PotretNews.com Rabu 22 Agustus 2018
Home > Berita > Riau

Kisah Ngatmin Akelaras, Peraih Kalpataru dari Sumut yang Punya Jaringan hingga ke Riau; Pernah sebagai Tukang Las dan Ibunya Nyaris Jadi Gundik Tentara Jepang

Kisah Ngatmin Akelaras, Peraih Kalpataru dari Sumut yang Punya Jaringan hingga ke Riau; Pernah sebagai Tukang Las dan Ibunya Nyaris Jadi Gundik Tentara Jepang

Ngatmin Akelaras memegang Kalpataru di lokasi pengembangan bibit aren di Tanjungmorawa.

Sabtu, 11 Maret 2017 19:47 WIB
DELISERDANG, POTRETNEWS.com - Hidup sebagai tukang las dan menjadi guru, belum membuat Ngatmin Akelaras membuat puas. Kemudian 1983 Akelaras menggeluti penangkaran tanaman hingga bisa menerima penghargaan Kalpataru yang merupakan penghargaan tertinggi bidang penyelamatan lingkungan hidup Indonesia.Penghargaan itu diserahkan Presiden Joko Widodo, Jumat, 5 Juni 2015 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada puncak rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Indonesia.

Ngatmin Akelaras lahir di Cot Girek Kecamatan Lhok Sukon-Aceh, 27 Juli 1938 putra dari pasangan Marjono dan Ngadimah, tinggal di Jalinsum Km 12 Desa Bangunsari Kecamatan Tanjungmorawa, Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) tetap gigih melakukan penangkaran tanaman di lahan sekira 1 hektar, memegang teguh tema: Lestari Alamku, Selamat Bumiku.

Dikisahkan, seperti ditulis dalam laman hariansib.com yang dilansir potretnews.com, Akelaras kecil harus diselamatkan dari kehidupan yang sangat memprihatinkan dengan kondisi makan umbi-umbian, pisang dan jagung sebagai pangan, serta pakaian terbuat dari goni dan kulit kayu, berhubung Cot Girek saat itu merupakan daerah jajahan Jepang, terlebih ketika itu Jepang butuh tenaga rodi untuk pembangunan lapangan pesawat terbang.

Ads
Ibunya terpaksa meningalkan rumah perkebunan dan bersembunyi di Punti Lhoksumawe, karena tentara Jepang ingin menjadikannya sebagai gundik, sedang Akelaras dibawa orang lain yang dianggap seperti saudara yaitu Sagem ke Perbaungan. Setelah 7 tahun kemudian ibunya Ngadimah menyusul ke Perbaungan dan mengambil N Akelaras, untuk bersekolah di SR (Sekolah Rakyat) Negeri Batangterap Kecamatan Perbaungan. Kemudian setahun melanjut ke SGB (sekolah guru bantu) dan pindah ke SMP Negeri Perbaungan.

Setelah tamat SMP kemudian orang tuanya pindah ke Tanjungmorawa sehingga dia melanjut ke STM (Sekolah Teknik Menengah) Dwi Warna di Jalan Irian Barat Medan dan tamat tahun 1965. Tamat STM, Akelaras bekerja sebagai kader teknik di PPN Karet III Tanjungmorawa (PTPN III). Bertekad melanjutkan pendidikan, dia pindah kerja sebagai tukang tulis bon di Airport Restauran di Polonia Medan, sembari melanjutkan pendidikan ke ITS (Institut Teknologi Sumatera) sekarang ITM Medan, jurusan teknik mesin hingga program Diploma 3.

Setelah menikah dengan Hj Sania tahun 1971, Akelaras bekerja sebagai tukang las di PT Turba Jati Purna di Aceh yang bergerak di bidang konstruksi. Usai proyek di Aceh, dia dipindahkan ke Merak Kabupaten Serang di Banten, dikirim ke pabrik pupuk di Bontang-Kalimantan dibagian pipa gas. Selanjutnya dikirim ke pabrik semen di Tonasa-Sulawesi sebagai kepala mandor las. Dikirim kemudian ke pabrik pupuk di Gresik-Jawa Timur dan dipromosikan sebagai asisten supervisor di perusahaan pabrik baja di Cilegon.

Saat anak yang paling besar menggelar pesta sunatan, Akelaras pulang ke Tanjungmorawa dan oleh ibunya tidak diizinkan lagi kembali ke Cilegon, karena gaji yang diterima selama itu tidak terkendali. Di Tanjungmorawa, Akelaras menjadi tenaga pengajar SD di sekolah Sekar Gunung, dan turut memperjuangkan agar sekolah itu menjadi Yayasan Taman Siswa Cabang Bangun Sari Kecamatan Tanjungmorawa. Melalui rapat majelis dengan orangtua, Akelaras ditawari menjadi Kepala Sekolah Taman Muda (sekolah dasar), namun diterima sebagai pelaksana kepala sekolah hingga kepala sekolah definitif ada, sekaligus sebagai bendahara majelis.

Melihat situasi keuangan di Yayasan Taman Siswa dengan pembayaran SPP anak didik banyak yang tertunggak membuat operasional sekolah tidak berjalan sebagaiamana mestinya. Guna menutupi uang SPP yang tertunggak, Akelaras membuat penangkaran tanaman dengan memanfaatkan pelajar SD dan SMP bekerja dengan jadwal yang masuk pagi bekerja sore dan pelajar yang masuk siang bekerja di pagi hari, sesuai dengan izin dari orangtua masing-masing.

Penangkaran tanaman semakin berkembang karena hasilnya dipasarkan kepada teman-temannya yaitu penjual bunga di Tanjungmorawa. Sejak itu (tahun 1983), Akelaras mulai mengembangkan bibit di lokasi sendiri seperti bibit durian, coklat dan lain-lain, hingga pihak desa meminta agar dibentuk wadah Kelompok Kerja Penangkar "Tani Masa".

Guna meningkatkan kualitas bibit, 7 Agustus 1997, Akelaras menggagas asosiasi penangkar di Sumut bersama Paris Sembiring, Kanwil Pertanian Sumut Ir Mukri, dan Kepala BPSP Medan Ir Nana. Kegiatan Akelaras semakin berkembang dan bermitra dengan Unit Management Leuser (UML) dalam membentuk pelatihan masyarakat beberapa desa di Sumut dan Aceh. Tidak hanya sekedar memberikan teori, para kader lingkungan juga dibekali keahlian cara pemilihan bibit tanaman serta pembuatan pupuk kompos. Ratusan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dibentuk di desa-desa termasuk di Aceh.

Melalui KSM binaan, dia mencetak kader muda lingkungan di kalangan pelajar dan mahasiswa terkait ilmu tanaman dan lingkungan hidup melalui kegiatan seperti Field trip, PPL dan PKL.Kemudian pembinaan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) seluas 2,6 hektar dengan menanam 250.000 lebih pohon.
Menjalin kerjasama dengan Indonesia Export Training Centre (IETC) dan Japan International Coorporation Agency (JICA) yang fokus pada pembinaan dukungan untuk pelatihan agribisnis skala kecil dan menengah. Akelaras kemudian terlibat aktif dalam organisasi Leuser Development Program yang merupakan salah satu organisasi yang bergerak di bidang konservasi hutan leuser dan orang hutan.

Ketika terjadi bencana Tsunami di Aceh pada, 26 Desember 2004, dia ikut serta mengatasi permasalahan lingkungan hidup dengan melakukan reboisasi pada daerah rentan banjir melalui kerjasama dengan beberapa organisasi dan NGO Internasional seperti Usaid, Oxpam, FAO, Charitaz Cheko Charitaz Perancis dan Keumang.

Dari segi Iptek, Akelaras berhasil mengembangkan jamur fusarium dengan menggunakan pisang barangan untuk keperluan inokulasi gaharu, serta pengembangan sumber daya genetik tumbuhan dengan teknologi kultur jaringan, teknik okulasi dan teknik inokulasi.

Guna meningkatkan kompetensi, Akelaras mengikuti beberapa pelatihan pembuatan kompos dan pemanfaatan bioktivator pengomposan di Fakultas Pertanian USU. Pelatihan How to because a plant doctor di Cabi Global Plant Clinic. Seminar Of Bioagricultural input for sustainble Agriculture di Agriculture UISU Medan, Fuculty Of Agriculture UPM dan German Techinal Cooperation (GTC) Germany.

Hasil pelatihan itu, dia membentuk Klinik Tanaman "Planta" sebagai wadah konsultasi dan pembinaan masalah penanggulangan penyakit dan hama pada tanaman. Klinik tanaman itu merupakan inovasi satu-satunya di Sumatera Utara.

Kegiatan yang dilakukannya berdampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pelestarian sumber daya alam hayati atau sumber daya genetik khususnya tumbuhan lokal yang memiliki keunggulan dan kekhasan lokal seperti durian macik ekur dari Dairi.

Jutaan bibit pohon yang dihasilkan dan ditanam bersama kelompok binaan berdampak signifikan terhadap pelestarian sumber air.

Menurutnya, di usia yang sudah 77 tahun, penghijauan akan terus dilakukan bersama kelompok kerja yang sudah dibentuk. Saat ini, Akelaras mengembangkan penangkaran bibit aren yang akan ditanam di lahan seluas 10 hektar di Sibolangit Deliserdang, bersama KSM yang dibentuk di daerah itu. Disebutkan, produk air nira hasil aren yang mengandung bio etanol dan pemanfaatan kotoran ternak bisa dibuat sebagai bahan untuk pengembangan biogas.

Akelaras, yang kini bekerja sebagai penangkar tanaman pada UD Tani Mas Tanjungmorawa, Sumut, telah membina masyarakat di tepi hutan Deli Serdang, dan membuat kelompok-kelompok untuk melakukan pembuatan bibit tanaman keras seperti mangga, manggis, dan lain-lain.

Selama bertahun-tahun, dia memberikan pinjaman bibit pohon pada warga di sekitar wilayah Aceh, Deliserdang, dan Riau. Warga kemudian membayar setelah bibit tersebut berhasil dipanen.

"Bibit pohon, khususnya pohon keras, pohon mangga. Saya rasa (jumlahnya) sudah jutaan," kata Akelaras, dilansir potretnews.com dari kompas.com via satuharapan.com. Saat ditanya arti Kalpataru oleh Jokowi, Akelaras mengaku tidak memahaminya. Akelaras hanya ingin berbuat sesuatu untuk lingkungan dan menikmatinya. ***

Editor:
Akham Sophian

Kategori : Riau, Umum, Peristiwa
Tour de Siak 2018
wwwwww