PotretNews.com Selasa 13 November 2018
Home > Berita > Riau

Menelusuri Keunikan Arsitektur Mesjid Berusia 116 Tahun di Airtiris Kampar yang Disebut Mengikuti Arsitektur Mesjid Demak

Menelusuri Keunikan Arsitektur Mesjid Berusia 116 Tahun di Airtiris Kampar yang Disebut Mengikuti Arsitektur Mesjid Demak

Arsitektur Mesjid Jami’ Airtiris di Kabupaten Kampar, Riau, disebut mengikuti arsitektur Mesjid Demak. (foto: dok. Potretnews.com)

Jum'at, 09 Juni 2017 10:15 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Mesjid Jami' Airtiris pantas masuk dalam daftar destinasi religi yang patut dikunjungi ketika sedang berada di Riau. Mesjid yang ada di Kabupaten Kampar ini menjadi salah satu masjid tertua di Sumatera. Sebab, masjid ini sudah berdiri sejak 1901 atau telah berusia satu abad lebih, tepatnya 116 tahun.Berdirinya mesjid dengan arsitektur laiknya rumah apung ini memiliki cerita cukup menarik, karena pada saat itu di Kampar belum ada satu pun masjid atau musala.

"Dulu lokasi mesjid adalah sebuah pasar kenegaraan Tiris tahun 1881. Dua puluh tahun setelah itu ada Datuk Ongku Mudo Songkal yang merasa perlu membangun masjid dan kemudian berbicara dengan alim ulama untuk membangun masjid," kata Juru Kebersihan Mesjid Jami Airtiris, Amiruddin Khatib, saat ditemui Tim Mudik Gesit, Jumat (26/5/2017).

Mesjid dengan dominasi material kayu ini disebut Pak Udin, sapaan karib Amiruddin, dibangun tanpa menggunakan paku dan tanpa biaya. Menurut Pak Udin, kala itu pembangunan mesjid dibangun secara gotong royong dan sukarela serta dengan material kayu yang dicari di hutan.

Ads
"Setelah oke dan dibangun, dipanggil 24 desa untuk terlibat membangun, secara bergotong royong dan dengan mencontoh arsitektur Masjid Demak," ujar Pak Udin, dilansir potretnews.com dari kompas.com.

Selain itu, model panggung di Mesjid Jami’ Airtiris dibuat lantaran untuk menghindari banjir ketika Sungai Kampar meluap. Interior Mesjid Jami' Airtiris dapat dikatakan cukup sederhana dengan 40 tiang yang menjadi penyangga.

"Empat puluh tiang ini menunjukkan jemaah minimal dalam shalat Jumat dan ada dua tiang di tengah yang ada ukiran kaligrafinya. Karena dalam sejarahnya dua kayu yang menjadi tiang itu hanya bisa didekati dan diambil oleh Datuk," ucap Pak Udin.

Keberadaan batu
Hal lainnya yang menarik dari Mesjid Jami' Airtiris adalah keberadaan sebuah batu dengan bentuk serupa kepala kerbau. Batu tersebut menurut cerita Pak Udin bisa berpindah-pindah tempat tanpa ada bantuan dari manusia.

Awalnya, batu tersebut hendak digunakan untuk menjadi bagian dari pembangunan masjid, tetapi setiap dipasang selalu jatuh sehingga warga mengadukan hal tersebut ke Datuk.

"Kata Datuk, batu itu enggak usah dipasang, diasingkan saja. Setelah itu, batu tersebut berpindah-pindah sendiri, kadang di tengah mesjid, di luar, dan akhirnya masuk ke dalam sumur tua selama kurang lebih 12 tahun," tutur Pak Udin.

"Air rendaman batu di sumur itu sekarang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit ringan dan sekarang orang sering ke sini dengan tujuan itu," kata dia.

Mesjid Jami' Airtiris tercatat sudah pernah direnovasi. Beberapa bagian kini sudah menggunakan paku besi, kayu untuk lantai dan atap juga sudah diganti. Sementara untuk tiangnya, kata Pak Udin, belum pernah diganti sama sekali sejak pertama kali dibangun. ***

Editor:
Hanafi Adrian

Kategori : Riau, Kampar, Umum, Peristiwa
wwwwww