PotretNews.com Kamis 06 Agustus 2020
Home >  Berita >  Hukrim

Ya Allah, Ada Jasad ABK di Freezer Kapal Berbendera China yang Diamankan di Selat Philip Kepri

Ya Allah, Ada Jasad ABK di <i>Freezer</i> Kapal Berbendera China yang Diamankan di Selat Philip Kepri
Kamis, 09 Juli 2020 10:06 WIB

BATAM, POTRETNEWS.com — Dua kapal berbendera China Lu Huang Yuan Yu 117 dan 118 diamankan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) di perairan Batu Cula, Selat Philip, Belakang Padang, Batam, Kepulaun Riau (Kepri).

Menurut Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI Indarto Budiarto, penyergapan tersebut nyaris gagal karena kedua kapal hendak memasuki perairan Singapura.

”Kapal Lu Huang Yuan Yu 117 berbendera China ini nyaris gagal ditangkap karena nyaris masuk perairan Singapura, namun berkap kesigapan tim gabungan akhirnya berhasil dilumpuhkan," jelas Indarto, Rabu (8/7/2020), seperti dilansir kompas.com.

Indarto menjelaskan, setelah berhasil ditangkap, TNI AL menemukan jasad satu pekerja WNI yang disimpan di dalam freezer kapal Lu Huang Yu 118.

Korban merupakan ABK kapal tersebut bernama Hasan Afriandi asal Lampung. Selain itu, TNI AL juga menemukan ada 9 WNI yang bekerja di kapal tersebut. Lalu, di kapal Lu Huang Yuan Yu 117, TNI menemukan 12 WNI yang juga bekerja sebagai ABK.

”Jadi total seluruhnya ada 22 WNI yang dipekerjakan dari dua kapal nelayan berbendera China, yakni Lu Huang Yuan Yu 117 dan Lu Huang Yuan Yu 118," kata Indarto Budiarto saat melakukan pres rilis di Dermaga Lanal Batam, Rabu (8/7/2020).

Daftar nama ABK yang diselamatkan TNI AL Dalam jumpa pers, Indarto mengumumkan identitas WNI yang telah diselamatkan dari kedua kapal berbendera China tersebut.

Mereka adalah Siswandi asal Jakarta, Casipin asal Brebes, Ansor Azimi asal Sukabumi, Didi Nuriza asal Pemalang dan Samsul asal Tegal. Kemudian Budiyono asal Brebes, Muhammad Sokheh asal Tegal, Muhammad Iqbal asal Medan, Defi Nuriyanto asal Brebes, Jeremy Ricco asal Semarang, Ahmad Badowi asal Brebes serta Novantino asal Kediri.

”Ke-12 WNI tersebut berada di Kapal Lu Huang Yuan Yu 117," papar Indarto. Selanjutnya Pahlawan Parningotan Sibuea asal Medan, Deni Maulana asal Indramayu, Rahmad Abidin asal Sukabumi.

Agus Setiawan asal Lampung, Jonathan Witanto asal Tegal, Durahim asal Cirebon, Nana Suwarna asal Majalengka, Zenrahman asal Medan dan Ali al Hamzah asal Tegal.

”Terakhir Hasan Afriandi yang telah meningal dunia dan kesepuluh WNI ini berada di atas kapal Lu Huang Yuan Yu 118," pungkas Indarto.

Berawal dari laporan keluarga korban Indarto menjelaskan, penyergapan tersebut berawal dari laporan sejumlah keluarga korban. Keluarga mengaku sering mendengar keluhan sanak saudara mereka yang diperlakukan tidak manusiawi di kapal tersebut.

Setelah didalami, TNI AL segera menindaklanjuti laporan dari para keluarga korban itu. "Hingga akhirnya kami mendapatkan informasi dari tindak kekerasan tersebut menimbulkan satu korban hingga meninggal dunia," kata Indarto saat konferensi pers di Dermaga Lanal Batam, Rabu (8/7/2020).

Diduga korban trafficking Dari hasil penyelidikan sementara, para WNI tersebut diduga menjadi korban trafficking. Mereka, menurut Indarto, bekerja diatas kapal Lu Huang Yuan Yu 118 melalui agen PT Mandiri Tunggal Bahari (MTB) yang beralamat di Jl. Raya Majasem Talang, Kaladawa, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng).

Diketahui, nama direkturnya adalha Moh. Haji yang beralamat di Tegal, Jateng. Para WNI mulai bekerja sejak 1 januari 2020 hingga saat ini.

”Hasil keterangan sementara para WNI telah bekerja selama tujuh bulan atau sejak tanggal 1 Januari 2020 hingga saat ini," jelas Indarto.

Saat itu, ada para WNI, termasuk almarhum Hasan Afriandi berangkat dari Jakarta pada tanggal 31 Desember 2019 dengan tujuan bandara Changi, Singapura. Lalu setelah sampai di Singapura langsung diantarkan oleh agen ke atas kapal Lu Huang Yuan Yu 118.

Dari 32 kru yang bekerja di kapal itu, terdiri dari 10 WNI termasuk almarhum Hasan Afriandi dan 15 WNA asal China serta delapan WNA asal Filipina. Setelah itu, kapal bertolak dari Singapura ke perairan Argentina, tanggal 1 Januari 2020 untuk mencari cumi.

”Sampai saat ini, kasus ini masih dalam pengembangan sebab ada dugaan tindak penganiayaan, money laundering (pencucian uang) dan tindak perdagangan manusia," kata Indarto. ”Nanti akan dicek oleh pihak Polda Kepri dan Imigrasi, termasuk di dalamnya apakah ada narkoba,” pungkas Indarto. ***

Editor:
Akham Sophian

       
        Loading...    
           
Kategori : Hukrim
Loading...
www www