PotretNews.com Senin 20 Agustus 2018
Home > Berita > Umum

Inilah Peninggalan Laksamana Raja di Laut, Sang Penjaga Pesisir Selat Malaka, yang lewat Suara Lengking Iyeth Bustami Kisahnya Membahana di Mana-mana

Inilah Peninggalan Laksamana Raja di Laut, Sang Penjaga Pesisir Selat Malaka, yang lewat Suara Lengking Iyeth Bustami Kisahnya Membahana di Mana-mana

Rumah peninggalan Datuk Laksamana Raja di Laut IV di Kabupaten Bengkalis, Riau. Bangunan itu terkait erat dengan sejarah Kerajaan Siak. (foto: jawapos)

Jum'at, 28 April 2017 11:45 WIB
BENGKALIS, POTRETNEWS.com - Peran Selat Malaka jadi rebutan penguasa dari masa ke masa. Salah satunya Kerajaan Siak zaman dulu. Melalui beragam peninggalan, sultan pertama sampai terakhir kerajaan itu menorehkan sejarah kejayaan mereka.Terletak di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kampungdalam, Kabupaten Siak, Riau, bangunan dua lantai berkelir putih gading itu berdiri kukuh. Paduan gaya Melayu, Arab, Eropa, dan India tampak pada arsitektur bangunannya.

Istana Asserrayah Hasyimiah adalah nama yang disematkan pada bangunan itu. Istana tersebut selesai dibangun pada era kekuasaan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin alias Sultan Siak XI pada 1889. Sultan Siak XI memerintah Kerjaan Siak pada 1889–1908.

Bangunan tersebut kini lebih dikenal sebagai museum Istana Siak. Sebutan itu tidak keliru karena Sultan Siak XI menjadikan bangunan tersebut sebagai tempat tinggal sekaligus tempat menerima tamu kerajaan. Layaknya tempat tinggal raja, Istana Siak amat terawat. Kecuali halaman, kompleks istana itu masih serupa bangunan aslinya.

Ads
Memang, isi Istana Siak sudah tidak sama ketika masih ditempati keluarga raja. Namun, pengunjung bakal disuguhi beragam artefak yang dulu digunakan penghuni istana. Mulai peralatan makan sampai pakaian keluarga istana.

’’Meski sudah lebih seabad, semua masih dalam keadaan baik,’’ kata pemandu yang mengantar rombongan guru peserta Internalisasi Nilai Kebangsaan di Wilayah Perbatasan yang diadakan Direktorat Sejarah Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, 17 April lalu.

Di antara beragam artefak yang dipajang, terdapat beberapa foto proklamator Soekarno. Salah satunya bersama Sultan Syarif Kasim II, sultan Siak yang memimpin Kerajaan Siak pada 1915–1946. Tidak hanya dikenal sebagai raja, Sultan Siak XII juga mendapat gelar pahlawan nasional dari pemerintah Indonesia.

Meski tidak banyak disinggung dalam sejarah proklamasi, peran Sultan Syarif Kasim II pascakemerdekaan cukup penting. Dia termasuk salah satu raja yang mendukung penuh Republik Indonesia merdeka.

Sultan Syarif Kasim II juga dinilai berjasa lantaran turut menyumbangkan hartanya untuk kepentingan pemerintah RI pasca kemerdekaan. Kisah itu tidak dijelaskan secara terperinci melalui artefak di Istana Siak.

Namun, foto sultan terakhir Kerajaan Siak bersama presiden pertama Indonesia tersebut sedikit banyak memberikan gambaran hubungan baik dan kedekatan antara raja bergelar Sultan Assyaidis Syarif Qasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin dan Presiden Soekarno.

’’Tapi, soal awal mula kedekatan keduanya masih digali. Belum banyak yang terungkap,’’ ujar sejarawan Universitas Indonesia Didik Pradjoko, dilansir potretnews.com dari jawapos.com.

Catatan sejarah raja yang diangkat pada usia 23 tahun ketika menempuh pendidikan di Batavia itu tidak lantas menghubungkan dirinya dengan Soekarno. Yang pasti, komitmennya mendukung pemerintah tercatat jelas sehingga gelar pahlawan nasional layak disematkan kepada sultan tersebut.

Penghargaan juga diberikan Pemkab Siak dan Pemprov Riau. Nama Sultan Syarif Kasim II diabadikan pada beberapa tempat penting. Salah satunya Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II.

Bupati Siak Syamsuar menyiapkan Istana Siak untuk diusulkan menjadi warisan dunia. Bersama Istana Siak, cagar budaya lain yang turut bertalian erat dengan Kerajaan Siak juga didaftarkan. Antara lain, Balai Kerapatan Tinggi dan makam Sultan Syarif Kasim II. ’’Supaya sama dengan kota-kota lain di dunia,’’ harap Syamsuar.

Sebagai salah satu kerajaan yang pernah berkuasa hingga Selat Malaka, Kerajaan Siak tidak hanya meninggalkan jejak di sekitar aliran Sungai Siak. Kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut yang masuk wilayah Desa Sukajadi, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, juga bagian dari warisan Kerajaan Siak.

Untuk mengamankan pesisir pantai di Selat Malaka, Kerajaan Siak menugaskan Datuk Laksamana Raja di Laut. Ada empat Datuk Laksamana Raja di Laut yang pernah mendapat tanggung jawab menjaga pesisir Selat Malaka. Mereka adalah Datuk Ibrahim, Datuk Khamis, Datuk Abdullah Shaleh, dan Datuk Ali Akbar.

Kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut di Bukitbatu merupakan peninggalan Datuk Ali Akbar yang juga dikenal sebagai Datuk Laksamana Raja di Laut IV. Berbeda dengan Istana Siak yang berada di pusat pemerintahan Kabupaten Siak, peninggalan Datuk Ali Akbar berada di wilayah pesisir. Butuh waktu sekitar tiga jam lewat jalur darat dari Siak menuju tempat itu.

Bukan hanya posisinya yang jauh dari kota, kediaman laksamana terakhir di Kerajaan Siak itu juga tampak kurang mendapat perhatian. Bangunannya masih berdiri, tapi beberapa bagiannya sudah tidak lengkap. Meski begitu, masyarakat sekitar tetap berusaha menjaga warisan sejarah tersebut dari kehancuran.

Ketika rombongan berkunjung ke rumah Datuk Laksamana Raja di Laut IV, masyarakat menyambut dengan antusias. Empat penari zapin asal Desa Sukajadi menunjukkan kebolehan mereka. Berbagai produk olahan dan buah kreasi warga sekitar juga dipamerkan. Mereka tampak berusaha keras menunjukkan bahwa peninggalan Datuk Laksamana Raja di Laut IV patut mendapat perhatian khusus.

Syamsul Bahri, sejarawan lokal yang masih memiliki pertalian darah dengan Datuk Laksamana Raja di Laut IV, mengaku tidak tahu persis garis keturunan sang datuk hingga dirinya. ’’Saya sendiri tidak tahu persis bagaimana garis keturunan Datuk Laksamana Raja di Laut IV. Perlu studi lagi,’’ ujarnya.

Dia berharap ada peneliti yang bersedia menelusuri lebih dalam silsilah keluarga laksamana yang mendapat titah langsung menjaga pesisir Selat Malaka oleh Kerajaan Siak itu. ’’Kalau perlu hasilnya nanti dibukukan. Sebab, sampai sekarang belum ada yang menulis tentang beliau,’’ jelas Syamsul Bahri.

Tidak jauh dari kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut IV, terdapat dua makam yang letaknya persis di samping Mesjid Jami Al Haq. Mesjid itu merupakan peninggalan Datuk Laksamana Raja di Laut IV untuk masyarakat di sekitar rumahnya. Dua makam di samping mesjid merupakan tempat peristirahatan terakhir Datuk Laksamana Raja di Laut III dan IV. Dua makam itu terawat dengan baik. Masyarakat rutin berdoa untuk kebaikan kedua laksamana.

Lewat suara lengking penyanyi Iyeth Bustami, kisah Laksamana Raja di Laut membahana di mana-mana. Namun, tak banyak yang mengerti kisah datuk penjaga pesisir Selat Malaka tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin ada yang belum tahu bahwa tokoh dalam lagu itu adalah nyata. Dia hidup dan pernah menjadi bagian penting dari Kerajaan Siak. ***

Kategori : Umum, Riau, Siak
Tour de Siak 2018
wwwwww