PotretNews.com Rabu 19 Desember 2018
Home > Berita > Riau

Derita Guru Bantu dengan Seabrek Kisah Pilu di Riau; Rela Tinggalkan Anaknya yang Masih Balita dan Selalu ”Gali Lubang Tutup Lubang” demi Tugas Mulia

Derita Guru Bantu dengan Seabrek Kisah Pilu di Riau; Rela Tinggalkan Anaknya yang Masih Balita dan Selalu ”Gali Lubang Tutup Lubang” demi Tugas Mulia

Erika Mayer.

Rabu, 03 Mei 2017 11:49 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Perjuangan seorang guru bantu wanita bernama Erika Mayer ini betul-betul menggugah. Betapa tidak, dirinya mesti menempuh perjalanan tiga jam dengan angkutan umum antarkabupaten, hanya untuk mengabdi sebagai pengajar. Suka duka telah dijalaninya selama 11 tahun.Tak cukup di situ saja, wanita berumur 49 tahun ini juga mesti meninggalkan lima orang anaknya yang masih kecil-kecil di rumah. Sementara suaminya, baru bisa pulang di akhir pekan karena bekerja mencari uang di luar kota. Guru berparas cantik tersebut mengajar di SMKN 1, Pangkalanlesung, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Erika harus bangun disaat sebagian orang masih menarik selimut di ujung subuh. Dirinya tinggal di Jalan Bandung, Tenayanraya Kota Pekanbaru. Dari sini, ibu lima orang anak tersebut menumpang mobil travel ke Pangkalanlesung. Ia mesti menempuh perjalanan selama tiga jam untuk sampai.

Tiap hari, Erika harus menyiapkan uang Rp70 ribu sebagai ongkos pulang-pergi. Sementara upahnya sebagai guru bantu tiap bulannya pas-pasan. Meski dirasa tak sepadan, ia tetap melakoninya. Bagi Erika, mengajar sudah jadi panggilan nurani, meski terkadang uang disakunya hanya cukup untuk ongkos saja, dirinya tetap berangkat dengan tekat yang bulat.

"Habis azan (Subuh) ibu sudah harus berangkat dan nunggu mobil travel di jalan. Itu sudah sejak 2006, setelah diangkat jadi guru bantu dan ditempatkan di Pangkalanlesung. Kesiangan sedikit saja bisa terlambat karena mobilnya mesti lama menunggu sewa yang lain," tutur Erika kepada GoRiau.com yang dilansir potretnews.com.

Lebih pahitnya lagi, gaji itu belum tentu rutin diperoleh setiap bulan, karena kerap menunggak dan alami keterlambatan. Tak menyerah, Erika tetap melangkahkan kakinya, walau harus minjam uang ke tetangga atau kepada kenalan. Kata pemerintah, ada beberapa masalah administrasi sehingga tak bisa lancar.

"Tiap bulan gali lubang tutup lubang. Malu sebetulnya. Karena gaji biasanya menunggak setiap awal tahun. Kadang sampai empat bulan. Jalani saja dengan ikhlas. Selagi masih bisa minjam uang, ya pinjam dulu, pokoknya jangan sampai tak berangkat mengajar, walau kadang uang cuma pas-pasan untuk ongkos," ungkap Erika dengan mata berkaca-kaca.

Harus Berangkat Meninggalkan Anak Seorang Diri di Rumah dan Pulang Malam
Dengan posisi suami bekerja di luar kota, otomatis tiga orang anak Erika yang masih kecil-kecil ditinggalkan seorang diri di rumah. Sekarang dirinya sudah punya lima orang buah hati, di mana dua orang yang paling besar menetap di kampung bersama neneknya. Anak-anaknya sudah terbiasa dan memahami pekerjaan ibunya.

"Sebelum berangkat, ibu sudah masak dan siapkan keperluan mereka. Nanti kunci dititip ke tetangga, kalau sudah terang tolong dibukakan pintu. Itu mereka mandiri, yang paling besar mengasuh adik-adiknya, memandikan, mengantar pergi sekolah dan lainnya. Mesti gimana, kalau dibilang sedih pasti," ucapnya.

Jika ada masalah, anak-anak akan melepon. Dari situ Erika membimbingnya. Pernah satu pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan, saat anaknya sakit hingga tak berdaya sama sekali di rumah, sementara Erika berada jauh dari mereka. Jika mengenang itu, sang guru bantu tersebut selalu tak kuasa menahan air mata.

"Awalnya dia cuma bilang pusing, ibu juga salah tidak mengecek, dan sudah tiga hari. Karena sudah nggak kuat akhirnya terkapar di rumah. Begitu ibu sampai, badannya sudah panas tinggi. Sedih sekali jika diingat. Tapi mesti gimana lagi, mereka harus mandiri. Untung saja tetangga baik-baik dan sudah seperti saudara, mereka yang bantu-bantu lihat," kata dia.

Walau tidak seperti ibu-ibu lainnya yang punya banyak waktu bercengkrama dengan anak mereka, Erika tak ingin buah hatinya tidak mendapat kasih sayang yang cukup. Sebab itu, sepulangnya mengajar saat petang atau malam, ia menyempatkan diri bermain dan bercanda gurau, sampai mereka terlelap tidur.

"Magrib ngaji sama-sama. Buat tugas, ngobrol dan main-main. Kadang tak tega menengoknya, apalagi yang besar. Itu sejak umur 5 tahun sudah ngurus adik-adiknya. Kalau difikir-fikir nggak sanggup, tapi dijalani dengan ikhlas dan akhirnya terbiasa mandiri. Kalau sudah tidur semua, ibu kemudian masak buat keperluan mereka besok," imbuhnya.

Bahkan yang paling bungsu, kata Erika, sudah ia bawa pulang pergi naik travel Pekanbaru-Pangkalan Lesung saat usianya baru menginjak tiga bulan. Itu terpaksa dilakukan lantaran tidak ada yang menjaga di rumah. Di sekolah, anaknya kemudian dititip kepada ibu kantin, jika sudah masuk proses belajar mengajar.

"Dari umur tiga bulan sehabis cuti melahirkan, sudah ibu bawa naik travel setiap hari pulang pergi ngajar, sampai usianya dua tahun. Kalau umur segitu kan kakak-kakaknya sudah bisa mengurusi. Sedihnya ya di situ, anak tidak bisa bermanja-manja seperti lainnya karena orangtua sibuk semua. Paling saat akhir pekan," ungkapnya.

Manis Getir Pengalaman Erika, Sang Guru Bantu
Sosok Erika mungkin bisa dikatakan sebagai guru sejati yang bekerja begitu ikhlas. Manis getir perjuangannya untuk mengajar sudah tak terbilang lagi. Bahkan, maut nyaris mengancam nyawanya beberapa kali. Melakoni hidup sebagai pengajar di daerah nun jauh ternyata cukup beresiko, salah satunya dari travel yang ia tumpangi.

"Pernah beberapa kali kecelakaan, bahkan travelnya terguling di jalan, itu saat ibu hamil yang bungsu. Alhamdulillah, Allah masih sayang dan nyawa ibu masih selamat. Terus juga tabrakan pernah sampai luka-luka. Pokoknya macam-macamlah," sambungnya bercerita di rumah sederhananya.

Kemudian Erika juga pernah menginap di kantin sekolah, lantaran kemalaman sehingga tidak ada travel yang berangkat ke Pekanbaru, ditambah lagi kondisinya sudah sangat lelah. "Menumpang tidur di kantin. Jadi ibu kantin itu sudah seperti orangtua angkat. Sering menolong dan baik hati," ungkapnya.

Sebelum diangkat menjadi guru bantu, Erika juga sempat mengecap peruntungan sebagai honorer sejak tahun 1993 silam di Kota Dumai. Walau kini usianya sudah tak muda lagi, jauh dilubuk hati Erika, ia selalu menyimpan asa untuk diangkat sebagai ASN/PNS. Itulah salah satu faktor yang memicut semangatnya.

"Kalau dibilang capek, ya harus dilakoni. Kalau capek, ibu selalu ingat bahwa ada harapan, jadi semangat lagi. Ada tekad walau nggak tahu sampai kapan akan terwujud. Harapannya agar diangkat jadi PNS, setidaknya melalui jalur khusus, karena ibu sudah berumur. Ingin juga merasakan bagaimana jadi PNS," pintanya.

Pun jika tidak terwujud, Erika harus berlapang hati. Bagi dia, menyampaikan ilmu merupakan suatau kebanggaan tersendiri. Namun demikian, dirinya berharap ada kelapangan dari pemerintah, setidaknya memberi peluang agar impian sang guru bantu ini direalisasikan.

"Ibu senang mengajar. Melihat anak-anak itu rasa capeknya hilang. Tapi tetap berharap perhatian pemerintah terhadap nasib kami sebagai guru bantu. Ibu selalu mikir, ada harapan dan asa makanya bertahan. Ibu kepengen juga mencoba bagaimana rasanya jadi PNS, hidup dengan ekonomi agak berlebih," ungkap Erika.

Toh jika pun nasibnya hanya sebatas guru bantu, Erika berharap agar kesejahteraan mereka dapat terus diperjuangkan, termasuk urusan gaji yang sering terlambat. "Mudah-mudahan. Walau pun memang dalam SK dibunyikan, kami tidak menuntut sebagai PNS, tapi apa salahnya diperhatikan, karena guru bantu juga sama-sama mendidik anak bangsa," ujarnya.

Sekarang ini, bu guru Erika mengajar 26 jam dalam seminggu di SMKN 1 Pangkalan Lesung, Pelalawan. Sisa waktunya dihabiskan di jalan. Hitung saja, pulang-pergi mesti memakan waktu sekitar enam jam dari Pekanbaru ke sana. Dalam kondisi seperti itu, ia harus memutar otak untuk membagi waktu buat keluarga.

Di SMKN 1, diakui Erika masih kekurangan tenaga pengajar, dengan jumlah 35 orang, sementara siswanya mencapai 700 murid. Bahkan karena terbatasnya guru, ada pula yang mengajar hingga 52 jam. Inilah suka duka seorang guru bantu. Entah di luar sana, mungkin ada dari mereka yang bernasib lebih memprihatinkan. ***

Editor:
Fanny R Sanusi

wwwwww