PotretNews.com Selasa 24 April 2018

Si Patai, Jagoan Kota Padang yang Jadi ”Momok” bagi Belanda, Pelor untuk Membunuhnya Dilumuri Minyak Babi

Si Patai, Jagoan Kota Padang yang Jadi ”Momok” bagi Belanda, Pelor untuk Membunuhnya Dilumuri Minyak Babi

Foto arak-arakan jasad Si Patai ini termuat di halaman 164 buku Padang Riwayatmu Dulu, karya Rusli Amran. (foto: wenri Wanhar/jpnn.com)

Minggu, 20 September 2015 04:22 WIB

NAMA Si Patai senantiasa hidup di kalangan orang-orang dunia hitam kota Padang.

Sejarawan-cum-wartawan Rusli Amran (1922-1996) dalam buku Padang Riwayatmu Dulu bercerita, Si Patai bandit legendaris yang namanya menempati klasemen papan atas dalam daftar polisi Padang pada awal abad 20.

Dalam rombongan Si Patai, tersebut pula sederet nama-nama bandit Padang, antara lain Si Sampan, Palalok dan Buyuang Tupang. Saking legendarisnya, sastrawan A.A Navis pernah mengangkat lakon Si Patai dalam cerpen Kabut Negeri Si Dali.

Belanda mengkategorikan Si Patai bukan sekadar penjahat biasa, tapi termasuk bandit yang merongrong pemerintahan. Pada 1908, ketika pemerintah Hindia Belanda memberlakukan kebijakan belasting (pajak) di ranah Minang, Si Patai mengamuk.

Perang Belasting
Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan peraturan belasting pada 21 Februari 1908 dan mulai berlaku sejak 1 Maret tahun itu. Ketentuannya meliputi hoofd belasting (pajak kepala), inkomsten belasting (pajak pemasukan suatu barang/cukai), hedendisten (pajak rodi), landrente (pajak tanah), wins belasting (pajak kemenangan/keuntungan), meubels belasting (pajak rumah tangga), slach belasting (pajak penyembelihan), tabak belasting (pajak tembakau), adat huizen belasting (pajak rumah adat).

Ads
Kebijakan baru ini dilawan oleh urang awak. Nagari Air Bangih, Painan, Padang Panjang mengeluarkan resolusi penentangan. Luhak Agam tidak memenuhi undangan kepala laras saat sosialisasi. Ada juga yang berunjuk rasa ke kantor asisten residen di Bukittinggi. Dalam aksinya demonstran merobek blanko pembayaran belasting.

Karena Belanda memaksakan kehendaknya, 15 Juni meletus perang Kamang. Esok harinya, Pasukan 17 pimpinan Mande Siti menyerbu tangsi Belanda di Manggopoh. Di Lubuk Alung, pasukan berjubah putih bertempur habis-habisan dengan sandi perang “Allahu akbar!!!”

Di sekitar pusat kota Padang, pemberontakan dipimpin oleh Si Patai, dari kalangan dunia hitam. Mula-mula Si Patai memimpin gerombolannya membuat onar di Pauh. Beberapa pegawai pemerintah dibunuh. Saat hendak menyerbu pusat kota Padang, mereka dihadang dan berhasil dihalau tentara kumpeni.

“Perang belasting hanyalah momentum yang dimanfaatkannya (Si Patai, red) saja dalam upaya menggulingkan pemerintahan,” tulis Rusli Amran, pendiri dan Pemimpin Redaksi Harian Berita Indonesia, koran pertama yang terbit di zaman Indonesia merdeka.

Walaupun meletus secara simultan di mana-mana, perang belasting tidak terpusat. Tidak terkoordinasi dengan baik. Sehingga mudah saja dipadamkan.

Sempat buron, Si Patai berhasil diringkus Belanda. Tiga tahun lamanya dia mendekam di hotel prodeo.

Pemberontakan Komunis

Suatu hari saat bulan puasa 1926, orang-orang dari kalangan “dunia hitam” kota Padang menggelar rapat rahasia. Keputusan rapat itu; mendirikan organisasi bawah tanah bernama Sarekat Djin. Si Patai dipilih jadi pemimpin. Mula-mula jumlah anggotanya 40 orang. Kemudian terus meluas.

Semasa itu, di samping Sarekat Djin, berdiri pula organisasi bawah tanah, Sarekat Hantu dan Sarekat Itam.

Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Padang, Mestika Zed dalam buku Pemberontakan Komunis Silungkang 1927 menulis, pembentukan organisasi-organisasi bawah tanah tersebut adalah realisasi dari gagasan pembentukan DO di Sumatera Barat berdasarkan instruksi dari CC PKI pada akhir Maret 1926.

Malam tahun baru 1927 ranah Minang bergolak. Partai Komunis Indonesia, partai politik pertama yang menggunakan nama Indonesia melakukan pemberontakan.

Si Patai ambil bagian. “Saat pemberontakan PKI meletus awal 1927, Si Patai dan Sarekat Djin-nya banyak membunuh pejabat pemerintah Hindia Belanda,” kata Mestika Zed seperti dikutip JPNN.com.

Lagi-lagi gagal. Pemberontakan Si Patai berhasil ditumpas. Dan kali ini Si Patai menjumpai ajalnya. Ia dipenggal. Kepalanya diarak keliling kota Padang.

“Hari itu kota Padang menjadi gempar,” kenang Hasjim Ning yang menyaksikan arak-arakan itu, sebagaimana dicuplik dari buku Pasang Surut Pengusaha Pejuang—Otobiografi Hasjim Ning karya A.A Navis.

“Si Patai adalah kepala pemberontak melawan Belanda. Ia telah banyak membunuh tentara dengan parangnya. Tentara akan gentar dan lari lintang pukang bila berhadapan dengannya,” kata saudagar terkemuka dari zaman Sukarno hingga Suharto itu.

Waktu jasad Si Patai diarak, Hasjim kanak-kanak. Tapi dia masih ingat, “Si Patai seorang pemberani dari Pauh, desa bagian utara Kota Padang yang sebetulnya kebal. Peluru yang membunuhnya sudah dilumuri minyak babi.”***



loading...
(Akham Sophian)
Kategori : Profil
Sumber:jpnn.com
DPRD Kabupaten Siak 2018
wwwwww