PotretNews.com Jum'at 13 Desember 2019

Viral soal Alat Pengukur Kualitas Udara yang Bertuliskan "Tinggalkan Riau", Kepala P3E Sumatra Angkat Bicara

Viral soal Alat Pengukur Kualitas Udara yang Bertuliskan Tinggalkan Riau, Kepala P3E Sumatra Angkat Bicara

Sebuah foto menampilkan alat yang menunjukkan tingginya indeks kualitas udara PM 2.5 di Pekanbaru, Riau.(Twitter: @Jaaaa_yn)

Sabtu, 14 September 2019 10:47 WIB

PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Kualitas udara di Pekanbaru, Riau memburuk akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak Selasa (10/9/2019).

Adapun kabut asap muncul disusul dengan keluhan masyarakat Pekanbaru yang mengalami sesak napas. Tak hanya mengakibatkan sesak napas, kabut asap juga membatasi jarak pandang pengendara bermotor.

Kemudian, salah satu pengguna Twitter @Jaaaa_yn mengunggah sebuah foto yang menampilkan alat bertuliskan indeks standar pencemar udara (ISPU) atau pollutant standard index (PSI). "TOLONG BANTU RETWEET. Pak @Jokowi Riauku sudah tak sehat lagi asap sudah ganas menyelimuti kami. Meninggalkan Riau? Pak kami di sini butuh bantuan, saat kebakaran hutan kembali terjadi, WAKIL RAKYAT TUTUP TELINGA! PEMERINTAH TUTUP MATA! MEDIA TUTUP MULUT! #RiauDibakarBukanTerbakar," tulis akun @Jaaaa_yn dalam twitnya pada Kamis (12/9/2019).

Tak hanya itu, alat tersebut juga menampilkan tulisan "TINGGALKAN RIAU !!" Ditampilkan juga pada alat terdapat kadar kandungan udara di Riau, seperti PM 2.5, SO2, CO, O2, dan NO2. Hingga kini, unggahan tersebut telah di-retwit sebanyak 29.600 kali dan disukai sebanyak 11.600 kali oleh pengguna Twitter lainnya.

Penjelasan KLHK
Saat dikonfirmasi, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera, Amral Fery mengungkapkan bahwa tulisan "Tinggalkan Riau" yang ramai di media sosial tersebut adalah tidak benar. "Tidak benar, itu berita bohong," ujar Amral kepada Kompas.com, Jumat (13/9/2019).

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Karliansyah mengungkapkan bahwa alat yang terpampang dalam foto viral memang merupakan milik KLHK.

"Iya milik KLHK. Itu tampilan dari alat Air Quality Monitoring Systems (AQMS) yang menunjukkan parameter kualitas udara secara kontinu dan realtime (sesaat atau saat itu)," ujar Karlainsyah, Jumat (13/9/2019).

Menurutnya, untuk menyatakan kualitas udara suatu kota yang sesungguhnya harus didasarkan pada data rata-rata harian atau rata-rata tahunan.

”Untuk data hari ini masih di-update," ujar Karliansyah. Selain itu, berdasarkan Data ISPU tanggal 13 September 2019 pukul 15.00 WIB yang dirilis oleh KLHK dan Dinas Lingkungan Hidup dan Provinsi Riau, Pekanbaru memiliki indeks kualitas udara sebesar 478. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas udara di Pekanbaru dalam kategori "Berbahaya".

Kualitas Udara
Kualitas udara dalam kategori "Baik" pada rentang 0-50, pada kategori ini tingkat kualitas udara tidak memberikan efek bagi manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan, ataupun nilai estetika.

Kemudian, kualitas udara dalam kategori "Sedang" pada rentang 51-100, pada kategori ini tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.

Selanjutnya, kualitas udara dalam kategori "Tidak sehat" pada rentang 101-199, pada kategori ini tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Kualitas udara dalam kategori "Sangat tidak sehat" pada rentang 200-299, pada kategori ini tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara, kualitas udara dalam kategori "Berbahaya" pada rentang 300 lebih, pada kategori ini tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius. ***

Berita ini telah tayang di kompas.com dengan judul "Viral soal Alat Pengukur Kualitas Udara yang Bertuliskan "Tinggalkan Riau", Ini Penjelasannya..."

Editor:
Akham Sophian

       
        Loading...    
           
Kategori : Pemerintahan, Pekanbaru
Loading...
www www