PotretNews.com Selasa 25 September 2018
Home > Berita > Siak

Menteri LHK Terbitkan Aturan Baru, Sejumlah Pekerja PT Arara Abadi Perawang Resah karena Terancam Kehilangan Pekerjaan

Menteri LHK Terbitkan Aturan Baru, Sejumlah Pekerja PT Arara Abadi Perawang Resah karena Terancam Kehilangan Pekerjaan

Kawasan hutan tanaman industri. (foto: internet)

Jum'at, 07 April 2017 18:09 WIB
Sahril Ramadana
SIAK, POTRETNEWS.com  - Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kekuatan Republik Indonesia P.17 tahun 2017 tentang Pembangunan Taman Industri, yang di dalamnya  mengatur tentang perubahan areal tanaman pokok menjadi fungsi lindung ekosistem gambut, telah terbit.Pasal 8e menyebutkan, perubahan areal tanaman pokok menjadi fungsi lindung, telah terdapat tanaman pokok pada lahan yang memiliki Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK-HTI), seperti; tanaman yang sudah ada, dapat dipanen satu daur dan tidak dapat ditanami kembali. Kemudian wajib dilakukan pemulihan dan dialokasikan sebagai kawasan fungsi lindung ekosistem gambut dalam tata ruang IUPHHK-HTI.
Terbitnya pasal itu, membuat banyak pemegang IUPHHK-HTI berpotensi kehilangan sebagian area garapan. Namun pada pasal 8G disebutkan, pemegang IUPHHK-HTI yang areal kerjanya diatas atau sama dengan 40 persen, ditetapkan sebagai ekosistem gambut dengan fungsi lindung, dapat mengajukan areal lahan usaha pengganti (land swap) yang diatur dengan peraturan menteri.

Mencuatnya isu Permen itu, membuat sejumlah pekerja di PT Arara Abadi di Perawang, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau, resah, lantaran penerapan aturan baru Permen KLHK P17/2017 tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri, dikhawatirkan akan berdampak pada pekerjaan mereka.

Salah seorang pekerja PT Arara Abadi Alfian (48) mengatakan, permen tersebut sejatinya sangat meresahkan dirinya dan pekerja lainnya. Bahkan pria yang mengaku bekerja sejak tahun 1992 itu, optimis jika permen itu diterapkan, pengurangan area pengelolaan perusahaan akan terjadi. Otomatis dia beserta karyawan lainnya akan dikurangi.

“Yang terbayang oleh kami (karyawan) hari ini, bagaimana kalau kami harus kehilangan pekerjaan. Itu kan periuk nasi kami, kami juga punya anak-anak yang masih sekolah,” ujarnya, kepada potretnews.com dan awak media lainnya, Jumat (7/4/2017).

Alfian yang juga menjabat sebagai sekretaris II, Serikat Pekerja Mitra Abadi Riau mengatakan, “Kita akan adakan pertemuan dan diskusi-diskusi dulu di internal serikat pekerja, untuk menyikapi persoalan ini. Nanti apa yang bisa kita lakukan, minimal menyampaikan aspirasi kitalah,” ujar Alfian.

Hal senada juga diungkapkan Syarif Hidayat (46), karyawan dari bagian konservasi PT Arara Abadi ini, mengatakan isu tersebut saat ini sudah mulai jadi perbincangan hangat di kalangan pekerja. Bahkan menjadi tekanan bagi mereka.

”Biasanya, peraturan itu kan yang pertama diketahui hanya di bagian-tertentu, nah karena ini isu-isu sensitive, sebagian sudah pada tahu,” kata Syarif.

”Ah ini area kita hilang nih, hilang kan otomatis nasib kita gimana?,” ujar Syarif menirukan obrolan rekan-rekannya.

Sebagai pekerja Syarif juga mengaku ikut galau, karena rata-rata udah belasan sampai puluhan tahun berkerja. Bahkan jika mencari pekerjaan baru kemungkinan tidak diterima lagi, karena umur sudah mau memasuki kepala lima.

Di tempat terpisah, Endri Tanjung (45), Praktisi Water Manajemen, pada unit usaha Ratu Pratama Makmur, berpendapat, dampak dari regulasi baru tersebut akan dirasakan banyak orang, tidak hanya karyawan perusahaan. Melainkan, masyarakat lokal juga ikut tersandung, karena bergantung pada usaha tersebut.

Endri mencontohkan, ada usaha yang dilakukan dengan pola kemitraan, misalnya masyarakat ada yang mengambil usaha kebersihan.  Kalau beberapa unit usaha tidak lagi berjalan, otomatis usaha itu akan terhenti juga.

Dia juga mengaku, hingga saat ini, belum ada pembicaraan formal antara karyawan dan perusahaan mengenai hal tersebut. Sementara Endri berharap, regulasi tersebut bisa di review lagi. "Kalau di Permen kan, bisa dapat lahan usaha pengganti. Yang mau ditukar itu ada nggak, mana petanya, mana tempatnya, bagaimana kondisinya, bagaimana populasinya, konflik atau tidak, kita tidak tahu," curhatnya. ***
Ads
Tour de Siak 2018
wwwwww