PotretNews.com Selasa 21 Agustus 2018
Home > Berita > Riau

Cerita tentang Parahnya Infrastruktur di Kampar; Jalannya Tanah, Jembatan Akses Menuju Desa Kebuntinggi Terbuat dari Kayu

Cerita tentang Parahnya Infrastruktur di Kampar; Jalannya Tanah, Jembatan Akses Menuju Desa Kebuntinggi Terbuat dari Kayu

Seorang nenek, warga Desa Balung Kecamatan XIII Koto Kampar berjalan di jembatan kayu.

Rabu, 05 April 2017 10:16 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Cerita tentang parahnya infrastruktur jalan menuju sejumlah desa di Kampar Kiri Hulu juga dikisahkan oleh komunitas 1.000 Guru Riau.
Saat kelompok ini melakukan survei sambil mengajar ke Desa Kebuntinggi, Kecamatan Kamparkiri Hulu, pada 21-22 Januari 2017, kesulitan mencapai lokasi karena tak memadainya sarana jalan menjadi cerita paling ”mengesankan”.

Diceritakan Zulfah selaku leader komunitas 1.000 Guru Riau, mereka tidak hanya menemukan sarana dan prasana pendidikan yang kurang memadai. Sebelum sampai di lokasi kegiatan, mereka harus berjibaku melawati jalanan tanah kuning, licin, tidak rata, hingga bebatuan.

Setiap jembatan penghubung yang mereka temui pun turut memberikan tantangan sebelum sampai di Desa Kebuntinggi.

Untuk dapat menaklukkan medan yang berat tersebut, tim 1.000 Guru Riau saat itu dibantu loleh komunitas mobil off road Suzuki Jip Pekanbaru (SJP), menggunakan mobil 4x4.

Berdasarkan laman tribunpekanbaru.com yang dilansir potretnews.com, Zulfah menuturkan, Desa Kebuntinggi merupakan satu dari empat daerah pelosok yang berada Kanagarian Pangkalankapas, Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Selain desa tersebut, tiga desa lainnya yakni Desa Lubukbigau, Desa Pangkalankapas dan Desa Tanjungpermai, dengan kondisi jalanan yang tidak jauh berbeda.

Dari Pekanbaru, untuk menuju Desa Kebuntinggi, tim survei 1.000 Guru Riau masuk melalui Simpang Gema yang terdapat di Kecamatan Lipatkain, Kabupaten Kampar.

Dari Simpang Gema, mereka terlebih dahulu melewati Desa Batusasak dengan kondisi jalan yang tidak semuanya mendapatkan pengaspalan. Setelah melalui Batusasak, rombongan lalu melintasi jalanan yang benar-benar membutuhkan konsentrasi ekstra.

"Berapa jaraknya kami tidak tahu pasti. Sebelum sampai ke Kebun Tinggi, dari Batu sasak terlebih dahulu kita melewati Desa Lubukbigau. Saya perkirakan dari Batu Sasak ke Lubukbigau lebih kurang 10 kilometer dengan lama perjalanan kurang lebih 3 jam, itu kita pakai mobil double gardan," tuturnya kepada Tribun, Rabu (29/3/2017) lalu, didampingi Eki, tim survei 1.000 Guru Riau.

Tidak hanya kondisi jalan yang menawarkan beragam risiko. "Sesampai di Lubuk Bigau, untuk ke Kebun Tinggi kami harus jalan kaki sejauh 2 kilometer, karena memang mobil tidak bisa sampai ke sana. Tapi kalau memaksa pakai mobil, harus masuk sungai dulu. Jadi kami putuskan mobil hanya sampai Lubukbigau," ucap Zulfah.

Secara keseluruhan, akses menuju Desa Kebuntinggi bisa dibilang sangat ekstrem. Selain jalan tanah, jembatan-jembatan penghubung pun seluruhnya terbuat dari kayu.

"Mobil yang melalui jalanan dan jembatan pun kami lihat berukuran besar. Kalau tidak salah ada pick up hingga colt diesel 6 roda dengan muatan yang cukup berat," tuturnya.

"Untuk jembatan-jembatan, kami lihat memang sebagian ada yang masih kokoh dengan catnya yang masih baru. Kalau bahan yang digunakan kayu," tambahnya.

Kata Zulfah, ketika melakukan eksplorasi di Kebuntinggi, tim 1.000 Guru Riau menemui salah satu jembatan rusak parah yang hanya bisa dilewati sepeda motor. Selain bahan kayunya yang telah lapuk, mereka pun melihat terdapat salah satu tiang penahan jembatan yang patah.

"Tapi warga tetap melewatinya karena memang nggak ada akses lain sepertinya. Tentu ini jadi hal yang sangat memprihatinkan," sebutnya. ***

Editor:
Fanny R Sanusi

Ads
Tour de Siak 2018
wwwwww