Home > Berita > Riau

Inilah Derita Riau, Provinsi Langganan Bencana Kabut Asap

Inilah Derita Riau, Provinsi Langganan Bencana Kabut Asap

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau di depan patung 'Selamat Datang' yang dipasangi masker pelindung pernapasan. (foto: antara/rony muharrman)

Selasa, 15 September 2015 08:59 WIB
JAKARTA, POTRETNEWS.com - Riau, provinsi di bagian tengah Sumatera yang berlokasi di pesisir Selat Malaka, beberapa tahun terakhir tak pernah lepas dari bencana kabut asap akibat kebakaran hutan. Tahun ini, kabut asap di wilayah itu bahkan lebih parah dari tahun lalu.
Kemarin, Indeks Standar Pencemaran Udara di Riau sudah di atas level berbahaya, menyentuh angka 984 psi (polutan standar indeks), membuat pemerintah menetapkan status darurat asap di provinsi itu. Angka 984 psi itu jauh di atas level tertinggi ISPU, yakni berbahaya, yang hanya sampai 500 psi. Pada level berbahaya saja, kualitas udara menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti iritasi mata, batuk, dahak, dan sakit tenggorokan. Apalagi di atas level berbahaya. Dapat dibayangkan penderitaan warga Riau saat ini.

Seorang ibu di Riau, Mulyani, mempetisi Presiden Jokowi soal bencana kabut asap itu karena khawatir janin yang ia kandung terlahir tak sempurna lantaran dia terus-menerus menghirup asap. “Kekhawatiran terbesar saya adalah melahirkan anak dengan tubuh yang tidak sempurna dan kemampuan otak yang rendah, karena menurut dokter, anak yang terkena kabut asap akan tumbuh menjadi idiot," kata Mulyani.

Mulyani mengatakan kabut asap hilang dan timbul hampir setiap tahun di Riau, namun tak pernah benar-benar pergi. “Sudah terlalu banyak dampak asap ini terhadap kehidupan kami," kata Mulyani.

Tahun lalu, Riau pun diterpa bencana kabut asap kebakaran hutan. Maret 2014, kualitas udara di Riau masuk level berbahaya. Saat itu ISPU di Riau berkisar 300-500 psi. Sejumlah alat pengukur pencemaran udara di Riau ketika itu mencatat polusi di sana berada di level sangat tidak sehat (200-299 psi) hingga berbahaya.

Pada tahun 2013, ISPU di Riau berada di atas level berbahaya seperti yang terjadi tahun ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, ISPU di beberapa wilayah di Riau saat itu tembus angka seribu, tepatnya 1.084 psi. Pemerintah Provinsi Riau pun ketika itu menerapkan status tanggap darurat bencana asap.

Kabut asap melanda Riau tiap tahun karena kebakaran hutan yang terjadi di provinsi itu, juga karena 'kiriman' asap kebakaran hutan provinsi-provinsi tetangga seperti Jambi dan Sumatera Selatan yang terbawa angin hingga ke Riau.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah saat ini mengupayakan pemadaman titik-titik api dengan menggunakan teknik bom air dari pesawat maupun merekayasa cuaca dengan membikin hujan buatan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar kemarin mengerahkan 20 pesawatwater bombing (pengeboman air) dan cloud seeding (pembentukan awan hujan) untuk memadamkan kebakaran hutan di Sumatera.

Sebanyak 18 juta liter air ditumpahkan di Riau, dan 12 juta liter air disiramkan ke Sumatera Selatan. Sementara untuk membikin hujan buatan, 120 tom garam telah ditaburkan di Riau, dan 56 ton garam di Sumatera Selatan dan Jambi.

Selain upaya pemadaman api dari udara, pemerintah juga mengerahkan 1.050 prajurit TNI untuk membantu pemadaman di darat.***

(M Yamin Indra)
Kategori : Riau, Lingkungan
Sumber:cnnindonesia.com
wwwwww