PotretNews.com Selasa 24 April 2018

Misteri Legenda Batu Bentuk Kepala Kerbau di Mesjid Jami’ Airtiris Kampar Riau

Misteri Legenda Batu Bentuk Kepala Kerbau di Mesjid Jami’ Airtiris Kampar Riau

Batu bentuk kepala kerbau di Mesjid Jami’ Airtiris Kabupaten Kampar, Riau.

Helmy Syamza
Selasa, 15 Desember 2015 14:41 WIB
KAMPAR, POTRETNEWS.com - Sebelum ini saya telah menulis beberapa kisah-kisah misteri dan mitos semisal perigi tua yang airnya berkhasiat untuk penyembuhan suatu penyakit yang wujud mesjid-mesjid lama yang berusia ratusan tahun di Pulau Jawa.Di daerah Riau, wujud sebuah mesjid bernama Mesjid Jami’ Airtiris yang terletak di Jalan Pasar Usang, Desa Tanjungbarulak, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar. Daerah Kampar beribunegeri di Bangkinang ini juga dikenal sebagai ”Serambi Mekkah”-nya di Provinsi Riau. Berkaitan Mesjid Jami’ Airtiris ini ada berkembang cerita mistis yang seakan sebuah kepercayaan dan keniscayaan yang tidak dapat lagi untuk dibantah apatah lagi untuk dihapuskan.Sebagian masyarakat percaya, mesjid megah ini menyimpan cerita mistik.

Dikisahkan terjadi pada zaman penjajahan Belanda beberapa kali mencoba membakar mesjid ini, justru tidak pernah berjaya. Menjadikan kisah hebat legenda historis mesjid ini.

Jika cerita ini benar-benar terjadi sudah tentu kita percaya. Karana Allah Swt memang menjaga dan melindungi masjid dari pada bencana dan malapetaka.

Ads
Seperti kita pernah saksikan bagaimana Mesjid Baitturahman Banda Aceh terselamat dari terjahan banjir tsunami beberapa tahun lalu. Tetapi tidaklah sampai masjid ini dikeramatkan dan dipuja-puja seperti pemujaan rumah ibadat pada agama lain.

Kita hanya dianjurkan bersyukur dan meningkatkan ibadat dan ketaqwaan kita kepada-Nya atas perlindungan Allah Swt atas segala bencana dan malapetaka yang menimpa.

Dan yang sangat membimbangkan kita akan kepercayaan masyarakat atas cerita yang berkembang bukan saja untuk menarik pelancong datang ke masjid ini ,malah akan merosakan aqidah umat Islam yang awam keyakinan agamanya.Ketika sebuah kepercayaan dibina berasaskan cerita belaka, dan bukan berdasarkan dalil yang shahih maka jelas itu bukan dari ajaran Islam.

Misalnya Mesjid Jami’ Airtiris ini ada sebuah bak-kolam air tempat wudhu’ di dalamnya ada seketul batu berbentuk kepala kerbau yang keadaan letaknya selalu berpindah-pindah dari sudut ke sudut lain.


Batu itu berjalan sendiri tanpa ada yang memindahkannya. Bahkan, air bening pada kolam tersebut dipercaya berkhasiat: siapa saja yang meminum atau sekadar mengusap air itu ke bagian tubuhnya untuk tujuan sesuatu, akan termakbul doanya.

Alkisah, Mesjid Jami’ Air Tiris ini pernah luput dari 'bencana banjir, ketika hampir semua kawasan dan rumah di sekitarnya tenggelam air'

.."Banjir besar menghanyutkan segalanya dan menenggelamkan rumah panggung di sekitarnya,tetapi air di sekitar masjid sebagai berongga turun dan tak pernah masuk ke ruangan masjid."

Versi cerita Muhammad Ali, yang menjawat sebagai Ketua Pengurus Masjid Jami Air Tiris dan pengakuan beliau menyaksikan sendiri peristiwa tersebut.

Sejarah Pembinaan Mesjid
Mesjid ini dibina pada tahun 1901 M, atas inisiatif seorang ulama dan tokoh legendaris Mesjid Jami’ Airtiris ini bernama Engku Mudo Sangkal (Songkal), sebagai panitia pembangunannya adalah yang disebut dengan ”Ninik Mamak Nan Dua Belas” yaitu para ninik-mamak dari berbagai suku yang ada dalam seluruh kampung.

Tahun 1904 mesjid ini selesai dibangun dan diresmikan oleh seluruh masyarakat Airtiris dengan menyembelih 10 ekor kerbau.

Kini, masjid tersebut dikeramatkan dan banyak diziarahi sejumlah orang, termasuk pelancong asal Singapura dan Malaysia. Pelawat berdatangan biasanya pada bulan puasa dan setelah Hari Raya Idul Fitri yakni hari ke-7 yang dikenal Hari Raya Puasa Enam.

"Masyarakat Kampar ramai di Malaysia kerana pertalian sejarah, silsilah keturunan raja-raja antara kerajaan yang wujud dahulu di Kepulauan Riau dan Semenanjung Malaysia.

Berdasarkan Sulalatul Salatin, kitab sejarah kuno dalam Bahasa Melayu dan menggunakan Abjad Jawi-disebutkan adanya keterkaitan Melaka dengan Kampar,” ujar Muhammad.

Kemudian juga disebutkan Sultan Melaka terakhir, Sultan Mahmud Syah setelah jatuhnya Bintan tahun 1526 ke tangan Portugis, melarikan diri ke Kampar, dua tahun berikutnya wafat dan dimakamkan di Kampar. Dalam catatan sejarah Portugis, disebutkan bahwa di Kampar waktu itu telah dipimpim oleh seorang raja, yang juga memiliki hubungan dengan Raja Minangkabau. ***

Sumber:
[1] id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Jami_Air_Tiris
[2] id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kampar
[3] https://fortunamedia.blogspot.my/


loading...
Kategori : Potret Riau
DPRD Kabupaten Siak 2018
wwwwww