Begini Jatuh Bangunnya Usaha Bakso Mekar di Jalan Ahmad Dahlan Pekanbaru sebelum Ditutup BBPOM lantaran Mengandung Babi

Begini Jatuh Bangunnya Usaha Bakso Mekar di Jalan Ahmad Dahlan Pekanbaru sebelum Ditutup BBPOM lantaran Mengandung Babi

Usaha Bakso Mekar di Jalan Ahmad Dahlan Pekanbaru. (foto: tribunnews.com)

Senin, 28 Agustus 2017 17:58 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Dalam merintis usaha kedai Bakso Mekar, Suharyanto mengaku mengalami jatuh bangun dan pasang surutnya usaha. Perjuangan yang cukup panjang, yakni selama 13 tahun. Sebelum menempati ruko yang sekarang, ia sempat berpindah-pindah ke beberapa lokasi bersama tiga karyawannya.

Kepada media, Suharyanto menceritakan bahwa harus berpindah-pindah lantaran tempat lokasi usahanya mengalami peremajaan. Dari yang semula hanya bangunan semi permanen. Kini sudah berdiri kokoh tembok bertingkat dua lantai dengan warna putih lebih dominan.

"Kalau di sini sejak 2004. Yang paling lama itu ya di sini. Karena lokasi ini mau dibangun ruko, makanya saya pindah ke sana. Saya kan tidak mungkin berhenti jualan," katanya, Senin (28/8/2017) dilansir potretnews.com dari riauonline.co.id.

Selama dilakukan peremajaan, kedai baksonya berpindah sedikit lebih mundur jika berpatokan dari Jalan Tuanku Tambusai. Berada tak jauh dari Universitas Islam Riau (UIN) Pekanbaru. Lokasi ini masih di Jalan Ahmad Dahllan, Sukajadi, yang berjarak hanya 10 meter dari lokasi lamanya.

Tidak lebih dari 24 bulan, kedai lamanya yang semula bangunan semipermanen berubah menjadi ruko. Bakso Mekar pun berpindah kembali ke lokasi semula namun dengan suasana lebih modern. Di dalam bangunannya berjejer kursi empuk yang biasa ada pada rumah makan mewah.

Juga ada mesin hitung yang jarang dimiliki oleh kedai bakso dengan bangunan semipermanen lainnya di Pekanbaru. "Sempat juga kemaren itu buka cabang di Giant Panam. Tapi itu sudah lama tutup. Karena saya pingin santai sedikit," imbuhnya.

Setelah perjuangan panjang itu, kini kedai baksonya dipaksa untuk tidak beroperasi selama 21 hari oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Pekanbaru. Karena mereka menemukan dalam campuran bakso yang dibuat mengandung fragmen DNA spesific porcine atau babi.

Padahal, sebelum ditutup oleh BPOM, Yanto juga mengeluhkan bahwa kini kedai baksonya sepi pembeli.

"Tahun ini penjualan lesu. Tak sama dari tahun-tahun sebelumnya. Paling dapat sekarang ini dalam satu hari itu antara Rp1 sampai Rp2 juta. Dan menghabiskan 5-10 kg bakso dalam sekali buat," imbuhnya.

Yanto pun bersikeras, selama 13 tahun dalam membuat bakso, dirinya mengaku hanya menggunakan daging sapi segar dan murni ditambah dengan tepung sebagai campuran adonan bakso yang ia produksi untuk diperjual belikan ke konsumen.

Suharyanto membantah keras telah mempergunakan daging babi sebagai campuran bakso yang diproduksinya. ***

Editor:
Muh Amin

wwwwww