PotretNews.com Kamis 19 Juli 2018

Mencoba Kelezatan Lempuk Durian, yang Kini Menjadi Ikon Pulau Bengkalis

Mencoba Kelezatan Lempuk Durian, yang Kini Menjadi Ikon Pulau Bengkalis

Ahok dan istrinya, Desi, menunjukkan produk lempuk durian buatan mereka di kediamannya di Desa Selatan Baru, Kabupaten Bengkalis, Riau. Lempuk durian menjadi ikon pulau itu. (foto: kompas.com)

Jum'at, 11 Desember 2015 00:09 WIB
BENGKALIS, POTRETNEWS.com - Naluri bisnis Selamat (33), yang lebih dikenal dengan panggilan Ahok, sudah terasah sejak masih remaja. Saat anak-anak seusianya masih mengenyam bangku pendidikan, Ahok justru sudah berkecimpung dalam usaha yang masih dijalaninya sampai saat ini. Usahanya bahkan sudah semakin maju dan terus berkembang hingga kini.Pilihan usaha Ahok bermula dari kecintaannya pada buah durian. Maklum, buah favorit itu melimpah di tempatnya. Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, memiliki musim durian yang dapat dipanen dua kali dalam setahun. Pada puncak musim, harga buah berduri itu dapat menyentuh angka yang sangat murah.

Bermula pada tahun 1991, melihat berlimpahnya durian, memunculkan ide Ahok untuk memulai bisnis makanan menggunakan bahan dasar ”Buah Raja” itu. Ide itu kemudian dibicarakannya dengan ibunya, Aing (70), yang memang gemar membuat kue.

Aing mengusulkan agar Ahok membuat lempuk durian karena komposisi resepnya sederhana. Buah durian hanya perlu dilepas dari bijinya, kemudian ditambah gula dan campuran resep keluarga. Adonan itu kemudian dimasak sampai menjadi kental berupa gumpalan kenyal tetapi lembut.

Ads
”Lempuk durian kami sama sekali tidak memakai bahan pengawet. Kami kapok memakai pengawet karena merusak rasa atau mutu lempuknya,” ujar Desi Aryati (26), istri Ahok saat dikunjungi di kediamannya di Desa Selat Baru, Kecamatan Bantan, Bengkalis, beberapa waktu lalu.

Lempuk buatan Ahok dan ibunya mulanya hanya di pasarkan di seputaran Bengkalis. Ahok pun tidak membuat kemasan sendiri. Dia hanya memasarkan lempuk matang yang disimpan dalam kaleng kedap udara. Lempuk itu dijual secara kiloan kepada toko makanan, yang kemudian mengemasnya dengan merek dagang si pemilik toko.

Keunggulan rasa lempuk buatan Ahok, yang sangat gurih dan empuk, akhirnya sampai ke Kota Pekanbaru, Riau. Toko Mega Rasa, Pekanbaru, salah satu pusat jajanan dan oleh-oleh khas Riau mulai memesan pada Ahok. Mulanya pesanan itu hanya satu sampai dua kaleng (ukuran 25 kilogram) atau 50 kilogram, tetapi lama-kelamaan pesanan meningkat sampai mencapai 2 ton per bulan.

Toko sejenis lainnya milik Haji Amin juga memesan dalam jumlah besar. Toko makanan di Dumai, Selatpanjang, Duri, sampai Batam, Kepulauan Riau, juga meminta pesanan serupa. Ahok sering kali kewalahan dan tidak bisa mengirimkan pesanan karena bahan baku tidak tersedia.

Merek dagang
Tahun 2010, setelah Ahok menyunting Desi sebagai pendamping hidupnya, pola bisnis lempuk duriannya mulai diubah. Pasangan ini bertekad membuat merek dagang sendiri dengan label Citra Rasa. Dengan label baru, mereka memulai pemasaran baru. Tidak lama kemudian, lempuk Citra Rasa yang sejak awal dikenal dengan merek lain beredar di hampir seluruh wilayah Riau, seperti Pekanbaru, Dumai, Duri, Selatpanjang menyeberang sampai ke Batam, Tanjung Pinang, bahkan ke Tangerang, Banten.

Desi yang memiliki pandangan maju, mulai memasarkan lempuk mereka lewat jaringan sosial, seperti Facebook. Sering kali mereka harus mengirim lempuk buatan Bengkalis ke beberapa daerah di Pulau Jawa.

Sampai saat ini, toko Mega Rasa dan Haji Amin masih meminta lempuk kiloan, tetapi Ahok sudah tidak mampu memenuhinya lagi. Permintaan langsung dari pelanggan dengan merek dagang sendiri ternyata sudah menyita kegiatan mereka sehari-hari sehingga hampir tidak mungkin memenuhi permintaan luar dalam jumlah besar.

”Mega Rasa dan Haji Amin masih tetap meminta dalam jumlah besar. Mereka bahkan siap menampung 2 ton per bulan, tapi kami sudah tidak mampu mengirim karena permintaan langsung kepada kami saja sudah melebihi produksi,” kata Ahok.

Meningkatnya permintaan lempuk durian Citra Rasa tidak terlepas dari peran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bengkalis yang ikut membina, terutama dalam pengendalian mutu dan kemasan. Kadin Bengkalis juga terjun langsung membuka gerai di Pelabuhan Penyeberangan Roro Bengkalis-Sungai Pakning.

Di kios penyeberangan itu, pengunjung yang pulang dari Bengkalis dapat membeli oleh- oleh dari perajin makanan usaha kecil, termasuk produk lempuk Citra Rasa. Di gerai Kadin saja, omzet lempuk Ahok mencapai Rp 5 juta per bulan.

”Kami mencoba membantu secara nyata pengusaha kecil di Bengkalis memperbaiki produknya agar dapat memenuhi standar mutu. Khusus untuk lempuk durian, kami memang sedang mengembangkan brand Bengkalis sebagai ’Kota Durian’,” kata Idris Suwardi, Direktur Eksekutif Kadin Bengkalis, yang menemani Kompas mengunjungi beberapa sentra usaha kecil dan menengah di Bengkalis.

Untuk menjaga mutu, Ahok sudah cukup mumpuni. Mereka hanya mau menggunakan buah durian segar yang baru jatuh dari pohon. Mereka juga tidak menggunakan durian yang sudah tersimpan beberapa hari. Durian matang pohon memiliki rasa yang lebih mantap dibandingkan dengan durian peraman atau yang sudah melewati masa kematangan setelah jatuh dari pohon.

Suatu kali Ahok mencoba memasok durian dari Medan, Sumatera Utara, untuk memenuhi besarnya permintaan. Sayang, perjalanan yang memakan waktu sampai tiga hari membuat mutu durian turun. Saat dijadikan adonan lempuk, rasanya sudah tidak bagus lagi. Akhirnya Ahok kapok dan hanya mengandalkan durian dari kampung halamannya.

Produksi lempuk Citra Rasa saat ini, menurut Ahok, sudah mencapai 2 ton per bulan. Pada saat musim puncak buah durian, dapat mencapai 3 ton. Padahal, saat baru memulai dahulu, mereka hanya dapat memproduksi lempuk 500 kilogram dalam satu tahun.

Keripik biji durian
Karyawannya juga bertambah, dari awalnya cuma bekerja sendiri, kini ia harus dibantu 10 orang. Bila dihitung dari harga jual lempuk per kilogram sebesar Rp 100.000, omzet Ahok per bulan dari berjualan lempuk saja sudah bisa diperkirakan.

Meski demikian, Ahok dan Desi belum puas karena produksi tertahan atas kekurangan bahan baku durian. Kini dia mencoba membuat diversifikasi usaha dari bahan baku durian juga, yakni keripik biji durian. Keripik itu sudah mulai diproduksi, tetapi belum dipasarkan. Kepada beberapa pelanggannya, keripik itu diberikan sebagai bonus. ***

loading...
(M Yamin Indra)
Kategori : Wisata
Sumber:Kompas.com
PMB Unilak 2018/2019
wwwwww