PotretNews.com Kamis 15 November 2018

Duh Kasihan..., Tak Sanggup Bayar Iuran BPJS, 2 Bocah Kelainan Otak Dirawat Pakai Obat Kampung

Duh Kasihan..., Tak Sanggup Bayar Iuran BPJS, 2 Bocah Kelainan Otak Dirawat Pakai Obat Kampung

Dua bocah penderita kelainan otak di Padang terpaksa hanya dirawat keluarganya dengan memakai obat kampung karena tak sanggup mengangsur BPJS. (foto: okezone).

Selasa, 06 Oktober 2015 10:52 WIB

PADANG, POTRETNEWS.com - Indah Susanti (4,5) hanya terbaring di kursi roller hitam, kakinya terlihat bergerak ke kiri kanan dan begitu juga tangannya, sementara tatapan matanya terlihat kosong.

Sementara adiknya Muhammad Rizki (1,5) mengalami hal yang dialami kakaknya Indah, dia hanya tertidur dalam pelukan ibunya kepalanya celingak-celinguk melihat langi-langit rumah yang tak berloteng.

Dua anak pasangan Afrizal (41) dan Lasmi (35) yang tinggal di RT 03 RW 03 Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur, Kota Padang Sumatera Barat mengalami kelainan otak membuat seluruh tubuhnya kaku dan tidak bisa duduk apalagi berjalan.

Saat disambangi Indah Susanti yang memakai baju merah jambu dan celana jeans warna biru hanya terbujur, selama empat tahun lebih ibunya Lasmi (35) merawatnya dengan obat kampung, daun mengkudu yang sudah dikasih bedak.

“Dokter bilang kedua anak saya ini mengalami kelainan otak kecil dan tubuh tegang tubuhnya, Indah sudah kami bawa ke rumah sakit dengan cara rawat jalan, tapi karena BPJS harus dibayar Rp25 ribu sebulan kami tidak sanggup akhirnya kami tidak lanjutkan, selama perawatan itu tidak ada perubahan,” tuturnya, Senin (5/10/2015)

Ads
Indah, kata Lasmi menderita penyakit ini sejak umur kurang satu bulan, namun dia baru berobat jalan ke RSUP M Djamil Padang setelah berusia dua tahun.

“Baru berobat jalan saat Indah berusia dua tahun, pengobatan itu dilakukan selama satu tahun, namun tidak ada perubahan,” tuturnya.

Untuk biaya pengobatan selama setahun itu memakai BPJS, namun karena tidak sanggup membayar angsuran BPJS Rp25.500 setiap bulan akhirnya tidak berobat.

“Dokter bilang dia harus dirawat inap, tapi kami tidak sanggup, akhirnya tiga hari keluar di rumah sakit saya melahirkan Mohammad Rizki,” tuturnya.

Kemudian Rizki berusia satu bulan kurang kembali mengalami hal yang dialami kakaknya tubuhnya tegang sangat kaku, untuk mengganti bajunya saja itu susah sebab tegang.

“Sekarang sudah berusia 1,5 tahun, kami belum pernah berobat ke dokter atau ke rumah sakit, tidak ada uang kami mengobatinya, yang ada BPJS itu hanya Indah saja, kalau Rizki tidak ada,” ucap Lasmi.

Keluarga Lasmi tinggal di pinggiran rel kereta api, rumah semi permanen berukuran 4X6 M hanyalah berupa ruangan lepas dengan sekat pembatas kamar pakai triplek.

Lahan yang mereka tempati bahkan bukanlah milik pribadi, melainkan disewa pada pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI).

“Rumah ini kami yang bangun empat tahun lebih, kami menyewa tanahnya setiap tahun kami bayar sama PT KAI ini Rp1.230.000 setiap tahunnya,” tuturnya.

Di ruangan sempit dan pengap itulah anak pasangan ini, Indah Susanti (4,5) dan Muhammad Rizki (1,5) terbaring lemah.

Lantai beralaskan tikar plastik usang. Lingkungan rumah tidak begitu bersih. Terlihat lalat bebas beterbangan di dalam ruangan.

Suaminya Afrizal bekerja sebagai klining sercive RSUP M Jamil Padang yang berjarak sekira 200 meter dari rumahnya.

“Dengan gaji Rp1,4 juta per bulan tidaklah mencukupi keluarga, untuk mencukupi keuangan keluarga saat dia pulang pada pukul 15.00 WIB, menjadi pemulung gelas mineral di sekitar rumah sakit dan diluar, itulah yang dilakukan tiap hari,” kata Lasmi. ***

(Akham Sophian)
Kategori : Nusantara
Sumber:Sindonews.com
wwwwww