terlebih dulu ada secara akurat, barulah pesawat terbang pembawa garam ini diterbangkan.

Selain itu, 13 unit helikopter diterbangkan untuk pengeboman dengan air. Tiga unit di antaranya dioperasikan di Riau, dua unit di Sumatera Selatan, dua unit di Jambi, dua unit di Kalimantan Barat, dua unit di Kalimantan Tengah, dan satu unit di Kalimantan Selatan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengerahkan satu unit pesawat Air Tracktor di Riau.

Strategi kedua berupa pemadaman melalui jalur darat oleh tim gabungan dari komponen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Kepolisian Indonesia, mahasiswa pencinta alam, dan masyarakat umum. Di setiap provinsi, telah dikerahkan lebih dari 1.500 personel untuk operasi itu. Namun, karena jumlah titik api dan luasan wilayah serta kondisi nyata medan operasi yang berat, jumlah personel itu masih jauh dari cukup.

Adapun langkah ketiga adalah operasi penegakan hukum oleh polisi dan pejabat pegawai negeri sipil (PPNS). Sedikitnya 39 kasus kebakaran hutan di Sumatera sepanjang tahun ini telah ditangani oleh Polri, sedangkan PPNS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyegel lahan-lahan yang terbakar.

Penegakan hukum juga akan terus ditingkatkan dengan mengerahkan para personel Polri dan PPNS guna memburu para pembakar. Adapun aparat TNI disebar untuk melakukan patroli dan menjaga daerah-daerah yang sering dibakar.

Strategi keempat adalah pelayanan kesehatan dan sosialisasi, termasuk di antaranya maklumat pelarangan membakar hutan dan lahan oleh semua kepala kepolisian daerah(Kapolda) di enam provinsi lokasi kebakaran hutan dan lahan. Ribuan masker sudah dibagikan kepada masyarakat. Berdasarkan data di Sumsel, ada 22.555 jiwa yang menderita infeksi saluran pernapasan bagian atas, sedangan di Riau terdapat 1.002 jiwa.

Hari ini, Presiden Joko Widodo mengunjungi Sumatera Selatan untuk melihat lebih dekat operasi darurat asap di Sumatera dan Kalimantan. Gubernur Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah telah menetapkan status Siaga Darurat di sejumlah daerah di wilayahnya masing-masing. (Baca Presiden Perintahkan Polisi Tindak Tegas Perusahaan Pembakar Hutan)

Berdasarkan laporan di setiap wilayah, jarak pandang di Pekanbaru, Riau, hanya mencapai 300 meter. Sementara itu, jarak pandang di Rengat dan Pelalawan hanya 200 meter, 2.000 meter di Dumai, 1.000 meter di Jambi, dan 500 meter di Banjarmasin pada pagi hari.

Dalam khazanah penerbangan, jarak pandang aman minimal bagi penerbangan adalah 1.200 meter dengan mata telanjang tanpa bantuan alat navigasi atau optik apa pun. Jarak pandang secara visual lebih pendek dari 1.200 meter menjadi salah satu indikator penutupan operasionalisasi sementara bagi bandar udara.

Sumber:Kompas.com
wwwwww