PotretNews.com Rabu 19 September 2018

Mengapa Kampanye di Indonesia Identik dengan Musik Dangdut?

Mengapa Kampanye di Indonesia Identik dengan Musik Dangdut?

Salah satu kampanye pasangan calon di Kabupaten Kuantan Singingi.

Minggu, 06 Desember 2015 09:03 WIB
JAKARTA, POTRETNEWS.com - Kampanye pesta demokrasi sudah menjadi momen ditunggu para penyanyi dangdut. Mulai biduan kelas kampung sampai ibu kota, mereka menunggu kecipratan berkah kampanye. Kehadiran mereka tentu saja sebagai menggoyang ribuan pendukung para calon pemimpin.Meraup banyak pundi-pundi di saat masa kampanye menjadi target para biduan. Tidak sedikit mereka rela kerja lebih keras di kala pesta demokrasi tiba.

Adanya dangdut dan kampanye partai politik maupun calon pemimpin di Indonesia seolah menjadi simbiosis mutualisme. Artinya keduanya sudah saling membutuhkan. Pedangdut mampu membuat massa ramai, dan partai politik butuh massa untuk didengar visi misinya.

"Itu sebenarnya musik dan para penyanyi dangdut, cara menghadirkan konstituen, karena tidak mudah menghadirkan konstituen. Tetapi kalau ada dangdut masyarakat banyak akan sekali," kata pengamat sosial Musni Umar kepada merdeka.com, Jumat lalu.

Ads
Walau mampu membuat suasana meriah dan mendatangkan ribuan massa, adanya biduan dangdut selama kampanye belum sepenuhnya efektif. Alasannya, kata dia, masih banyak masyarakat berpendidikan rendah juga menyulitkan para calon pemimpin sampaikan programnya.

Selain itu, akibat rendahnya pendidikan masyarakat berdampak pada tujuan massa kampanye. Musni meyakini, hampir kebanyakan mereka hadir bukan demi mendengar ocehan para kandidat calon pemimpin melainkan hiburannya. Bahkan massa bakal lebih ramai bila mendapat bingkisan usai hadiri kampanye.

"Mereka lebih senang datang ke kampanye itu untuk hiburannya, jadi tidak mempedulikan apa kata kandidat," jelasnya.

Dia menyarankan para calon wakil rakyat ke depannya lebih menonjolkan kampanye dengan mendatangi langsung konstituen. Cara ini dianggap cukup efektif dibanding menghadirkan massa di tengah lapang.

Keuntungannya, para kandidat tentu bisa bertatap muka sekaligus mendengar keluhan para konstituen. Kesempatan bertemu langsung ini juga bisa menjadi ajang penjelasan visi misi lebih detil kepada rakyat.

Memasuki bulan Desember, para biduan dangdut dipaksa lebih keras 'bergoyang'. Adanya program nasional Pilkada Serentak pada 9 Desember 2015 nanti, memaksa mereka menguras energi lebih banyak. Hasilnya pun bakal sebanding.

Grup dangdut 3 Kucing menjadi salah satu pemusik dangdut kecipratan berkah kampanye. Jelang masa akhir kampanye Pilkada Serentak, mereka bakal sibuk mengguncang di beberapa kota.

"Nanti tanggal 3 Desember, 3 Kucing akan mengisi acara kampanye akbar di Manado dan tanggal 5 Desember-nya kampanye akbar di Kutai Barat," ucap Eko Al Suwari saat dihubungi wartawan.

Grup dangdut ini menjanjikan tidak hanya membuat asyik masyarakat dengan nyanyian dan goyangan. Mereka juga mempunyai misi menjadi duta bagi pesta demokrasi dengan cara mengimbau publik agar tidak golput.

"3 Kucing akan hibur masyarakat dan mengajak untuk tidak golput dan memilih calon pemimpin yang benar-benar amanah, jujur dan sikap positif lainnya," terangnya. ***

(M Yamin Indra)
Kategori : LifeStyle
Sumber:Merdeka.com
Tour de Siak 2018
wwwwww