PotretNews.com Senin 17 Desember 2018
Home > Berita > Riau

Nilai Eskpor Sawit dan Migas Riau Anjlok Drastis Sepanjang 2016

Nilai Eskpor Sawit dan Migas Riau Anjlok Drastis Sepanjang 2016

Ilustrasi.

Rabu, 02 November 2016 18:49 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Nilai ekspor sektor unggulan Riau, minyak bumi dan crude palm oil tercatat anjlok selama sembilan bulan tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu.Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mengungkapkan nilai ekspor minyak bumi Januari hingga September hanya mencapai US$1,9 miliar turun 29% dibandingkan dengan tahun lalu mencapai US$2,7 miliar.

BACA JUGA:

. Waduh... Sepanjang Tahun 2016 Ini, Harga Sawit Diprediksi akan Tetap Lesu

Ads
. Harga Sawit Terjun Bebas, Warga Miskin Riau Bertambah

. Harga Sawit dan Karet Anjlok, Angka Kemiskinan di Riau Tahun 2015 Naik Jadi 8,42 Persen

. Tiongkok Negara Tujuan Ekspor Nonmigas Terbesar Riau

"Sedangkan nilai ekspor CPO turun 10,5%. Tahun ini, hanya US$4,6 miliar, sedangkan pada tahun lalu mencapai US$5,2 miliar," katanya saat diwawancarai, Selasa (1/11/2016), sebagaimana dikutip potretnews.com dari bisnis.com.

Aden Gultom mengayakan catatan tersebut berdasarkan freight on board. Dua sektor tersebut memberikan kontribusi yang besar terhadap total ekspor. Minyak bumi berkontribusi sebesar 20 persen dan CPO berkontribusi sebesesar 61 persen.

SIMAK:

. Mulai Februari 2017, Hanya Media Massa Terverifikasi Dewan Pers yang Boleh Meliput

Riau memiliki delapan blok migas yang terdiri dari Coastal Plain Pekanbaru, Malacca Strait, Kuantan Mountain, Rokan, Kampar, Siak, Selat Panjang dan Lirik. Riau juga merupakan daerah penghasil CPO terbesar di Indonesia dengan total produksi mencapai 9 juta ton per tahun.

Minyak bumi dan CPO diekspor ke India, China, Pakistan Belanda, Malaysia, Amerika Serikat dan beberapa negara lain. Pengiriman tersebut melalui Pelabuhan Dumai di Kota Dumai dan Pelabuhan Tanjung Buton di Kabupaten Siak.

Joko, Ekonom Universitas Suktan Syarif Kasim II, menanggapi nilai ekspor sektor unggulan Riau tersebut terus menunjukkan pelemahan di tahun ini. Dia menjelaskan melemahnya harga minyak dunia berimbas pada nilai ekspor sektor minyak bumi.

Adapun CPO, dipengaruhi oleh permintaan negara tujuan ekspor yanh cenderung fluktuaktif. "Nilai ekspor terus menunjukkan pelamahan karena kondisi perekonomian dunia yang belum membaik," kata Joko.

Melemahnya nilai ekspor tersebut juga akan berdampak besar terhadap perekonomian daerah. Dua sektor tersebut sangat bergantung dengan permintaan luar negeri. Joko mengkritisi untuk menghilangkan ketergantungan tersebut pemerintah harus membangun industri hilir CPO dan Migas.

Selain membangun industri hilir, Joko mengatakan pemerintah perlu memberikan tata niaga yang pasti dan efektif agar distribusi sektor-sektor unggulan Riau bisa membaik. Salah satu caranya dengan membentuk dan merevisi regulasi-regulasi untuk mengatur tata niaga. ***

Editor:
Fanny R Sanusi

Kategori : Riau, Umum
wwwwww