PotretNews.com Senin 24 September 2018

Kisah Penyidik Senior KPK Novel Baswedan 3 Kali Ditabrak tapi Selalu Selamat

Kisah Penyidik Senior KPK Novel Baswedan 3 Kali Ditabrak tapi Selalu Selamat

Noval Baswedan.

Selasa, 11 April 2017 16:18 WIB
JAKARTA, POTRETNEWS.com- Tiga kali ditabrak, dua kali kena dan sekali salah orang. Novel Baswedan tak percaya ketiga insiden yang menimpanya itu kebetulan belaka.
Dalam dua kali penabrakan yang tepat sasaran, Novel tersungkur dari sepeda motornya. Beruntung, penyidik utama Komisi Pemberantasan Korupsi itu hanya terluka.

Insiden terakhir menimpa Novel ketika menangani dua kasus kakap pada pertengahan tahun lalu. Pagi itu, berangkat menuju kantor KPK di kawasan Kuningan, Jakarta, Novel keluar dengan sepeda motor dari rumahnya di kawasan Kelapa Gading. Di jalan yang membelah kawasan pertokoan, tak jauh dari rumah Novel, sebuah mobil Avanza menyeruduk.

Novel terpental dari tunggangannya hingga berguling-guling di jalan. Sedangkan si penabrak langsung kabur begitu targetnya jatuh. Walhasil, selama beberapa hari Novel tertatih-tatih masuk kantor karena kaki kanannya terluka akibat tertimpa sepeda motor. "Jalan masih lengang. Kalau tak sengaja, rasanya tak mungkin," kata Novel beberapa hari setelah insiden itu, dilansir potretnews.com dari tempo.co.

Penabrakan "salah orang" terjadi pada 2011. Waktu itu Novel sedang menangani kasus cek pelawat. Dia selamat karena penabraknya salah mengidentifikasi target. Yang jadi korban adalah Dwi Samayo, juga penyidik KPK. Sekilas Dwi memang mirip Novel.



Malam itu Dwi, yang menunggang sepeda motor, ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil tak jauh dari kantor KPK. Dia lalu dibawa ke rumah sakit dengan kaki retak. Novel luput dari serangan karena pulang sepuluh menit sebelumnya lewat gerbang yang sama dengan Dwi.

Teror tak hanya diterima Novel. Sejumlah penyidik dan jaksa KPK juga pernah menerima ancaman fisik hingga pesan yang intimidatif. Umumnya, teror datang sewaktu para penegak hukum itu menangani kasus yang melibatkan nama terkenal.

Misalnya rentetan kejadian yang menimpa Afief Yulian Miftach pada pertengahan 2015. Rumah Afief di Jakamulya, Bekasi, pernah disatroni dua pria tak dikenal. Keduanya kemudian meletakkan sebuah bungkusan mirip bom. Sepekan sebelumnya, ban mobil Afief ditusuk oleh seseorang. Malamnya, rumah Afief dilempari telur. Kap mobil Afief, yang diparkir di halaman rumah, juga pernah melepuh karena disiram cairan kimia.

Waktu itu Afief sedang menangani sejumlah kasus besar. Di antaranya kasus rekening gendut perwira polisi, yang sempat membuat hubungan KPK dan Polri meruncing. Afief menjadi ketua satuan tugas yang dibentuk KPK untuk mengusut kasus tersebut.

Menurut juru bicara KPK Febri Diansyah, teror sudah menjadi bagian dari risiko sebagai pegawai KPK. "Mereka sudah tahu risikonya sebelum masuk KPK," katanya. Tetap saja teror dan s ejenisnya itu mengganggu pengusutan kasus. Setidaknya itu membuat konsentrasi penyidik terpecah dan memperlambat pengungkapan perkara.

Kendati demikian, menurut Febri, tak pernah ada kasus terhenti karena teror. Rahasianya: kasus di KPK selalu ditangani oleh tim, bukan perorangan. Setiap perkara ditangani satuan tugas yang terdiri atas 4-6 penyidik. Saat ini ada 90 penyidik di KPK. Separuh berasal dari Kepolisian RI dan separuh lagi direkrut sendiri oleh komisi antikorupsi. ***

Editor:
Farid Mansyur

Ads
Kategori : Nasional
Tour de Siak 2018
wwwwww