PotretNews.com Kamis 22 November 2018

Cerita Miris tentang Kopi Gayo yang Melegenda Sejak 1908

Cerita Miris tentang Kopi Gayo yang Melegenda Sejak 1908

Seorang warga negara asing sedang memotret proses peracikan kopi Gayo di salah satu coffee shop di Takengon, Aceh Tengah.

Sabtu, 31 Oktober 2015 19:54 WIB
TAKENGON, POTRETNEWS.com- Dataran tinggi Tanah Gayo meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues di Provinsi Aceh, adalah penghasil kopi arabika terbesar di Asia Tenggara. Mirisnya, hingga saat ini belum ada balai penelitian kopi di sana."Pemerintah di tiga kabupaten penghasil kopi ini tidak punya visi dan misi yang jelas terhadap kopi Gayo," kata pengamat kopi Gayo Win Ruhdi Bathin di Takengon, Jum'at (30/10/2015).

"Coba kita lihat Pemerintah Daerah Jember yang terlebih dahulu memiliki balai penelitian kopi, sehingga menjadi pusat penelitian kopi di Indonesia," kata dia.

"Akibat kita tidak memiliki pusat penelitian kopi, petani di daerah ini lebih memilih mengambil bibit kopi dari berbagai orang, tanpa kejelasan genetik. Sehingga, hasilnya tidak seperti yang diharapkan," ujar Ruhdi.

Ads
Menurut dia, sebagai penghasil kopi di Asia Tenggara, salah satu dari tiga kabupaten tersebut seharusnya sejak lama menjadi pusat penelitian kopi di Indonesia.

"Kopi arabika sudah ada di Gayo sejak tahun 1908, kenapa kita tidak punya balai penelitian kopi, inilah kenapa saya katakan Pemerintah Daerah tidak punya visi misi yang jelas terhadap kopi," lanjut Ruhdi.

Kopi Gayo, kata Ruhdi, dikenal sebagai kopi spesial dan organik yang sangat disukai rasa dan aromanya, karena memiliki ciri khas tersendiri yang disukai konsumen dunia.

"Namun sayangnya, kita masih menjual kopi dalam bentuk mentah atau green been ke berbagai pasar di luar negeri," kata dia.

"Ke depan kita berharap, Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi Aceh mulai menjual kopi Gayo dalam bentuk setengah jadi atau roasted been, sehingga margin keuntungan lebih tinggi akan diperoleh petani lokal," paparnya.

Selama ini, margin keuntungan yang besar justru menjadi milik pengusaha dari luar negeri.

"Prospek kopi Gayo semakin cerah di masa depan, karena tren minum kopi kopi di dunia semakin meningkat. Sementara tidak semua kawasan di dunia bisa ditanami kopi, inilah kenapa peluang kopi Gayo semakin baik. Pemerintah Daerah harus mampu melihat peluang ini," kata Ruhdi. ***

(M Yamin Indra)
Kategori : Serbaneka
Sumber:Kompas.com
wwwwww