PotretNews.com Rabu 22 Agustus 2018
Home > Berita > Riau

Pahlawan Penyelamat Lingkungan Riau Patih Laman Tutup Usia

Pahlawan Penyelamat Lingkungan Riau Patih Laman Tutup Usia

Patih Laman (kiri) dan Kalpataru yang diperolehnya tahun 2003 dari Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kamis, 11 Mei 2017 14:29 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Tokoh Adat dari Suku Talang Mamak yang bermukim di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di Riau, Patih Laman telah meningal dunia.Patih Laman dalam hidupnya mempertahankan kawasan hutannya dari jarahan perusahaan dan mafia kayu. Dia pun pernah meraih Kalpataru semasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Patih Laman meninggal dunia pada Rabu (10/5/2017) sekira pukul 19.10 WIB di rumah anaknya di Talang Durian Cacar, Desa Seiekok, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.

Juru bicara keluarga, Gilung (36), Kamis (11/5/2017), mengatakan, belakangan ini Patih Laman memang sudah sakit-sakitan. "Tadi malam, Patih Laman meninggal di rumah anaknya. Saat ini kami lagi prosesi pemakaman secara adat suku Talang Mamak," kata Gilung, dilansir potretnews.com dari detik.com.

Menurut Gilung, saat ini masyarakat adat Talang Mamak di Inhu, lagi ramai di rumah duka. Seluruh kebatinan (jabatan adat) Talang Mamak berkumpul di rumah duka. "Untuk proses penggalian kuburan ada 100 orang yang silih berganti. Di rumah duka, juga lagi ramai saat ini," kata Gilung.

Ads
Dalam catatan dari berbagai literatur, Patih Laman ini adalah tokoh adat yang cukup disegani di lingkungan masyarakat Talang Mamak. Patih, adalah gelar tertinggi dalam masyarakat Talang Mamak yang sebagian hidup di dalam kawasan TNBT, sedangkan nama aslinya Laman.

Sebagai tokoh adat, Patih Laman ini menoreh sejumlah pengakuan dunia internasional dalam mempertahankan kawasan hutan TNBT.

Sejak zaman Orde Baru, Patih Laman sudah berjuang melawan segala kebijakan pemerintah yang menjadikan kawasan hutannya menjadi areal hak penguasaan hutan (HPH) oleh perusahaan. Patih Laman tak gentar, berbagai rintangan dia hadapi. Dia terus melakukan perlawanan atas kebijakan pemerintah itu.

Dalam perjalanan pahitnya, Patih Laman menceritakan, dirinya pernah dituding Gubernur Riau, kala itu Soeripto sebagai PKI. Ini karena Patih Laman melakukan perlawanan atas penguasaan hutan belantara yang dimukimi masyarakat Talang Mamak. Patih Laman menggelar demo ke Kantor Gubernur Riau di Pekanbaru.

"Waktu kami berdemo ke kantor gubernur, kami dituduh PKI. Saya jawab gampang saja. Pak gubernur, kami ini buta huruf, tak tahu apa itu PKI. Karena bapak yang tahu apa sebenarnya PKI, berarti bapak gubernurlah yang PKI," kata Patih Laman, waktu itu. Yang konon membuat Gubernur Riau tertegun.

Perjuangan Patih Laman dalam mempertahankan kawasan hutan, pada tahun 1999 silam, pernah meraih anugerah tertinggi dari World Wide Fund for Nature (WWF) Internasional for Conservation. Dia dianugerahi sebagai tokoh yang berhasil mempertahankan kawasan hutan berserta adat istiadat masyarakat. Dia menerima anugerah itu di Sabah, Malaysia.

Pemerintah Indonesia, juga mengakui perjuangan Patih Laman yang tak kenal lelah untuk menyelamatkan hutan dan adat istiadat. Sehingga pada 5 Juni 2003 di Istana Negara, Presiden Megawati Soekarnoputri memberikan penghargaan Kalpataru buat tokoh adat Riau itu.

Patih Laman, sebelum ajal menjemputnya, pernah punya niat untuk mengembalikan Kalpataru yang dia milik ke Pemerintah Pusat. Niatan itu dia sampaikan ke wartawan, karena kekesalannya terhadap pemerintah yang tidak bisa melindungi hutan dan adat istiadat masyarakat setempat.

Patih Laman merasa gerah, untuk apa Kalpataru dia dapatkan, jika pemerintah tidak bisa menyelamatkan sisa hutan yang ada. Sayangnya, rencana pemulangan piala Kalpataru itu belum terlaksana hingga Patih Laman meninggal dunia.

Patih Laman adalah tokoh lingkungan yang tak kenal pamrih dalam memperjuangkan kawasan hutan. Dia tak pernah menyerah, sampai akhir hayatnya tetap mengawal kawasan hutan dari segala bentuk penjarahan. ***

Editor:
Hanafi Adrian

Kategori : Riau, Inhu, Peristiwa
Tour de Siak 2018
wwwwww