PotretNews.com Selasa 16 Oktober 2018
Home > Berita > Riau

Mulyadi, Wartawan Senior Riau Sekaligus Penerima Press Card Number One Tahun 2011 Tutup Usia

Mulyadi, Wartawan Senior Riau Sekaligus Penerima <i>Press Card Number One</i> Tahun 2011 Tutup Usia

Cover salah satu buku yang ditulis Mulyadi dengan gambar dirinya sendiri.

Sabtu, 27 Mei 2017 22:47 WIB
Muhammad Amin
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau, berduka. Wartawan senior, H Mulyadi tutup usia dalam usia 74 tahun.Mulyadi berpulang ke Rahmatullah pada Sabtu (27/5/2017) pukul 18.10 WIB di RSUD Pekanbaru. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jalan Merpati No.11, Tangkerang Barat serta dimakamkan Ahad (28/5/2017) pagi pukul 10.00.

Lahir di Bandung, 18 April 1943, Mulyadi sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Sastra Prancis, Universitas Padjajaran Bandung. Setamat kuliah, Mulyadi bekerja di harian terkemuka di Jawa Barat, yaitu Harian Pikiran Rakyat. Setelah beberapa tahun di harian terbitan Bandung tersebut, Mulyadi pindah ke Harian Sinar Harapan Jakarta.

Namun perjalanan kariernya di Jakarta tak terlalu lama karena dia jatuh hati pada gadis Melayu Riau, Wan Fauziah, putri Wali Kota Pekanbaru pertama, Wan Abdurrahman.

Ads
Dan semenjak itu, Mulyadi pun memulai karir jurnalistiknya di Riau, tepatnya di Pekanbaru, namun masih di media yang sama yakni Sinar Harapan, hingga akhirnya ia pindah ke Suara Pembaruan karena Sinar Harapan tempatnya bekerja dibredel pemerintah.

Mulyadi merupakan tipe wartawan loyal, karena jarang pindah-pindah media. Sampai pensiun 2000, dia tetap di Suara Pembaruan, bahkan meski sudah tak bekerja lagi, dia tetap mengirimkan tulisan-tulisannya ke Suara Pembaharuan.

Dan sebagai wartawan yang menghabiskan waktunya berjunalistik, H Mulyadi juga tetap menulis di usia senjanya. Bahkan terakhir, Mulyadi merupakan penulis tetap di beberapa media terbitan Riau.

''Beliau adalah wartawan yang gigih, selalu ingin mendapatkan wawancara ekskusif. Bahkan saking ngototnya, beliau pernah masuk ke mobil Presiden Abdurrahman Wahid tanpa izin. Tapi di situlah hebatnya, Gus Dur tetap melayaninya untuk wawancara, dan banyak lagi kisah-kisah perjuangannya untuk mendapatkan wawancara ekslusif yang luar biasa,'' tutur sahabat almarhum, Denny Winson kepada potretnews.com.

Bahkan kata Denny, di usia senjanya, H Mulyadi tetap ingin berkarya, menulis dan menulis, bukan hanya laporan, bahkan sering menulis opini dan tulisan-tulisan lepas lainnya.

Atas kiprah dan dedikasinya terhadap pers Indonesia, pada tahun 2011 Panitia Pusat Hari Pers Nasional (HPN) menganugerahkan Press Card Number One (PCNO) kepada Mulyadi yang diserahkan di hadapan Presiden RI keenam, Prof Dr Susilo Bambang Yudhoyono di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain almarhum, tokoh pers nasional asal Riau yang turut menerima anugerah serupa di hari dan tempat yang sama (berupa pin emas, sertifikat dan kartu) adalah H Muslim Kawi (mantan Ketua PWI Riau/bekas Pemred SKM Genta), H Rida K Liamsi (mantan Ketua PWI Riau/Chairman Riau Pos Group), dan Almarhum Saun Achmad Saragih (mantan Wakil Ketua PWI dan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Riau/pendiri potretnews.com).

Setahun kemudian, Maret 2012, Panitia Pusat HPN juga memberikan anugerah yang sama kepada tokoh pers yang pernah menjabat Ketua PWI Riau H Moeslim Roesli (alm).

Amarhum Mulyadi meninggalkan seorang anak, Muhammad Emille Zola dan dua orang cucu. ***

Kategori : Riau, Umum, Peristiwa
wwwwww