PotretNews.com Senin 10 Desember 2018

Ikut Saksikan Pembongkaran Makam Balita 18 Bulan yang Tewas Diduga Tak Wajar, Paman Korban Mengaku Tahu Keponakannya Meninggal saat akan Dikuburkan

Ikut Saksikan Pembongkaran Makam Balita 18 Bulan yang Tewas Diduga Tak Wajar, Paman Korban Mengaku Tahu Keponakannya Meninggal saat akan Dikuburkan

Paman korban, Dwiyatmoko (topi hitam) bersama Ketua LPA Riau, Ester Yuliani saat berada di makam M Zikli, jalan Seroja, Tenayan Raya Pekanbaru, Sabtu siang.(foto: goriau.com)

Sabtu, 28 Januari 2017 13:21 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Ungkap misteri kematian balita 18 bulan bernama M Zikli yang tewas diduga dianiaya pengasuh Panti Asuhan Tunas Bangsa, Jalan Bukitrahayu, Kecamatan Tenayanraya, Pekanbaru, Riau. Polresta Pekanbaru melakukan pembongkaran makam korban.Pembongkaran itu, kepentingan penyidikan dan autopsi untuk memastikan penyebab kematian M Zikli, apakah benar dianiaya atau meninggal karena menderita sakit demam tinggi, sesuai dengan keterangan pihak RSUD Arifin Achmad.

Dilansir potretnews.com dari GoRiau.com, autopsi langsung dilakukan di makam korban di Komplek TPU Jalan Seroja, Kecamatan Tenayanraya, Sabtu (28/1/2017) siang. Serta disaksikan paman korban, Dwiyatmoko, didampingi pihak LPA Riau.

Dwiyatmoko mengaku, dirinya baru mengetahui keponakannya meninggal saat akan dimakamkan oleh pihak panti, Senin (16/1/2017) sore.

Ads
"Saya baru tau sore, makamnya sudah dipersiapkan panti. Memang ada merah-merah di badannya," kata Dwiyatmoko dengan mata mulai berlinang air mata, di lokasi pemakaman.
"Awalnya dia (Lili) tak mau bilang kalau yang meninggal itu keponakan kami. Setelah kami desak, dia mengaku dan beri santunan Rp10 juta," imbuhnya.

Pantauan di lapangan, polisi tengah bersiap melakukan pembongkaran makam M Zikli untuk dilakukan autopsi, mengungkap penyebab pasti kematian korban.

Sebelumnya, Dwiyatmoko yang merupakan paman dari M Zikli balita laki-laki berusia 18 bulan melaporkan pihak Panti Asuhan Tunas Bangsa, karena diduga melakukan penganiayan terhadap keponakannya itu hingga meninggal dunia.

Namun, pihak Panti Asuhan Tunas Bangsa, melalui Idang (50) sebagai pengelola, membantah jika balita yang baru beberapa bulan diasuhnya itu mengalami penganiayaan selama berada di panti yang dikelolanya itu.

"Kami tidak ada melakukan penganiayaan, ada 12 anak di sini, semua diperlakukan baik. Jika kami menganiaya, pasti anak-anak yang laing juga mengalami hal yang sama," ujar Idang, Kamis (26/1/2017) kemarin. ***

Editor:
Hanafi Adrian

Kategori : Pekanbaru, Umum, Hukrim
wwwwww