PotretNews.com Rabu 12 Desember 2018
Home > Berita > Siak

Sekolah tanpa Air di Desa Maredan Kabupaten Siak; Kepala Sekolah Terpaksa Bawa Jerigen dari Rumah

Sekolah tanpa Air di Desa Maredan Kabupaten Siak; Kepala Sekolah Terpaksa Bawa Jerigen dari Rumah

Salah sekolah yang tak memiliki air di Kabupaten Siak. (foto: detik.com)

Rabu, 08 Februari 2017 11:07 WIB
SIAK, POTRETNEWS.com - Air adalah kebutuhan utama. Mandi, cuci, buang air, dan lain-lain butuh air. Apa jadinya jika sekolah tak memiliki sumber air? Ini cerita kepala sekolah di Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

BERITA TERKAIT:

. Ironi Sekolah Satu Atap di Desa Maredan Kabupaten Siak yang Tak Punya Air

Ads
SD Negeri 18 dan SMP 3 di Desa Maredan, Kecamatan Tualang, Siak, menyatu. Kepala SDN 18, Meri Novita, mengatakan sudah enam tahun dirinya ditugaskan sebagai kepala sekolah (kepsek). Awalnya, SD tersebut hanya sekolah jarak jauh dari induknya SD Negeri 9. Belakangan, sekolah berdiri sendiri menjadi SD Negeri 18. Novita, yang awalnya guru jarak jauh, akhirnya ditetapkan sebagai kepsek.

Di sekolah itu ada 86 siswa dari kelas 1 sampai kelas VI. Karena tidak ada air, kebutuhan kamar mandi menjadi repot. WC ada, tapi airnya nihil. Untuk mengatasi, para guru membawa air dalam jeriken dari rumah ke sekolah. Ada yang mengendarai motor, ada yang menggunakan mobil.

Dalam sehari, kebutuhan air saat musim kemarau minimal 5 jeriken dengan isi 35 liter. Air untuk kebutuhan kamar mandi ini menjadi pekerjaan tersendiri buat para guru di sekolah itu.

"Kami sudah pernah mengusulkan ke dinas pendidikan untuk dibangun sumur bor," kata Novita, seperti dilansir potretnews.com dari detik.com. Selain mengusulkan ke Dinas Pendidikan Pemkab Siak, pihak sekolah sudah pernah meminta bantuan ke perusahaan perkebunan sawit yang ada di sekitar sekolah. Namun usaha tersebut tidak pernah membuahkan hasil.

"Kami tidak pernah menyuruh murid untuk membawa air. Kami tidak merasa keberatan soal kebutuhan air ini," kata Novita. Masyarakat desa setempat pernah bergotong-royong membangun sumur bor untuk sekolah satu atap tersebut. Posisi sekolah di perbukitan ini ternyata menyulitkan untuk penggalian sumur bor.

"Dulu sudah pernah dibuat sumur bor kedalaman 80 meter, tapi airnya tak keluar," kata Novita. Untuk menggali yang lebih dalam lagi, warga tak sanggup. Biayanya terlalu mahal, bisa puluhan juta rupiah. Sekolah ini merupakan potret miris di Siak, daerah yang kaya akan minyak dan gas. ***

Editor:
Fanny R Sanusi

Kategori : Siak, Umum, Peristiwa
wwwwww